Daftar 10 Mata Uang yang Menggoyang Keperkasaan Dolar AS

3 hours ago 6

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

03 May 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi mata uang utama dunia dan acuan utama di pasar keuangan global. Namun, sepanjang tahun ini, tidak semua mata uang tunduk di hadapan greenback.

Di tengah tekanan yang masih membayangi banyak mata uang negara berkembang, sejumlah mata uang justru mampu mencatatkan penguatan cukup tajam terhadap dolar AS sejak awal tahun.

Berdasarkan data Refinitiv hingga penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026), Kwacha Zambia menjadi mata uang dengan performa terbaik terhadap dolar AS. Mata uang berkode ZMW tersebut menguat 15,75% sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).

Kinerja Kwacha cukup mencuri perhatian. Pasalnya, Zambia merupakan negara di kawasan Afrika bagian selatan yang dikenal sebagai salah satu produsen tembaga cukup besar.

Dengan struktur ekonomi yang banyak ditopang komoditas, pergerakan mata uang Zambia kerap ikut dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas global dan prospek ekspornya.

Penguatan Kwacha Zambia bahkan jauh meninggalkan mata uang lainnya. Di posisi kedua ada Real Brasil yang menguat 9,53% terhadap dolar AS, disusul Ariary Madagaskar dengan penguatan 9,28%.

Masuknya Ariary Madagaskar ke posisi tiga besar juga menarik. Madagaskar merupakan negara kepulauan di Samudra Hindia, lepas pantai timur Afrika, yang dikenal memiliki kekayaan komoditas mulai dari vanili, cengkeh, nikel, hingga kobalt.

Berikut daftar 10 mata uang dengan performa terkuat terhadap dolar AS sepanjang 2026:

Negara-negara yang berhasil mencatatkan penguatan terhadap greenback sejak awal tahun bisa dikategorikan cukup spesial. Pasalnya, dolar AS masih bergerak cukup kuat terhadap sejumlah mata uang utama dunia, terutama ketika ketidakpastian global meningkat.

Hal ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang cukup volatil sepanjang tahun berjalan. Meski secara year to date DXY masih melemah 0,39%, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut sempat bangkit tajam, terutama setelah pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari 2026.

Ketegangan geopolitik tersebut sempat mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Alhasil, DXY sempat kembali menyentuh level 100, sebelum akhirnya bergerak lebih terbatas menjelang akhir April.

Dengan demikian, penguatan 10 mata uang tersebut menjadi cukup menarik karena mampu mengalahkan permintaan terhadap dolar AS yang masih terbilang tinggi di pasar global.

Mata uang seperti Kwacha Zambia, Real Brasil, hingga Ariary Madagaskar juga ditopang oleh permintaan terhadap mata uang domestik masing-masing negara yang lebih kuat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian global dan tingginya kebutuhan terhadap dolar AS, sebagian mata uang tetap bisa tampil lebih perkasa karena didukung faktor domestik, misalnya seperti kinerja ekspor, harga komoditas, arus modal, hingga kepercayaan investor terhadap prospek ekonominya.

Lalu, bagaimana dengan rupiah?

Nilai tukar rupiah sudah ambruk 3,8% terhadap dolar sepanjang tahun ini. Rupiah bahkan ambruk ke level terendah sepanjang masa dan kini ada di posisi US$ 17.305/US$1.
Tak hanya tahun ini, rupiah juga ambruk 3,61% terhadap dolar AS sepanjang 2025 dan jatuh 4,5% sepanjang 2024.

Rupiah ambruk karena dihantam sentimen negatif bertubi-tubi mulai dari perang Iran, downgrade outlook rating utang, hingga kekhawatiran investor terhadap APBN.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |