IHSG Dibuka Menguat 0,15% Dekati Level 6.700

7 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (10/9/2026). IHSG naik 9,97 poin atau 0,15% ke level 6.688,17.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Penguatan IHSG semakin besar tiga menit setelah pasar buka, dengan level tertinggi sementara 6.702,73 dan terendah 6.684,76. Sebanyak 280 saham menguat, 142 saham melemah, dan 255 saham stagnan.

Adapun volume perdagangan pada awal sesi mencapai 3,14 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 2,14 triliun.

Sentimen pasar hari ini diperkirakan bergerak beragam setelah data ekonomi kemarin memperlihatkan perbaikan permintaan di China dan Indonesia, sementara pertumbuhan tenaga kerja swasta Amerika Serikat masih terbatas.

Lonjakan harga minyak juga akan berdampak besar terhadap volatilitas pasar.

Perhatian pasar hari ini akan beralih kepada penjualan ritel Indonesia, keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa, serta inflasi produsen dan klaim pengangguran AS.

Di dalam negeri, rencana program rekening gratis dari pemerintah turut menjadi perhatian karena berpotensi memperluas inklusi keuangan dan basis nasabah perbankan.

Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026), seiring tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga minyak mentah.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,62%, Kospi Korea Selatan melemah 0,24%, sementara indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 1,36%.

Tekanan terhadap pasar saham Asia terjadi setelah yield Treasury AS kembali meningkat dan membebani pasar saham Wall Street. Departemen Keuangan AS sebelumnya mengatakan akan membeli kembali surat utang jangka panjang hingga US$6 miliar, atau sekitar tiga kali lipat dari jumlah biasanya.

Kurang dari sebulan sebelumnya, Departemen Keuangan AS juga telah menyatakan akan meningkatkan ukuran pembelian kembali surat utang pemerintah lebih dari dua kali lipat. Namun, langkah tersebut justru diikuti kenaikan yield Treasury AS karena investor mencermati kondisi pasokan dan permintaan di pasar obligasi.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat naik ke level tertinggi sesi di 4,857%, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023. Kenaikan yield tersebut meningkatkan tekanan terhadap saham, terutama karena investor kembali mempertimbangkan prospek inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Sentimen pasar juga tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Harga minyak Brent melonjak 3,4% menjadi US$101,21 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,3% menjadi US$96,05 per barel.

Kedua harga acuan minyak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak Mei. Lonjakan harga minyak menjadi perhatian investor karena kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mempersulit prospek pelonggaran kebijakan moneter.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |