Iran-Israel dan AS Masih Panas, Harga Minyak Masih di Atas US$112

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi, di tengah eskalasi konflik yang kian panas di Timur Tengah. Per pukul 09.40 WIB, harga minyak jenis Brent tercatat di US$112,32 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$102,53 per barel, mengutip data Refinitiv.

Secara pergerakan harian, harga minyak memang cenderung bergerak tipis dibandingkan posisi sehari sebelumnya. Namun jika ditarik lebih panjang, tren kenaikan masih terlihat jelas.

Dalam sepekan terakhir, Brent telah melesat dari kisaran US$99,94 per barel pada 23 Maret menjadi di atas US$112 per barel, sementara WTI naik dari US$88,13 ke atas US$102 per barel menandakan lonjakan tajam dalam waktu singkat.

Kenaikan ini tidak lepas dari memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kini mulai berdampak langsung ke jalur distribusi energi global. Melansir dari Reuters, sebuah kapal tanker minyak raksasa dilaporkan terbakar setelah terkena serangan drone di lepas pantai Dubai. Kapal tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak-nilai yang mencapai lebih dari US$200 juta pada harga saat ini.

Insiden ini menjadi bagian dari rangkaian serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz sejak akhir Februari. Jalur sempit ini bukan sekadar titik geografis biasa-sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati wilayah tersebut. Gangguan sekecil apa pun langsung memicu lonjakan harga dan kepanikan pasar.

Di sisi lain, retorika politik juga semakin memperkeruh suasana. Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa pihaknya siap "menghancurkan" infrastruktur energi Iran jika akses Selat Hormuz tidak segera dibuka. Pernyataan ini menambah ketidakpastian, sekaligus memperbesar risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Pasar pun kini mulai beralih dari sekadar bereaksi terhadap headline menjadi masuk ke mode "fear trade". Melansir dari Reuters, investor semakin khawatir konflik akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, yang berpotensi mendorong inflasi global sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.

Dampaknya mulai terasa nyata. Harga bensin di Amerika Serikat bahkan telah menembus US$4 per galon, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan ini mencerminkan tekanan dari sisi pasokan global yang semakin ketat, sekaligus memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik kini merembet hingga ke dompet konsumen.

Meski demikian, ada secercah harapan dari jalur diplomasi. Pemerintah AS dilaporkan masih membuka ruang negosiasi dengan Iran, bahkan mempertimbangkan mengakhiri konflik meski Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal. Namun selama ketidakpastian ini masih menggantung, harga minyak berpotensi tetap tinggi.

CNBC Indonesia

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |