Adu Canggih Teknologi Pemadam Karhutla BRIN vs Dunia

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Indonesia pada musim kemarau 2026, terutama di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Kondisi kering yang masih berlangsung membuat pencegahan dan deteksi dini menjadi semakin penting sebelum titik api berkembang menjadi kebakaran berskala besar.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai penanganan karhutla membutuhkan integrasi berbagai data dan teknologi karena dipengaruhi banyak variabel, mulai dari kondisi cuaca, vegetasi, hingga karakter lahan.

Untuk mendukung penanganannya, lembaga tersebut telah mengembangkan sejumlah teknologi yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI), mulai dari sistem deteksi berbasis satelit hingga teknologi modifikasi cuaca.

Peran BRIN: Dari Riset hingga Teknologi Lapangan

Peran BRIN terutama berada pada sisi riset, pengembangan teknologi, dan penyediaan informasi yang kemudian digunakan oleh instansi operasional seperti Kementerian Kehutanan maupun lembaga penanggulangan bencana.

Salah satu pengembangannya adalah platform Geoinformatika Multi Input Multi Output (GEOMIMO).

Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai data penginderaan jauh dan algoritma sehingga informasi karhutla dapat digunakan mulai dari tahap pra-bencana hingga pascabencana. Teknologi ini juga memanfaatkan AI dan citra satelit untuk mendukung deteksi titik api.

Teknologi yang Disiapkan oleh BRIN

Ada tiga teknologi utama yang menonjol dari penjelasan Kepala BRIN, Arif Satria, pada Agustus 2026.

Pertama, GEOMIMO berbasis satelit dan AI.

Sistem ini mengintegrasikan citra satelit dengan kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi titik api. BRIN menyebut platform berbasis AI tersebut telah dikembangkan sejak beberapa waktu lalu dan telah diadopsi Kementerian Kehutanan.

Kedua, Dumakron untuk modifikasi cuaca.

BRIN mengembangkan bahan semai berupa garam atau NaClhigroskopis berukuran sekitar 2-5 mikron. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan penyebaran dilakukan menggunakan pesawat nirawak atau drone, dengan tujuan meningkatkan efisiensi proses modifikasi cuaca.

Ketiga, teknologi flare.

BRIN mengembangkan teknologi flare untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Flare digunakan untuk melepaskan partikel garam ke awan guna membantu proses pembentukan hujan. Teknologi ini menjadi salah satu alternatif metode penyebaran dalam operasi modifikasi cuaca dan dapat digunakan sesuai kondisi awan serta kebutuhan di lapangan

Bagaimana Dunia Menangani Karhutla?

Di tingkat global, teknologi penanganan kebakaran semakin berkembang ke arah deteksi near real-time, pemantauan berkelanjutan, AI, serta prediksi pergerakan api.

Di Amerika Serikat, teknologi penanganan kebakaran mulai menggabungkan AI, sensor, kamera, satelit, dan drone untuk mempercepat deteksi hingga respons awal. Pengembangan terbaru bahkan mengarah pada drone pemadam berbasis AI.\

Dalam kompetisi XPRIZE Wildfire di Alaska, salah satu sistem dilaporkan mampu mendeteksi dan memadamkan api terkendali dalam waktu kurang dari 12 menit tanpa keterlibatan manusia, menunjukkan arah teknologi menuju respons otomatis pada menit-menit pertama kebakaran.

Australia juga mengembangkan pendekatan berbasis AI melalui Bushfire Emerging Technologies Hub yang dibentuk Australian and New Zealand Council for fire and emergency services (AFAC).

Teknologi yang diuji mencakup AI untuk menentukan prioritas respons, sistem pada mobil pemadam yang dapat mengenali batas api secara real time, serta drone dan teknologi inframerah udara untuk mendeteksi api yang masih membara.

Kanada sementara itu mengembangkan WildFireSat, satelit khusus untuk memantau kebakaran yang ditargetkan meluncur pada 2029. Sistem ini dirancang menggabungkan informasi kebakaran dengan data angin, vegetasi, bentuk lahan, dan tingkat kekeringan untuk membantu memprediksi perilaku api serta menentukan kebakaran yang perlu diprioritaskan.

Bagaimana Posisi Teknologi BRIN?

Secara konsep, teknologi BRIN sudah bergerak ke arah yang sama dengan sistem global, terutama melalui penggunaan citra satelit, AI, drone, dan integrasi data. GEOMIMO memiliki fungsi yang sejalan dengan sistem seperti FIRMS dan Digital Earth Australia dalam menjadikan data penginderaan jauh sebagai dasar deteksi dan pengambilan keputusan.

Operasi water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (23/8). (Dok. BNPB)Operasi water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (23/8). (Dok. BNPB) Foto: Operasi water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (23/8). (Dok. BNPB)

Perbedaannya, sejumlah teknologi global mulai bergerak lebih jauh dari sekadar mendeteksi lokasi hotspot menuju pemantauan, prediksi, hingga respons awal secara real time. Pada sistem tertentu, keterlibatan manusia bahkan dapat diminimalkan sehingga proses deteksi hingga respons berlangsung dalam hitungan menit. Ini penting karena pada kebakaran hutan, kecepatan respons sangat menentukan apakah titik api dapat dikendalikan atau berkembang menjadi kebakaran besar.

Di sisi lain, BRIN memiliki pendekatan yang khas melalui modifikasi cuaca.

Dumakron dan flare memberi Indonesia instrumen untuk melakukan intervensi terhadap kondisi atmosfer ketika awan yang sesuai tersedia. Artinya, teknologi BRIN tidak hanya bergerak pada deteksi, tetapi juga pada upaya mitigasi kondisi kering yang dapat memperbesar risiko karhutla.

(Salma Laiqa/slm)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |