AS Batasi Intelijen ke Korsel Usai Pernyataan "Offside" Nuklir Korut

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dilaporkan membatasi sebagian pertukaran intelijen dengan Korea Selatan (Korsel). Langkah ini menyusul pernyataan pejabat Seoul yang mengungkap lokasi fasilitas nuklir Korea Utara yang diduga sensitif.

Media Korea Selatan melaporkan pembatasan ini terutama menyasar data satelit terkait teknologi Korea Utara. Langkah tersebut diambil setelah Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong-young, secara terbuka menyebut adanya fasilitas pengayaan uranium di Kusong, wilayah barat laut Korea Utara yang sebelumnya belum pernah dikonfirmasi secara resmi.

Dalam pernyataannya kepada parlemen pada Maret lalu, Chung menyebut Kusong sebagai salah satu lokasi nuklir selain Yongbyon dan Kangson yang telah lebih dulu diketahui.

Seorang pejabat militer senior mengatakan kepada kantor berita Yonhap bahwa Washington telah memberlakukan pembatasan parsial sejak awal bulan ini. Meski demikian, pemantauan aktivitas rudal Korea Utara tetap berjalan normal dan kesiapan militer tidak terdampak.

"Pengawasan terhadap aktivitas rudal terus berlanjut seperti biasa dan kesiapan militer tetap tidak terpengaruh," ujar pejabat tersebut, seperti dikutip The Guardian, Rabu (22/4/2026).

Langkah AS ini disebut-sebut dipicu kekhawatiran bahwa informasi sensitif telah diungkap tanpa izin. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS terkait kebijakan tersebut.

Chung membantah telah membocorkan informasi rahasia. Ia menegaskan bahwa pernyataannya bersumber dari data yang tersedia untuk publik.

"Ini adalah informasi terbuka," kata Chung kepada wartawan. Ia juga merujuk pada laporan think tank AS tahun 2016 serta pemberitaan media Korea Selatan.

Chung bahkan mengaku bingung mengapa pernyataannya kini dipermasalahkan, padahal ia pernah menyebut lokasi Kusong dalam sidang konfirmasi tahun lalu tanpa kontroversi.

Presiden Korsel Lee Jae Myung turut membela menterinya. Ia menegaskan bahwa informasi mengenai Kusong telah lama beredar di publik.

"Segala klaim bahwa Menteri Chung membocorkan informasi rahasia dari Amerika Serikat adalah salah," tulis Lee dalam pernyataannya saat kunjungan ke India. "Saya perlu memahami mengapa situasi absurd seperti ini bisa terjadi."

Ketegangan ini menambah daftar dinamika dalam hubungan aliansi AS-Korsel. Media lokal melaporkan bahwa Washington juga memiliki sejumlah keberatan lain, termasuk rencana undang-undang di Seoul terkait akses ke zona demiliterisasi (DMZ).

Di dalam negeri, oposisi konservatif mendesak pemecatan Chung. Partai Kekuatan Rakyat bahkan menyebut pernyataannya sebagai "bencana keamanan yang jelas".

Sementara itu, Kementerian Unifikasi Korsel menegaskan tidak ada informasi rahasia yang dibocorkan dan komunikasi dengan pihak AS telah dilakukan. Kementerian Pertahanan juga menyatakan kerja sama militer kedua negara tetap berjalan erat.

Di tengah polemik ini, kekhawatiran terhadap program nuklir Korea Utara terus meningkat. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, baru-baru ini mengungkap adanya lonjakan aktivitas di fasilitas nuklir Yongbyon.

"Semua ini menunjukkan peningkatan yang sangat serius dalam kemampuan Korea Utara di bidang produksi senjata nuklir," ujar Grossi. "Diperkirakan jumlah hulu ledak mereka kini mencapai beberapa lusin."

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |