Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menguat tipis ditopang beragam kabar positif.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (7/5/2026) ditutup di US$ 135,2 per ton atau naik 0,3%.
Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 3,5% pada Rabu.
Harga batu bara termal di China naik setelah sebelumnya dilaporkan tetap stabil.
Harga acuan indeks batu bara di wilayah produksi Yulin dengan kualitas 5.800 kcal/kg NAR tercatat stabil di level CNY 475 per ton (termasuk PPN), tidak berubah dibanding hari sebelumnya, namun turun CNY 9 per ton secara mingguan.
Artinya, harga batu bara di tambang (mine-mouth) di Shaanxi tidak mengalami perubahan harian, mencerminkan kondisi pasar yang relatif tenang dan seimbang antara permintaan dan pasokan.
Permintaan dari pembeli industri masih moderat sementara aktivitas perdagangan cenderung hati-hati. Pasar berada dalam kondisi stagnan karena tidak ada dorongan kuat baik dari sisi permintaan maupun pasokan.
Seorang pelaku pasar menyebutkan bahwa meskipun penjualan masih berjalan karena pelanggan tetap, kondisi pasar tahun ini cenderung lemah sehingga harga sulit naik tinggi.
Harga batu bara termal Afrika Selatan di pelabuhan India menunjukkan tren yang beragam secara mingguan pada Kamis kemarin, meskipun harga penawaran internasional cenderung naik akibat meningkatnya biaya angkut (freight) dan energi.
Namun meskipun ada kenaikan harga penawaran, aktivitas pasar tetap sangat terbatas karena pembeli enggan membeli di level harga tinggi.
Selain itu, impor India untuk batu bara non-kokas dari Afrika Selatan turun tajam menjadi 1,97 juta ton pada April, dari 3,48 juta ton pada Maret, atau turun 43,4% secara bulanan. Penurunan ini mencerminkan lemahnya permintaan industri serta meningkatnya preferensi terhadap batu bara domestik.
Kenaikan biaya angkut dorong harga global
Pelaku pasar menyebut harga batu bara internasional menguat setelah kenaikan harga gas dan minyak mentah, yang mendorong tekanan naik dari indeks batu bara Indonesia (HBA) serta pasar freight. Biaya pengiriman yang tetap tinggi juga meningkatkan biaya landed (biaya sampai pelabuhan tujuan).
Permintaan dari sektor sponge iron dan baja masih lemah, menekan pasar batu bara impor.
Pelaku pasar mengatakan pembelian masih berbasis kebutuhan (need-based), dengan strategi wait and see karena harga baja melemah dan permintaan produk baja jadi juga lesu. Aktivitas pembelian di pasar baja setengah jadi maupun jadi tetap lemah, sehingga konsumsi bahan baku ikut tertekan.
(mae/mae)
Addsource on Google

11 hours ago
2

















































