Breaking: Trump Batal Serang Iran Selasa Ini, 3 Raja 'Turun Gunung'

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan secara mendadak bahwa dirinya membatalkan rencana untuk menyerang Iran pada hari Selasa. Keputusan krusial ini diambil setelah para pemimpin dari tiga kekuatan regional di Timur Tengah meminta dirinya untuk menahan diri dari tindakan militer tersebut.

Mengutip laporan CNBC International, Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui sebuah unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social. Dirinya menyatakan telah memberikan instruksi langsung kepada jajaran tertinggi militer AS mengenai pembatalan operasi udara agresif tersebut karena adanya permohonan diplomatik khusus dari para sekutu dekatnya di Timur Tengah.

Trump menjelaskan bahwa keputusan ini murni diambil untuk menghormati permintaan langsung dari para pemimpin Arab. Mereka adalah Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

"Saya telah menginformasikan kepada para pemimpin militer AS bahwa kita TIDAK akan melakukan serangan terjadwal terhadap Iran besok mengingat adanya permintaan dari Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan," tulis Donald Trump dalam unggahannya di Truth Social, dikutip Selasa (19/5/2026).

Sebelum adanya unggahan tersebut, sebenarnya tidak ada indikasi jelas bahwa AS tengah bersiap untuk menggempur Iran pada hari Selasa yang otomatis bakal merobek sisa-sisa kesepakatan gencatan senjata di antara kedua negara. Namun dalam wawancara terpisah dengan New York Post pada Senin pagi, Trump sempat melempar gertakan bahwa Teheran sebenarnya sudah mengetahui apa yang akan segera terjadi, meski dirinya menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Trump sebelumnya mempertimbangkan untuk melanjutkan operasi militer aktif setelah respons terbaru Teheran dalam negosiasi kesepakatan damai dinilai tidak memadai. Berbicara dalam sebuah acara di Gedung Putih pada Senin sore, sang presiden membenarkan bahwa militer AS sebenarnya sudah berada dalam posisi siap tempur untuk menghancurkan Iran.

Trump membeberkan bahwa perintah penundaan ini bersifat sementara. Ia sembari melihat perkembangan proses negosiasi.

"Kami sedang bersiap untuk melakukan serangan yang sangat besar besok. Saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan mungkin selamanya, tetapi kemungkinan untuk sementara waktu karena kita telah melakukan diskusi yang sangat besar dengan Iran, dan kita akan melihat apa hasilnya," ujar Donald Trump di Gedung Putih.

Trump juga menambahkan bahwa penundaan operasi militer ini hanya diberikan dalam tenggat waktu yang sangat singkat. Dirinya pun menegaskan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh pihak Teheran agar eskalasi senjata ini bisa dihentikan sepenuhnya.

"Saya telah diminta oleh banyak negara untuk menunda serangan massal terhadap Iran selama dua atau tiga hari, waktu yang singkat, karena mereka berpikir bahwa mereka sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan," tutur Trump menjelaskan.

"Jika Iran merasa puas dengan kesepakatan di mana mereka tidak mendapatkan senjata nuklir, kita mungkin juga akan merasa puas," kata Trump menambahkan.

Melalui unggahan media sosialnya pada Senin, Trump mengklaim bahwa ketiga pemimpin regional tersebut meminta penundaan karena melihat adanya titik terang dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Para pemimpin Arab menilai kesepakatan damai yang akan dihasilkan nanti bakal menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam konflik geopolitik ini.

Trump menuliskan ekspektasi tingginya terhadap draf kesepakatan baru yang sedang digodok para mitranya.

"Negosiasi serius sekarang sedang berlangsung, dan menurut pendapat mereka, sebagai Para Pemimpin Besar dan Sekutu, sebuah Kesepakatan akan tercapai, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua Negara di Timur Tengah, dan sekitarnya. Kesepakatan ini, yang terpenting, akan mencakup TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!" tulis Trump menegaskan.

Kendati membatalkan serangan untuk hari Selasa, Presiden AS tetap memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk tetap berada dalam siaga satu. Dirinya menginstruksikan pasukannya untuk langsung bergerak melakukan serangan skala penuh tanpa penundaan sedikit pun jika draf kesepakatan damai tersebut berakhir buntu.

Di saat situasi Washington sedang genting, Hegseth dilaporkan melakukan perjalanan ke Kentucky pada Senin untuk menghadiri acara politik bersama kandidat DPR dari Partai Republik guna menantang petahana Thomas Massie yang ingin didepak oleh Trump dari Kongres. Sementara itu di medan konflik, AS dan Iran saat ini masih terjebak dalam jalan buntu militer dan ekonomi yang berpusat di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak global vital yang telah dikepung oleh aksi saling blokade selama perang berlangsung hingga mencegah sebagian besar kapal untuk melintas.

Perebutan kendali atas selat strategis tersebut telah sangat merusak kondisi gencatan senjata yang sudah goyah. Meskipun gencatan senjata yang dimulai hampir enam minggu lalu secara nominal masih berlaku, namun di lapangan kesepakatan tersebut telah berulang kali dinodai oleh pertempuran, bahkan Trump pada pekan lalu sempat melontarkan pernyataan sinis bahwa kondisi gencatan senjata tersebut saat ini sedang dalam kondisi kritis.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |