Alasan Wilayah Filipina dan Sulawesi Utara Rawan Gempa dan Tsunami

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah wilayah di Indonesia sempat diguncang gempa bumi dan mendapatkan peringatan tsunami karena gempa kuat yang terjadi di Filipina Selatan. Namun peringatan tersebut telah resmi dicabut.

Merujuk situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tsunami dikatakan berakhir sekitar pukul 10.15 WIB pada Senin 8 Juni 2026.

"Peringatan Dini TSUNAMI yang disebabkan oleh gempa Mag:7.7, 08-Jun-26 06:37:42 WIB, dinyatakan telah berakhir," tulis BMKG menyebut gempa 224 kilometer (km) Barat Laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara (Sulut).

Kejadian yang sama juga pernah terjadi Oktober tahun lalu. Di mana Gempa tektonik besar dengan parameter update berkekuatan M7,4 mengguncang wilayah Laut Filipina, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara pada hari Jumat 10 Oktober 2025 pukul 08:43:58 WIB.

Lantas, mengapa Kepulauan Filipina dan Sulawesi Utara rawan gempa?

Pakar gempa anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, mengungkap bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan, mengapa Kepulauan Filipina dan Sulawesi Utara rawan gempa dan tsunami

Pertama karena wilayah tersebut terletak di bagian lingkaran "Cincin Api Pasifik" (Ring of Fire), yaitu kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik paling aktif di dunia. Di wilayah ini sering terjadi gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami.

Kemudian Kepulauan Filipina dan Sulawesi Utara juga menjadi tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Laut Filipina (Philippine Sea Plate), Lempeng Laut Maluku dan pengaruh Lempeng Pasifik.

"Pertemuan lempeng-lempeng ini menyebabkan tekanan dan pergeseran kerak bumi yang memicu gempa baik di darat dan laut," ujar Daryono kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).

Selain itu, salah satu penyebab utama gempa kuat adalah aktivitas subduksi lempeng, yaitu proses ketika satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya.

Di kawasan Filipina dan Sulawesi Utara terdapat beberapa zona subduksi aktif, antara lain Palung Filipina (Philippine Trench), Palung Cotabato, Palung Sulawesi Utara, dan Palung Sangihe. Zona subduksi ini mampu menghasilkan gempa besar dan berpotensi tsunami.

Filipina dan Sulawesi Utara juga memiliki struktur tektonik yang rumit karena beberapa faktor yakni lempeng-lempeng tektonik bergerak dengan arah berbeda, kecepatan gerak lempeng relatif tinggi, dan terdapat mikro-lempeng kecil yang saling berinteraksi.

"Kondisi ini membuat akumulasi tegangan di kerak bumi terjadi lebih cepat dan sering dilepaskan dalam bentuk gempa," jelasnya

Lebih lanjut ia menjelaskan, ad banyak pusat gempa berada di dasar laut yang dalam. Jadi, ketika terjadi gempa kuat bawah laut, pergeseran dasar laut secara tiba-tiba dapat memindahkan massa air dan memicu tsunami.

"Karena itulah aktivitas gempa di Laut Maluku, Laut Sulawesi, dan di Lepas Pantai Mindanao sering memunculkan peringatan dini tsunami, baik untuk wilayah Indonesia maupun Filipina," tegasnya.

Banyak gempa di Filipina dan Sulawesi Utara memiliki kedalaman dangkal hingga menengah, sehingga getarannya terasa lebih kuat di permukaan. Jika magnitudonya besar dan terjadi di laut, potensi tsunami meningkat.

Jadi, karena letak geografisnya berdekatan, gempa kuat di Laut Filipina dan Lepas Pantai Mindano dapat memengaruhi wilayah Indonesia, terutama Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara.

"Gelombang tsunami dan getaran gempa kuat dapat menjalar lintas batas negara," pungkasnya.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat wilayah ini sering mengalami gempa kuat dan berpotensi tsunami.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |