Incar Ekspor Rp106 T, Bos Pengusaha Mebel Ucap Ogah Dimanja Pemerintah

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri mebel dan kerajinan Indonesia memasang target ekspor US$6 miliar atau bernilai Rp106 triliun dengan kurs Rp17.800 pada 2031 (asumsi  kurs Rp17.800/dolar AS). Target tersebut menjadi bagian dari ambisi jangka panjang untuk membawa nilai ekspor industri mebel dan kerajinan nasional mencapai US$25 miliar pada 2045.

Untuk mengejar target tersebut, industri menilai perubahan model bisnis tidak bisa lagi ditunda. Pelaku usaha perlu bergerak dari sekadar memproduksi barang menuju pengembangan desain, inovasi, merek, hingga penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan industri juga harus mengambil tanggung jawab atas peningkatan daya saing. Pemerintah dinilai tidak perlu memberikan perlakuan khusus selama akses pasar dan kebijakan perdagangan mampu menciptakan persaingan yang sehat.

"Pemerintah tidak perlu memanjakan industri. Kami sendiri harus meningkatkan produktivitas, desain, kualitas, teknologi, keberlanjutan dan daya saing. Yang kami perlukan adalah akses menuju pasar dunia yang semakin terbuka serta kebijakan perdagangan yang membuat produk Indonesia mampu bertanding secara sehat di pasar global," ujar Abdul Sobur dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso dan HIMKI sepakat membentuk task force bersama. Tim tersebut mulai bekerja untuk mendorong peningkatan ekspor mebel, kerajinan dan home décor Indonesia.

Kerja sama ini diarahkan agar upaya pengembangan pasar tidak berhenti pada pertemuan dan koordinasi. Ukuran keberhasilannya akan dilihat dari pertumbuhan transaksi dan perluasan basis eksportir serta pasar.

"Task force ini bukan untuk menambah forum atau rapat. Ukurannya harus konkret: berapa buyer yang kita dapatkan, berapa pasar baru yang terbuka, berapa eksportir baru yang tumbuh, berapa transaksi dan repeat order yang terjadi, serta seberapa jauh kita bergerak menuju US$6 miliar pada 2031," ujar Abdul Sobur.

Tim bersama tersebut akan menggarap sejumlah agenda, mulai dari penguatan informasi pasar dan calon pembeli, business matching yang diarahkan pada transaksi, hingga pemanfaatan jaringan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Selain membuka pasar baru, upaya tersebut juga mencakup diversifikasi negara tujuan ekspor dan identifikasi berbagai hambatan perdagangan. Perkembangan transaksi dan pesanan berulang juga akan dipantau agar ekspansi pasar tidak berhenti pada transaksi pertama.

"Market intelligence harus kita transformasikan menjadi buyer intelligence, dan buyer intelligence harus berakhir menjadi transaksi," kata Abdul Sobur.

HIMKI menilai pencapaian target ekspor tersebut membutuhkan pola kerja yang terukur antara pemerintah dan pelaku industri. Indikatornya mencakup pertumbuhan nilai ekspor, pembukaan pasar dan pembeli baru, bertambahnya eksportir, jumlah transaksi serta repeat order.

"USD 6 miliar pada 2031 bukan sekadar angka. Di belakangnya ada industri yang tumbuh, UMKM yang naik kelas, lapangan kerja, sentra-sentra produksi daerah, dan peningkatan nilai tambah Indonesia. Karena itu target ini harus kita kawal bersama," kata Abdul Sobur.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |