Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pusat data PT Indointernet Tbk (EDGE) berencana untuk melakukan delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring langkah go private. EDGE menawarkan pembelian kembali saham publik melalui tender offer di harga premium Rp11.500 per saham.
Mengutip keterbukaan informasi BEI, rencana go private dan delisting tersebut akan terlebih dahulu dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Jika disetujui, pemegang saham pengendali melalui Digital Edge (Hong Kong) Ltd (DE) akan melaksanakan penawaran tender sukarela.
DE akan membeli sebanyak-banyaknya 159.598.500 saham atau setara 7,90% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Dana untuk pelaksanaan tender offer ini berasal dari sumber internal dan/atau pendanaan lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
"Sebagai informasi, nilai Rp11.500 per Saham merupakan harga premium yang 141,2% lebih tinggi dari harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di BEI dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum pengumuman RUPS untuk Rencana Go Private dan Delisting yaitu Rp4.768," sebagaimana dikutip Senin, (20/4/2026).
Apabila rencana go private dan delisting disetujui serta tender offer selesai dilaksanakan, EDGE akan berubah status menjadi perusahaan tertutup. Dalam kondisi tersebut, pemegang saham publik yang tidak ikut tender akan tetap memegang saham namun tidak dapat lagi memperdagangkannya di BEI.
Jumlah pemegang saham perseroan juga akan berkurang menjadi di bawah 50 pihak atau sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini menandai berakhirnya status EDGE sebagai perusahaan terbuka di pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, Direktur Utama Indointernet, Andrew Joseph Rigoli, menjelaskan bahwa EDGE merupakan bagian dari Digital Edge Group yang bergerak di bidang infrastruktur digital, termasuk pusat data dan serat optik. Meski sektor data center masih bertumbuh, persaingan industri dinilai semakin ketat.
Manajemen mengungkapkan dua pertimbangan utama di balik rencana delisting tersebut.
Pertama, perseroan ingin menyederhanakan proses pengambilan keputusan dan meningkatkan fleksibilitas dalam menjalankan strategi serta investasi jangka panjang di tingkat grup, yang dinilai lebih optimal jika dilakukan sebagai perusahaan tertutup.
Kedua, likuiditas saham EDGE di pasar dinilai terbatas, sehingga status sebagai perusahaan tercatat dianggap kurang memberikan nilai tambah.
Selain itu, proses go private dan voluntary delisting disebut dapat memberikan mekanisme keluar yang adil dan teratur bagi pemegang saham publik.
EDGE diketahui melantai perdana di BEI pada 8 Februari 2021, artinya perusahaan baru 5 tahun menjadi perusahaan publik. Kala itu perusahaan menawarkan harga saham Rp 7.375 per saham dan mampu meraih dana bersih RP 596 miliar.
Pada tahun 2023 perusahaan melakukan stock split dengan rasio 1:5, artinya harga IPO saham EDGE setara Rp 1.475 per saham dibandingkan dengan harga saham saat ini yang telah disuspensi di harga Rp 4.790 per saham. Artinya sejak IPO saham EDGE telah melesat 224%.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

5 hours ago
3
















































