Inggris Akhirnya "Terlibat" di Perang Iran, Ikuti Kemauan AS

7 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Inggris pada Jumat resmi memberikan otorisasi kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya guna melancarkan serangan terhadap situs rudal Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Keputusan tersebut diambil setelah para menteri Inggris menggelar pertemuan untuk membahas perkembangan perang dengan Iran serta dampak pemblokiran Selat Hormuz oleh Teheran, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan Downing Street.

"Mereka mengonfirmasi bahwa kesepakatan bagi AS untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam pembelaan diri kolektif kawasan mencakup operasi defensif AS untuk melemahkan situs dan kemampuan rudal yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz," demikian bunyi pernyataan tersebut, dilansir Reuters, Sabtu (21/3/2026).

Langkah ini menandai perubahan sikap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang sebelumnya menyatakan tidak ingin menyeret Inggris ke dalam perang dengan Iran. Ia bahkan sempat menolak permintaan awal dari Washington untuk menggunakan pangkalan Inggris, dengan alasan perlu memastikan bahwa setiap tindakan militer memiliki dasar hukum yang jelas.

Namun posisi itu berubah setelah Iran melancarkan serangan terhadap sekutu Inggris di Timur Tengah. Starmer kemudian membuka akses bagi AS untuk menggunakan pangkalan RAF Fairford serta Diego Garcia, pangkalan gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia.

Keputusan ini langsung menuai reaksi keras dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh langkah Inggris membahayakan warganya sendiri.

Ia mengatakan Starmer "menempatkan nyawa warga Inggris dalam bahaya dengan mengizinkan pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran," serta menegaskan bahwa "Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri."

Di sisi lain, hubungan antara Washington dan London juga sempat memanas sejak konflik dimulai. Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali melontarkan kritik terhadap Starmer, menilai Inggris tidak memberikan dukungan yang cukup.

Pada Senin lalu, Trump menyatakan ada "beberapa negara yang sangat mengecewakan saya" sebelum secara khusus menyebut Inggris, yang menurutnya dulu dianggap sebagai "Rolls-Royce dari para sekutu."

Meski memberikan izin penggunaan pangkalan militer, pemerintah Inggris tetap menyerukan deeskalasi konflik. Dalam pernyataan resminya, Downing Street menegaskan perlunya "de-eskalasi yang mendesak dan penyelesaian perang secara cepat."

Di dalam negeri Inggris sendiri, dukungan publik terhadap konflik ini tergolong rendah. Hasil jajak pendapat YouGov menunjukkan 59% responden menolak serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |