Amalia Zahira, CNBC Indonesia
18 April 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar mangga global menunjukkan tren pertumbuhan seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap buah tropis dan produk berbasis alami.
Secara global, nilai pasar mangga diperkirakan terus meningkat dalam jangka menengah. Pasar mangga dunia diproyeksikan mencapai sekitar US$ 70,6 miliar atau sekitar Rp 1.212 triliun (US$1=Rp 17.180) pada 2031, tumbuh dengan CAGR sekitar 3,87% pada periode 2026 hingga 2031.
Peningkatan ini mencerminkan meningkatnya konsumsi buah di Eropa dan Amerika Utara, kapasitas produksi yang kuat di Asia dan Amerika Latin, serta pasar yang lebih besar untuk produk olahan mangga.
Tren Konsumsi Sehat Dorong Permintaan
Permintaan mangga global turut didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat. Mangga dikenal kaya akan vitamin A, vitamin C, serta antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Selain konsumsi langsung, mangga juga semakin banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman, mulai dari jus, dessert, hingga campuran produk dairy dan minuman.
Tren healthy lifestyle, clean label, dan plant-based turut memperkuat posisi mangga sebagai bahan baku alami yang fleksibel di berbagai segmen industri.
Peta Produksi dan Perdagangan Global
1. Asia
Dalam rantai pasok global, Asia menjadi pusat produksi mangga dunia. India memimpin secara signifikan dengan kontribusi sekitar 40% dari total produksi global dan diproyeksikan mencapai 36 juta ton pada 2034.
Selain India, negara seperti China, Indonesia, Pakistan, dan Thailand juga menjadi produsen utama yang berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi domestik maupun regional.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah India juga mulai mendorong produksi berbasis ekspor, khususnya di wilayah Andhra Pradesh, dengan fokus pada varietas unggulan seperti Banginapalli yang memiliki standar kualitas ekspor.
2. Amerika Latin
Di sisi perdagangan internasional, kawasan Amerika Latin menjadi pemain kunci dalam ekspor mangga. Meksiko menempati posisi sebagai eksportir terbesar dunia, didukung oleh akses pasar yang kuat ke Amerika Serikat.
Selain itu, Peru, Brasil, dan Ekuador juga menjadi eksportir utama yang memasok pasar Amerika Utara dan Eropa.
Secara khusus, Peru mencatat ekspor sekitar 289.500 ton pada musim 2024-2025, mencerminkan peran penting kawasan ini dalam menjaga pasokan global.
3. Amerika Utara, Eropa, dan Timur Tengah
Dari sisi konsumsi, negara-negara maju menjadi pasar utama mangga global. Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Arab Saudi termasuk dalam konsumen terbesar yang menjaga permintaan tetap tinggi.
Ketergantungan kawasan ini terhadap impor menjadikan perdagangan internasional mangga sangat dinamis, dengan aliran utama dari Asia dan Amerika Latin ke pasar-pasar tersebut.
Produksi Mangga di Indonesia
Menurut data world population review, Indonesia menempati posisi sebagai salah satu produsen mangga terbesar dunia dengan total produksi mencapai sekitar 4,1 juta ton pada 2023. Dari sisi produktivitas, Indonesia mencatat angka sekitar 13.735 kg per hektar, yang relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa produsen utama seperti India dan China.
Luas area panen yang mencapai 298.827 hektar menunjukkan bahwa produksi mangga nasional ditopang oleh kombinasi skala lahan yang cukup besar dan efisiensi budidaya yang kompetitif.
Namun, produksi yang melimpah belum merembes ke pasar dunia.
Ironi pun muncul Indonesia unggul di produksi, namun lemah dalam diplomasi pasar. Salah satu tantangan utamanya adalah rendahnya nilai tambah produk.
Sebagian besar mangga Indonesia dipasarkan dalam bentuk segar, tanpa diferensiasi varian premium, sertifikasi organik, atau inovasi produk olahan seperti puree, dried mango, atau jus siap minum.
Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal 2025 mencatat bahwa produksi mangga nasional stabil dalam lima tahun terakhir. Namun ekspor belum mampu melonjak signifikan karena masih terbatas pada pasar tradisional seperti Singapura dan Malaysia. Padahal, potensi pasar ke Jepang, Korea Selatan, atau bahkan Eropa sangat besar, apalagi dengan preferensi mereka pada produk berkelanjutan dan berkualitas tinggi.
Salah satu solusi strategis adalah memperkuat kemitraan distribusi, investasi di rantai pendingin (cold chain), serta promosi terarah di negara tujuan. Belajar dari Meksiko dan India, Indonesia perlu menciptakan branding mangga nasional-bukan sekadar menjual buah, tapi rasa, cerita, dan kebanggaan. Tanpa itu, Indonesia akan terus dikenal sebagai produsen mangga besar yang tak benar-benar hadir di meja makan dunia.
Sebagaimana buahnya yang manis tapi mudah memar jika tak ditangani dengan hati-hati, industri mangga Indonesia perlu sentuhan strategi yang lebih cermat dan berkelanjutan. Dunia sedang jatuh cinta pada mangga. Sayangnya, belum tentu pada yang tumbuh di tanah kita.
(mae/mae)
Addsource on Google

4 hours ago
5
















































