Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas merosot lebih dari 1% seiring penguatan dolar AS dan sinyal hawkish dari The Federal Reserve (The Fed) yang menekan logam mulia tersebut.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (19/6/2026) ditutup di posisi US$ 4160 per troy ons. Harganya ambles 1,15%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya di mana harga emas jatuh 3,92% dalam tuga hari beruntun.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 10 Juni 2026.
Secara keseluruhan, harga emas melemah 1,39% pada pekan ini. Artinya harga emas sudah jatuh tiga pekan beruntun.
Harga emas jatuh dipicu oleh menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS masih bertahan di level 100 dalam tiga hari terakhir. Level tersebut masih dalam rentang level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Hal ini membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Perdagangan di China daratan dan Hong Kong tutup karena libur Festival Perahu Naga (Dragon Boat Festival), sehingga aktivitas pasar menjadi lebih sepi.
"Reli emas yang dipicu kesepakatan damai AS-Iran terbukti tidak bertahan lama. Kebangkitan dolar AS, yang didorong nada lebih hawkish The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, kini menjadi pusat perhatian," ujar Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, kepada Reuters.
"Ketegasan ketua baru The Fed secara efektif menghapus dukungan dari faktor geopolitik, mengingatkan pasar bahwa kebijakan moneter tetap menjadi penentu utama arah harga." Imbuhnya.
Sebanyak sembilan dari 19 pejabat bank sentral AS memperkirakan suku bunga acuan masih perlu dinaikkan tahun ini.
Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah bank sentral global yang telah menaikkan atau memberi sinyal kenaikan suku bunga guna meredam tekanan inflasi yang dipicu perang Iran.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang 87% kenaikan suku bunga AS pada Desember, naik dari 61% sebelum keputusan terbaru The Fed.
Emas cenderung kehilangan daya tarik saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Dari sisi geopolitik, rencana perundingan AS-Iran di Swiss dibatalkan setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke negara tersebut, menambah ketidakpastian terkait keberlangsungan gencatan senjata.
Di pasar fisik, permintaan emas di India terpantau moderat pekan ini meski harga turun ke level terendah dalam dua setengah bulan terakhir dan bergerak volatil. Sementara itu, China sebagai konsumen emas terbesar dunia justru beralih ke posisi diskon.
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































