AS-Rusia-China Gelar Pertemuan '3 Mata' Senjata Nuklir, Apa Hasilnya?

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menggelar serangkaian pertemuan di Jenewa, Swiss, dengan delegasi Rusia dan China. Pertemuan ketiganya dilakukan untuk membahas senjata nuklir.

Langkah ini diambil setelah perjanjian terakhir New START (for Strategic Arms Reduction Treatyyang membatasi pengerjaan nuklir antara Washington dan Moskow resmi berakhir. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut dilakukan secara maraton dengan berbagai pihak terkait.

"Hari ini, saya bertemu dengan delegasi Rusia. Besok, kami akan bertemu dengan delegasi China, di antara delegasi lainnya," ujar pejabat senior tersebut kepada wartawan di Jenewa dengan syarat anonimitas pada Senin, dikutip AFP Rabu (25/2/2026).

Sebelumnya, Amerika Serikat telah mengadakan pertemuan persiapan dengan Rusia dan China di Washington setelah perjanjian New START habis masa berlakunya awal bulan ini. Namun, pejabat tersebut menekankan bahwa rangkaian pertemuan yang berlangsung di Jenewa kali ini bersifat sedikit lebih substantif.

Selain itu, Washington dilaporkan telah menjalin komunikasi intensif dengan negara-negara kekuatan nuklir lainnya dalam beberapa waktu terakhir. AS berbicara dengan kekuatan nuklir lainnya, yakni Inggris dan Prancis dalam beberapa kesempatan selama beberapa minggu terakhir.

Perlu diketahui, New START merupakan satu-satunya perjanjian tersisa antara Amerika Serikat dan Rusia yang membatasi penempatan hulu ledak nuklir. Perjanjian tersebut kedaluwarsa pada 5 Februari seiring dengan seruan Presiden AS Donald Trump untuk membentuk kesepakatan baru yang turut melibatkan Beijing ke dalamnya.

Serang China

Meskipun persenjataan nuklir China masih jauh lebih kecil dibandingkan Rusia dan AS, namun pertumbuhannya dinilai sangat cepat. Selama ini, China secara terbuka menolak seruan untuk masuk ke dalam negosiasi perjanjian tiga arah yang baru tersebut.

Asisten Sekretaris Negara AS untuk Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi, Christopher Yeaw, menyampaikan kritik tajam terhadap pakta lama tersebut. Bahkan ia mengatakan New START cacat karena China.

"New START memiliki cacat serius dan tidak memperhitungkan pembangunan senjata nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan oleh China," tegas Yeaw.

Pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan keras dari Duta Besar China, Shen Jian. Dalam konferensi yang sama, Shen menegaskan bahwa Beijing tidak memiliki niat untuk ikut serta dalam perlombaan senjata global.

"China tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir dengan negara mana pun," kata Shen Jian membela posisi negaranya.

Lebih lanjut, Shen menjelaskan bahwa skala kekuatan nuklir negaranya tidak bisa disamakan dengan dua raksasa nuklir dunia, yakni AS dan Rusia. Oleh karena itu, ia menilai usulan negosiasi trilateral tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

"Persenjataan nuklir China tidak berada dalam liga yang sama dengan negara-negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar. Tidak adil, tidak masuk akal, atau tidak realistis mengharapkan China untuk berpartisipasi dalam apa yang disebut pembicaraan trilateral," ungkapnya.


Sikap Trump Saat Ini 

Di sisi lain, pejabat senior AS menyebutkan bahwa Presiden Trump terus mendorong adanya dialog stabilitas strategis dan negosiasi pengendalian senjata dalam format yang lebih luas. Hal ini diharapkan dapat membuahkan hasil kesepakatan yang lebih komprehensif di masa depan.

"Langkah logis dan alami berikutnya adalah membawa masalah ini ke P5, yakni lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB: Amerika Serikat, Rusia, dan China, ditambah Inggris dan Prancis, yang juga merupakan negara pemilik senjata nuklir," jelas pejabat itu.

Kendati demikian, Washington menyatakan tetap fleksibel terhadap segala format diskusi yang ada. Opsi pertemuan bilateral, multilateral, maupun plurilateral tetap dibuka lebar demi mencapai tujuan pengurangan senjata nuklir dunia.

"Kami tidak akan membatasi diri pada format negosiasi atau dialog tertentu. Kami akan menggunakan setiap alat dan format yang kami bisa, dan itu akan membuahkan kemajuan menuju tujuan kesepakatan yang lebih baik menuju pengurangan senjata nuklir," pungkasnya.

(tps/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |