Jakarta, CNBC Indonesia - Ulah Israel akhirnya bikin Amerika Serikat (AS) muak. Raksasa teknologi Meta asal AS melayangkan gugatan hukum ke pengadilan negeri federal melawan NSO Group, perusahaan spyware kawakan asal Israel.
Meta menilai NSO Group melanggar perintah pengadilan yang melarangnya untuk menargetkan WhatsApp dan para penggunanya di masa mendatang.
Menurut Meta, layanan pesan WhatsApp miliknya telah menggagalkan upaya 'spear phishing' baru yang terkait dengan NSO Group. Spear phising adalah serangan penipuan online yang sangat tertarget.
Biasanya modus spear phishing akan meneliti target korban secara mendalam untuk mencuri data sensitif seperti password dan informasi keuangan. Modus ini bisa merugikan korban, mulai dari pencurian identitas hingga pembobolan akun keuangan.
NSO Group sendiri merupakan entitas yang masuk daftar hitam pemerintah AS karena terlibat dalam aktivitas yang bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional atau kebijakan luar negeri.
Upaya-upaya spear phishing yang dilancarkan NSO Group serupa dengan "kampanye phishing 1-klik" sebelumnya, yang bertujuan untuk mengelabui pengguna agar mengklik tautan berbahaya dan mengarahkan mereka ke situs web eksternal, kata Meta dalam sebuah postingan blog.
"1-klik" adalah jenis serangan siber di mana satu klik pada tautan atau lampiran berbahaya sudah cukup untuk membahayakan perangkat atau akun korban, tanpa mengharuskan mereka untuk memasukkan kredensial mereka.
Meta mengatakan WhatsApp telah menghapus akun dan grup uji yang dibuat oleh NSO Group di platformnya. NSO Group tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Tahun lalu, pengadilan AS memerintahkan NSO Group untuk berhenti menargetkan WhatsApp milik Meta, sebuah perkembangan yang menurut perusahaan spyware tersebut dapat membuatnya bangkrut.
Meskipun putusan tersebut secara signifikan mengurangi ganti rugi hukuman yang harus dibayarkan NSO Group kepada Meta menjadi US$4 juta dari awalnya $167 juta, perintah pengadilan itu sendiri dipandang sebagai tantangan besar bagi perusahaan asal Israel.
NSO Group juga menghadapi tuduhan berkelanjutan karena memungkinkan pelanggaran hak asasi manusia melalui alat peretasan Pegasus miliknya.
Meta mengatakan pada Senin (8/5) bahwa bulan lalu mereka bergabung dengan 12 organisasi hak sipil terkemuka, sebuah koalisi peneliti keamanan, pendukung privasi, dan pakar hak digital, yang mengajukan amicus brief mereka untuk melawan banding NSO Group terhadap perintah pengadilan tetap.
(fab/fab)
Addsource on Google

3 hours ago
4
















































