Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengamankan pasokan minyak mentah (crude oil) dari Rusia untuk kebutuhan selama satu tahun ke depan.
Menurut Bahlil, kesepakatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengamankan pasokan dan menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.
"Kemarin kita di Rusia. Di Rusia kita udah dapat satu tahun ini clear. Jadi untuk stok crude kita satu tahun ke depan Insya Allah sudah selesai," kata Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).
Dia menjelaskan, kepastian pasokan minyak dari Rusia ini salah satu faktor yang membuat ketahanan energi RI semakin meningkat, di antara sejumlah faktor lainnya.
Dia membeberkan sejumlah faktor yang mampu meningkatkan ketahanan energi RI di tengah gejolak Timur Tengah, antara lain diversifikasi sumber energi, besarnya cadangan batu bara dalam negeri, hingga optimalisasi pemanfaatan sawit untuk menggantikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar.
Ia lantas menyinggung bahwa dengan upaya yang dilakukan pemerintah tersebut, JP Morgan menilai posisi Indonesia cukup kuat dalam menjaga stabilitas energi.
"JP Morgan mengeluarkan data dia yang dikutip oleh beberapa media, bahwa dari 52 negara yang disurvei, Indonesia menempatkan urutan kedua setelah Afrika Selatan sebagai negara ketahanan energi terbaik," kata Bahlil.
Meski demikian, ia menilai kondisi energi nasional masih menghadapi berbagai tantangan dan belum sepenuhnya ideal.
Ia menyoroti perubahan posisi Indonesia yang dulunya merupakan eksportir minyak dan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), namun kini beralih menjadi negara importir.
Adapun, saat ini produksi minyak dalam negeri hanya mencapai 605 ribu barel per hari (bph), sementara konsumsi nasional sudah menyentuh 1,6 juta barel per hari.
"Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi," kata Bahlil.
Namun demikian, pada tahun 2025 RI mencatat satu capaian yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, produksi minyak nasional berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam APBN.
Penurun produksi terjadi lantaran ribuan sumur minyak di Indonesia sudah sangat tua dimana sebagian warisan era kolonial Belanda dibiarkan tidak produktif meski cadangan di dalamnya masih ada.
Oleh sebab itu, pemerintah mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk menggunakan teknologi baru agar sumur-sumur itu bisa kembali berproduksi dengan kompensasi berupa insentif dari negara serta melibatkan masyarakat setempat untuk turut mengelola sumur minyak secara legal.
Pasokan Minyak dari Rusia
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo mengatakan Indonesia akan mendapatkan 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Pasokan minyak tersebut diperoleh dengan harga khusus yang sudah disepakati.
Kesepakatan mengenai harga tersebut merupakan hasil dari kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Kerja sama itu menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan pengadaan minyak mentah bagi Indonesia.
"Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi," ucap Hashim saat memberikan acara Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta, dikutip beberapa waktu yang lalu.
Hashim menjelaskan, awalnya dalam pertemuan dengan Putin, Rusia menyetujui mengirim 100 juta barel dengan harga khusus. Akan tetapi, jumlah itu akan ditambah Rusia sebesar 50 juta barel untuk Indonesia dalam menghadapi gejolak dunia.
"Dia (Prabowo Subianto) ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia. 100 juta barel dengan harga khusus. Dan apabila Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta," tuturnya.
Kesepakatan dengan Rusia terkait komoditas emas hitam tersebut sebagai upaya dalam ketahanan energi dalam negeri, utamanya terhadap dampak perang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
(wia)
Addsource on Google

4 hours ago
3
















































