Di Balik CENTCOM, Komando Militer Amerika yang Jalankan Perang AS-Iran

5 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

03 September 2026 06:34

Jakarta, CNBC Indonesia- Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Setelah sempat menahan serangan selama beberapa pekan, kedua negara kembali saling menggempur pada awal September 2026.

Eskalasi bermula ketika militer AS menyerang dua peluncur milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal ke dua pangkalan udara AS di Yordania.

Konflik pun meluas pada Selasa (1/9/2026), AS menyerang sistem pertahanan udara, instalasi radar, fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau, dan jaringan komunikasi milik IRGC.

Iran kembali membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas AS di Yordania, Bahrain, dan Irak.

Di balik rangkaian serangan tersebut terdapat U.S. Central Command atau CENTCOM, komando militer yang bertanggung jawab atas operasi AS di Timur Tengah, termasuk Iran.

CENTCOM menjadi penghubung antara keputusan politik di Washington dan operasi militer di lapangan. Komando ini mengatur pengerahan kapal perang, pesawat tempur, pasukan darat, Marinir, hingga pasukan khusus yang terlibat dalam suatu operasi.

Dalam serangan pada Selasa, CENTCOM menyatakan pasukannya menghantam sejumlah sasaran IRGC sebagai respons atas upaya serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan personel AS.

CENTCOM juga menyebut lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini beroperasi di Timur Tengah. Mereka disiapkan untuk menjalankan perintah lanjutan dari Presiden AS Donald Trump.

CENTCOM merupakan salah satu dari 11 unified combatant commands atau komando tempur dalam militer AS.

Setiap komando memiliki tanggung jawab berdasarkan wilayah atau fungsi. Sebanyak tujuh komando menangani wilayah tertentu, sedangkan empat lainnya menjalankan tugas khusus seperti operasi pasukan elite, transportasi militer, senjata strategis, dan operasi siber.

Combatant CommandCombatant Command Foto: U.S. Departement of War

CENTCOM mendapat tanggung jawab atas kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, dan sebagian Asia Selatan. Iran berada di dalam wilayah operasinya.

Nama "Central" digunakan karena wilayah tersebut berada di bagian tengah antara komando AS untuk Eropa dan Indo-Pasifik.

Meski bertanggung jawab atas Timur Tengah, markas utama CENTCOM justru berada di Pangkalan Angkatan Udara MacDill, Tampa, Florida. Dari markas tersebut, operasi lintas matra direncanakan, dikoordinasikan, dan diawasi.

Wilayah tanggung jawab CENTCOM membentang lebih dari 4 juta mil persegi yang dihuni lebih dari 560 juta orang. Kawasan ini juga menjadi pertemuan berbagai jalur perdagangan, penerbangan, pipa energi, dan pelayaran penting dunia.

Sebanyak 21 negara masuk wilayah tanggung jawab CENTCOM.

Cakupan itu menempatkan CENTCOM di sejumlah kawasan yang sangat rawan terjadinya konflik.

Selain menghadapi Iran, komando ini menangani ancaman ISIS di Irak dan Suriah, serangan kelompok bersenjata, keamanan jalur pelayaran, serta persaingan pengaruh dengan Rusia dan China.

Beberapa jalur laut terpenting dunia juga berada dalam wilayahnya, termasuk Selat Hormuz, Teluk Persia, Laut Arab, dan sebagian Laut Merah.

Tidak Memiliki Pasukan Permanen

Meski memimpin operasi berskala besar, CENTCOM pada dasarnya merupakan sebuah markas komando. Organisasi ini tidak memiliki unit tempur yang ditempatkan secara permanen di bawahnya.

Pasukan akan ditempatkan di bawah kendali CENTCOM sesuai kebutuhan operasi. Kekuatan tersebut berasal dari berbagai matra dan dihubungkan melalui enam komando utama.

ARCENT memiliki markas depan di Kuwait, sementara AFCENT dan SOCCENT memiliki markas depan di Qatar. NAVCENT berkantor di Bahrain, yang juga menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Susunan ini memungkinkan CENTCOM menjalankan operasi yang melibatkan banyak matra sekaligus. Sebuah serangan dapat menggunakan pesawat pengebom Angkatan Udara, kapal perang Angkatan Laut, pasukan Marinir, unit darat, dan dukungan satelit dalam satu komando.

Lahir Setelah Revolusi Iran

Sejarah dibentuknya CENTCOM tidak dapat dipisahkan dari Iran. Pembentukan komando ini berawal dari perubahan besar yang terjadi di Timur Tengah pada akhir 1970-an.

Revolusi Iran pada 1979 yang berkahir pada penggulingan Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu dekat AS. Pada tahun yang sama, Uni Soviet menginvasi Afghanistan.

Dua peristiwa itu membuat AS sangat khawatir akan kehilangan pengaruh dan aksesnya terhadap kawasan Teluk Persia. Presiden AS kala itu, Jimmy Carter kemudian membentukRapid Deployment Joint Task Forcepada Maret 1980 agar AS dapat mengirimkan pasukan dengan cepat ketika krisis terjadi.

Lalu pada 1 Januari 1983, Presiden Ronald Reagan mengubah satuan tersebut menjadi U.S. Central Command.

Operasi tempur pertama CENTCOM berlangsung pada 1987-1988, ketika perang Iran-Irak masih berjalan. Saat itu, militer AS melindungi kapal tanker minyak Kuwait dari ancaman ranjau Iran di Teluk Persia.

Perannya semakin besar setelah Irak menginvasi Kuwait pada 1990. CENTCOM memimpin Operasi Desert Shield untuk melindungi Arab Saudi, kemudian Operasi Desert Storm yang membebaskan Kuwait pada 1991.

Setelah serangan 11 September 2001, komando ini memimpin perang AS di Afghanistan. CENTCOM juga memimpin invasi Irak pada 2003 dan operasi koalisi melawan ISIS sejak 2014.

Pada 2025, CENTCOM menjalankan Operasi Rough Rider melawan kelompok Houthi di Yaman serta Operasi Midnight Hammer yang menyasar fasilitas nuklir Iran.

CENTCOM kemudian memulai Operation Epic Fury pada 28 Februari 2026 atas perintah Presiden AS. Operasi tersebut menjadi kampanye militer utama AS terhadap Iran.

Laksamana Brad Cooper Pimpin CENTCOM

CENTCOM saat ini dipimpin Laksamana Brad Cooper, perwira bintang empat dari Angkatan Laut AS. Ia memegang kendali atas pelaksanaan operasi militer AS di Iran dan wilayah lain yang menjadi tanggung jawab CENTCOM.

Namun, Cooper bukan pihak yang mengambil keputusan politik untuk memulai perang. Wewenang tersebut berada di tangan Trump dan Hegseth.

Setelah perintah diberikan, Cooper bertugas menyusun dan menjalankan operasi dengan menggabungkan kekuatan dari berbagai matra.

Cooper berasal dari keluarga militer. Ayahnya merupakan perwira karier Angkatan Darat AS.

Ia merupakan lulusan U.S. Naval Academy dan meraih gelar master dalam bidang intelijen strategis dari National Intelligence University. Cooper juga pernah mempelajari hubungan internasional di Harvard dan Tufts University serta mengikuti pendidikan di U.S. Army Command and General Staff College.

SebagaiSurface Warfare Officer, karier Cooper banyak dihabiskan di kapal perang. Ia pernah ditempatkan di berbagai wilayah operasi dan menjalani penugasan darat di Afghanistan.

Pengalamannya di Timur Tengah terbilang panjang. Cooper pernah memimpin U.S. Naval Forces Central Command, Armada Kelima AS, dan Combined Maritime Forces di Bahrain.

Ia juga pernah menjadi komandan Naval Surface Force Atlantic, Expeditionary Strike Group 7 di Okinawa, serta U.S. Naval Forces Korea di Busan. Sementara di tingkat kapal, Cooper pernah memimpin kapal perusak USS Russell dan kapal penjelajah USS Gettysburg.

Sebelum menduduki posisi tertinggi, Cooper lebih dahulu menjabat sebagai Wakil Komandan CENTCOM. Ia juga pernah mengisi sejumlah posisi di Gedung Putih, kantor Menteri Pertahanan, U.S. Africa Command, dan markas Armada Pasifik AS.

Pengalaman tersebut membuat Cooper memahami operasi militer sekaligus proses pengambilan keputusan di Washington. Kini, ketika perang AS dan Iran kembali memanas, ia menjadi pejabat militer yang bertanggung jawab menjalankan perintah tersebut di lapangan.

CNBCINDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |