Breaking: Trump dan Xi Jinping Bertemu di China 14-15 Mei, Bahas Iran?

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 14-15 Mei. Di sana, ia akan bertemu dengan Presiden pemimpin Xi Jinping.

Ini merupakan kelanjutan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang dilakukan kedua negara sebulan lalu. Trump menunda pertemuan sebelumnya karena perang Iran.

Lalu apa yang akan dibahas?

1.Yang Diinginkan China?

Di luar basa-basi diplomatik dan di balik pintu tertutup, China diyakini akan mencari "pencapaian kecil dan konkret" dari AS. Tetapi, sikap China diyakini tetap "pragmatis secara realistis", mengingat sifat Trump yang tidak dapat diprediksi.

"China menginginkan pemulihan hubungan yang luas tetapi tahu ini tidak mungkin terjadi," kata analis dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Singapura, Benjamin Ho, dimuat AFP.

Hal ini tentu terkait ketegangan yang melibatkan AS-China. Beijing dan Washington telah terlibat dalam perang dagang yang sengit di mana bea masuk AS atas banyak barang Tiongkok mencapai angka yang sangat tinggi, yaitu 145%.

Eskalasi saling balas dendam mereda setelah Trump dan Xi menyepakati gencatan senjata selama satu tahun pada bulan Oktober 2025. Sehingga para ahli percaya, tujuan utama China kali ini adalash untuk pertemuan mendatang adalah memperpanjang kesepakatan tersebut.

"Yang dibutuhkan China adalah agar Trump menindaklanjuti janjinya untuk berdialog, dengan setidaknya beberapa hasil konkret yang dibahas di tingkat tertinggi," kata Yue Su dari Economist Intelligence Unit (EIU).

"Beijing akan puas dengan hasil yang terarah seperti pengurangan tarif terbatas yang akan membenarkan pengurangan tarif atau pembatasan ekspornya sendiri secara bertahap," katanya.

2.Perang Iran

Topik Iran diyakini akan "sulit dihindari" dalam pertemuan Trump-Xi. Tapi, para ahli sepakat, China tidak akan menggalinya "sangat dalam".

"AS sudah meningkatkan tekanan terhadap China sebelum KTT dengan menargetkan hubungan ekonomi China dengan Teheran," kata analis Asia Society Policy Institute, Lizzi Lee.

Bulan lalu Trump memperingatkan akan mengenakan tarif 50% pada barang-barang China jika China memberikan bantuan militer kepada Iran. Beijing sendiri adalah mitra dekat Teheran dan menyebut serangan AS-Israel terhadap Iran ilegal walau di sisi lain, China juga mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Perang Iran akan menambah lapisan tekanan timbal balik lainnya," kata Lee.

"Tetapi medan negosiasi yang sebenarnya tetap berada di perdagangan dan investasi," jelasnya.

Sementara Trump diyakini ingin China terus mendorong Iran untuk membuat kesepakatan. Kedua pihak kemungkinan juga akan membahas pembelian minyak China dari Iran.

3.Logam Tanah Jarang Jadi Kunci?

Salah satu kartu tawar-menawar utama China adalah logam tanah jarang. Ini sangat penting dalam produksi segala hal, mulai dari ponsel pintar hingga mobil listrik.

Dominasi China dalam industri logam tanah jarang, mulai dari cadangan alam dan penambangan hingga pengolahan dan inovasi, adalah hasil dari upaya selama beberapa dekade. Ini tetap menjadi alat terkuat China untuk bernegosiasi dengan Trump.

"Trump telah menunjukkan bahwa ia sangat peduli tentang logam tanah jarang," kata seorang analis geopolitik di perusahaan konsultan Trivium China yang berbasis di Beijing, Joe Mazur.

"Saya pikir itu adalah sesuatu yang AS sebenarnya tidak punya jawabannya," katanya.

"China akan mengupayakan... kemenangan cepat, sebelum kunjungan tersebut, yang mungkin termasuk membeli lebih banyak produk pertanian AS atau jet Boeing," tambahnya.

"China mungkin berharap itu akan menempatkan Trump dan timnya dalam kerangka berpikir positif ketika mereka kemudian membahas isu-isu yang lebih kompleks dan lebih rumit."

4.Taiwan

Kedua pemimpin diyakini juga akan membahas kebijakan AS terkait Taiwan yang berpemerintahan sendiri, yang diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya. Gaya diplomasi transaksional Trump telah menimbulkan kekhawatiran tentang kesediaannya untuk membela pulau itu dari China.

Trump sendiri telah meminta Taiwan membayar AS untuk perlindungan. Joerg Wuttke dari firma penasihat DGA-Albright Stonebridge Group mengatakan kepada AFP bahwa "Beijing akan menjadi negosiator yang halus dan berhati-hati agar tidak terlalu memaksakan diri" ketika Taiwan disebut.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |