Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
08 May 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran disebut menghadapi banyak hambatan. Salah satunya datang dari efektivitas drone Iran yang semakin sulit dihadapi di medan tempur.
Dilansri dari The Economist, sebuah dokumen rahasia yang diperoleh dari sumber terpercaya menunjukkan bahwa Rusia diduga menawarkan bantuan kepada Iran berupa drone yang sulit dijamming atau diganggu sinyalnya.
Drone tersebut dirancang untuk digunakan terhadap pasukan AS di kawasan Teluk, bahkan kemungkinan di wilayah lain.
Selama ini, pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin disebut telah memberikan dukungan intelijen yang membantu Iran menargetkan pasukan AS di Timur Tengah. Namun, laporan ini menjadi bukti pertama bahwa Rusia juga diduga menawarkan pasokan senjata inovatif dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan banyak korban di pihak AS dan sekutunya.
Rencana rahasia itu disebut mencakup pengiriman 5.000 drone jarak pendek berbasis serat optik atau fibre-optic drones, seperti yang digunakan dalam perang Ukraina. Selain itu, Rusia juga disebut menawarkan drone jarak jauh berpemandu satelit dalam jumlah yang belum diketahui, serta pelatihan penggunaan kedua jenis drone tersebut.
Rencana tersebut tercantum dalam proposal setebal 10 halaman yang disiapkan oleh GRU, badan intelijen militer Rusia, untuk dipresentasikan kepada Iran. The Economist menyebut telah memeriksa proposal tersebut, yang berisi enam diagram dan satu peta yang menggambarkan pulau-pulau di lepas pantai Iran.
Foto: The Economist
Meski dokumen itu tidak mencantumkan tanggal, diperkirakan proposal tersebut disusun dalam enam pekan pertama perang AS-Iran.
Saat itu, ada kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump dapat memerintahkan pengerahan pasukan darat untuk menyerang wilayah Iran, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg, terminal minyak penting Iran.
Namun, masih belum ada bukti langsung bahwa dokumen tersebut benar-benar telah diserahkan kepada Iran. Tidak ada pula bukti langsung bahwa drone tersebut sudah sampai ke Iran atau program pelatihan yang dijanjikan telah dimulai.
Sumber intelijen regional yang telah mendapat penjelasan mengenai rencana itu menilai proposal tersebut masuk akal, tetapi belum dapat memverifikasinya secara independen.
Christo Grozev, pakar intelijen Rusia, mengatakan proposal itu sejalan dengan bukti lain bahwa GRU sedang mencari cara untuk meningkatkan dukungan Rusia kepada Iran dalam perang melawan AS dan Israel.
Drone Anti-Jamming Bisa Jadi Senjata Baru Iran
Salah satu bagian paling penting dari rencana tersebut adalah penggunaan drone serat optik.
Drone jenis ini telah mengubah medan perang di Ukraina karena mampu menciptakan zona berbahaya yang luas bagi kendaraan maupun tentara di ruang terbuka.
Berbeda dari drone biasa yang dikendalikan menggunakan sinyal radio, drone serat optik dikendalikan lewat kabel tipis yang terulur di belakangnya. Karena tidak mengandalkan sinyal radio, drone ini lebih sulit dijamming oleh sistem perang elektronik lawan.
Operator drone juga dapat menggunakannya untuk melakukan serangan presisi pada jarak lebih dari 40 kilometer.
Drone serat optik semacam ini belakangan juga muncul di Lebanon. Drone tersebut digunakan oleh Hizbullah, kelompok proksi Iran, untuk menyerang pasukan Israel.
Foto: Sebuah drone yang dikendalikan serat optik dirancang untuk Angkatan Bersenjata Ukraina di wilayah Kyiv, Ukraina, pada tanggal 29 Januari 2025. (Maxym Marusenko via Reuters Conn/Maxym Marusenko via atlanticcouncil)
Pejabat Israel telah mengonfirmasi bahwa drone itu dipasok oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Namun, mereka tidak bersedia menjelaskan apakah drone tersebut pada awalnya berasal dari Rusia.
Dalam perang Ukraina, drone serat optik mulai muncul pada 2024 sebagai respons terhadap penggunaan jammer oleh kedua belah pihak. Rusia kemudian mulai menggunakannya di tahun berikutnya setelah memproduksinya secara massal.
Meski tidak selincah drone nirkabel, drone serat optik memiliki beberapa keunggulan.
Drone ini dapat mengirimkan gambar video yang lebih tajam dan tidak memancarkan sinyal radio yang bisa digunakan musuh untuk melacak dan menyerang operatornya.
Rusia Siapkan Drone Jarak Jauh untuk Iran
Bagian kedua dari rencana rahasia Rusia adalah penyediaan drone jarak jauh berpemandu satelit yang dilengkapi terminal Starlink.
Rusia sebelumnya menggunakan drone jenis ini untuk menemukan, menghindari, atau menyerang sistem pertahanan udara Ukraina. Drone tersebut juga dinilai sangat efektif dalam menyerang jalur logistik Ukraina, bahkan ketika beroperasi jauh dari garis depan.
Namun pada 2026, Elon Musk memblokir akses angkatan bersenjata Rusia ke Starlink di Ukraina.
Semua terminal yang beroperasi di Ukraina diblokir, kecuali terminal yang masuk dalam daftar putih atau whitelist yang disetujui pemerintah Ukraina.
Dalam proposal Rusia, drone-drone tersebut disebut dapat dialihkan untuk digunakan di Timur Tengah, wilayah yang tidak memiliki pembatasan serupa. Proposal itu memperkirakan konektivitas Starlink di kawasan tersebut pada akhirnya juga bisa dimatikan.
Namun, sebelum itu terjadi, drone tersebut tetap bisa menciptakan "kekacauan" terhadap pasukan AS.
Rusia Bidik Mahasiswa Iran untuk Operasikan Drone
Hal ketiga dari rencana tersebut adalah pelatihan operator drone.
Dokumen itu mengusulkan perekrutan operator drone dari sekitar 10.000 mahasiswa Iran yang sedang belajar di universitas-universitas Rusia. Selain itu, kelompok lain yang berpotensi direkrut adalah warga Tajik yang menguasai bahasa Rusia dan salah satu varian bahasa Persia, serta komunitas minoritas Alawite di Suriah yang loyal kepada rezim Bashar al-Assad yang sudah digulingkan.
Proposal tersebut menyebut seluruh calon operator akan diperiksa dari sisi loyalitas dan risiko ekstremisme agama.
Isi laporan GRU juga menunjukkan bahwa dokumen itu disusun ketika ancaman utama terhadap Iran adalah kemungkinan serangan amfibi AS untuk membuka kembali Selat Hormuz atau merebut Pulau Kharg.
Dokumen itu mencatat bahwa kapal pendarat AS akan sangat rentan terhadap serangan drone karena kecepatannya yang rendah.
Salah satu diagram menggambarkan bagaimana operator drone Iran yang dilatih Rusia dapat menyerang armada pendaratan dengan meluncurkan kawanan drone berisi lima hingga enam unit dari posisi tersembunyi sejauh 15-30 kilometer.
Meski saat ini kecil kemungkinan AS benar-benar akan mendaratkan pasukan di Iran, skenario tersebut sempat menjadi perhatian pejabat Rusia dan Iran pada fase awal perang.
Dokumen GRU itu juga mencatat bahwa Rusia masih sangat sibuk dengan perang Ukraina yang telah memasuki tahun kelima. Kondisi ini membatasi sumber daya yang bisa dialokasikan Moskow untuk membantu Iran.
Proposal tersebut juga mengakui bahwa Rusia akan menghadapi risiko politik dan militer jika semakin terlibat dalam perang di Iran.
Namun, bantuan terbatas tetap dinilai dapat mempersulit operasi militer AS. Selain itu, bantuan semacam ini masih bisa disangkal secara resmi, sehingga Rusia dapat menghindari keterlibatan terbuka dalam konflik langsung dengan Amerika Serikat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
4

















































