AS-China Bertemu, Ini Kekuatan Kedua Negara dan Bocoran Agendanya

2 hours ago 3

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

10 May 2026 16:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melangsungkan pertemuan strategis di Beijing pada 14 dan 15 Mei 2026. Pertemuan ini merupakan agenda tatap muka pertama dari empat rangkaian yang direncanakan sebelum akhir 2026.

Pengamat internasional sering melabeli AS dan China sebagai "G2", dua kekuatan yang mendikte arah perekonomian dunia. Interaksi kedua pemimpin memegang peranan esensial, berdampak masif pada masa depan AI, arsitektur rantai pasok global, hingga resolusi konflik di Taiwan dan Timur Tengah yang sedang terjadi saat ini.

Hubungan Washington dan Beijing saat ini berada pada titik fluktuatif. Kepemimpinan AS cenderung menggunakan pendekatan transaksional, sementara China mengadopsi postur yang makin asertif.

Keduanya memandang ketergantungan ekonomi dan teknologi sebagai risiko keamanan nasional. Harapan terobosan diplomatik besar dianggap terlalu optimis, sehingga target realistis yang bisa dicapai adalah meredam konflik merusak dan menemukan keseimbangan minimal agar stabilitas pasar global terjaga.

Konsentrasi Perekonomian Global dan Pergeseran Kekuatan

Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional dalam World Economic Outlook edisi April 2026, nilai Produk Domestik Bruto global diperkirakan menembus US$ 126 triliun. Data fundamental ini menyoroti perekonomian dunia yang sangat terkonsentrasi.

Empat negara utama, yakni AS, China, Jerman, dan Jepang, secara akumulatif menguasai sekitar separuh aktivitas ekonomi global. AS absolut mendominasi dengan proyeksi PDB mencapai US$ 32,38 triliun, merepresentasikan 25,6% dari output global. Posisi kedua ditempati China dengan PDB sebesar US$ 20,85 triliun atau mencakup pangsa 16,5%.

Tingkat pertumbuhan kedua negara menunjukkan polarisasi. Pada 2026, AS diproyeksikan tumbuh di level 2,3%, sementara China memimpin laju ekspansi dengan angka 4,4%.

Pencapaian China ini diraih di tengah hambatan domestik berat, termasuk perlambatan demografis dan krisis sektor properti. Kondisi ini kontras dengan stagnasi Jerman dan Jepang yang diproyeksikan hanya tumbuh di kisaran 0,7% hingga 0,8%.

Selain PDB, kekuatan riil kedua negara tercermin dari kapasitas ekspor mereka di pasar global. Memasuki kuartal kedua 2026, performa perdagangan luar negeri kedua raksasa ini tetap solid meski dibayangi tarif tinggi.

Data terbaru menunjukkan bahwa total ekspor Amerika Serikat pada Maret 2026 mencapai US$ 320,85 miliar. Sementara itu, China mencatatkan kinerja yang lebih agresif dengan total ekspor pada April 2026 sebesar US$ 359,44 miliar.

Tingginya angka ekspor China ini menegaskan peran negara tersebut sebagai pusat manufaktur dunia, sementara ekspor Amerika Serikat didorong oleh sektor teknologi, jasa, dan energi.

Dinamika ekonomi juga diwarnai pergeseran poros menuju Asia. India diproyeksikan mencetak pertumbuhan agresif 6,6% dengan PDB US$ 4,15 triliun, membuka peluang menggeser Inggris dan Jepang pada 2028.

Indonesia mempertahankan posisi strategis dengan proyeksi PDB US$ 1,54 triliun dan pertumbuhan stabil 5%, meski menghadapi tekanan manufaktur akibat tensi geopolitik. Di sisi lain, kebijakan tarif tinggi AS sejak 2025 memberikan efek kejut pada mitra dagang tradisional seperti Kanada dan Meksiko.

Valuasi Pasar Ekuitas dan Akumulasi Investasi Asing

Dominasi AS terlihat absolut ketika menganalisis metrik valuasi pasar ekuitas global. Berdasarkan indikator S&P Global BMI, bursa saham AS menguasai 61,0% dari kapitalisasi pasar seluruh dunia.

Sebaliknya, China yang menduduki peringkat keempat hanya menyumbang 2,8% dari total valuasi ekuitas global. Disparitas ekstrem ini merepresentasikan tingkat kematangan infrastruktur pasar modal, transparansi tata kelola, dan partisipasi masif investor institusional internasional di Wall Street.

Kendati tertinggal di pasar ekuitas publik, China menunjukkan ketangguhan menarik Penanaman Modal Asing langsung. AS masih memimpin dengan total akumulasi stok investasi asing US$ 10,5 triliun yang mencakup 23,7% pangsa global.

Namun, China mengkonsolidasikan posisinya di urutan kedua dengan akumulasi US$ 3,8 triliun atau setara 8,6% pangsa global. Daya tarik China bagi bisnis multinasional tetap solid terlepas hambatan regulasi dan tensi geopolitik, terlihat dari lonjakan tajam investasi asing dibandingkan 2012 yang baru mencapai US$ 950 miliar.

Kebuntuan Tarif dan Restrukturisasi Neraca Perdagangan

Agenda utama yang akan mendominasi perundingan di Beijing adalah sengketa perdagangan bilateral. Selama satu dekade, kedua negara terjebak konflik ekonomi yang saling merugikan.

Eskalasi memuncak pada awal 2025 ketika tarif dikenakan melampaui level 100%. Situasi beralih ke fase penurunan tarif minor atau gencatan senjata, namun realitanya adalah kebuntuan strukturalChina memegang kendali pasokan logam tanah jarang, sementara AS membatasi arus modal dan menerapkan sanksi ekspor teknologi tinggi.

Risiko miskalkulasi kebijakan perdagangan masih mengintai. AS tengah menyelidiki kelebihan kapasitas industri dan praktik kerja paksa di China, yang berpotensi menjadi landasan menaikkan tarif lagi.

Sebagai perlawanan, Beijing pada 2 Mei 2026 mengaktifkan instrumen pemblokiran yang memberi wewenang sanksi finansial kepada perusahaan multinasional yang mematuhi sanksi AS. Kebijakan ini memaksa eksekutif global memilih blok ekonomi prioritas mereka.

Data mencatat kontraksi signifikan pada defisit perdagangan barang AS terhadap China. Defisit yang memuncak pada angka US$ 382,28 miliar di 2022 terus menunjukkan tren penyusutan.

Pada 2025, angka defisit berhasil ditekan turun menjadi US$ 202,07 miliar. Memasuki kuartal pertama 2026, total defisit tercatat US$ 33,49 miliar. Penurunan impor AS dari China mengonfirmasi efektivitas restrukturisasi rantai pasok global dan dampak tarif proteksionis.

Konstelasi Geopolitik, Keamanan Siber, dan Teknologi Masa Depan

Sementara delegasi Amerika Serikat berusaha memusatkan negosiasi secara eksklusif pada ranah perdagangan murni, Beijing melihat celah strategis dari gaya negosiasi Presiden Trump yang transaksional dan sulit diprediksi.

Terdapat kekhawatiran di kalangan sekutu Barat bahwa Amerika Serikat mungkin akan melonggarkan komitmen keamanannya terhadap Taiwan demi mengamankan kesepakatan dagang domestik. Pejabat China mengisyaratkan bahwa kompromi atas Taiwan, seperti pemangkasan suplai senjata militer, akan dikompensasi dengan kelonggaran akses pasar.

Namun, mengorbankan Taiwan dinilai sebagai kesalahan geopolitik yang fatal dan sembrono, mengingat peran esensialnya sebagai produsen cip semikonduktor paling vital yang menopang arsitektur teknologi global serta stabilitas di kawasan Asia.

Di teater geopolitik lainnya, berbagai krisis menuntut perhatian meskipun resolusi komprehensif sangat sulit dicapai dalam pertemuan Mei ini. Pendekatan militer Amerika Serikat terhadap Iran dipandang sebagai blunder strategis, yang kini dimanfaatkan oleh China melalui manuver diplomasi secara aktif, termasuk pertemuan tingkat tinggi dengan Menteri Luar Negeri Iran.

Sementara itu di Eropa Timur, posisi moral China dipertanyakan akibat dukungan ekonomi tidak langsungnya terhadap Rusia. Melalui pembelian energi secara konsisten dan suplai teknologi fungsi ganda, langkah China secara efektif membantu memperpanjang konflik di Ukraina. Sayangnya, upaya menekan isu-isu krusial ini diprediksi hanya akan menjadi catatan pinggir dalam diskusi kedua pemimpin.

Pada akhirnya, dunia sangat membutuhkan kepemimpinan bersama untuk merespons ancaman eksistensial seperti proliferasi kecerdasan buatan, bio-security, dan pencegahan pandemi di masa depan.

Meskipun perusahaan dari kedua negara memonopoli inovasi kecerdasan buatan, penyusunan standar tata kelolanya justru terhambat oleh kompetisi dominasi bergaya Perang Dingin.

Berbeda dengan era Perang Dingin di mana negara adidaya masih dapat menyepakati pakta krusial, pemimpin Amerika Serikat dan China saat ini cenderung memandang kerja sama sebagai jebakan regulasi yang dapat dieksploitasi oleh pihak lawan.

Ketiadaan kolaborasi pada isu-isu keselamatan publik ini menegaskan bahwa diplomasi yang terjalin murni dimotivasi oleh ketakutan akan kehancuran ekonomi bersama, bukan oleh visi untuk menstabilkan tatanan dunia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |