Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi telah menginstruksikan militernya untuk memperluas invasi di wilayah Lebanon Selatan. Langkah ini diambil di tengah ketegangan regional yang semakin memuncak akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Dalam pernyataan video dari Komando Utara pada Minggu (29/03/2026), Benjamin Netanyahu menegaskan ambisinya untuk mengubah peta keamanan di wilayah tersebut. Ia menyatakan bahwa instruksi tersebut bertujuan untuk memperlebar zona penyangga keamanan yang sudah ada saat ini.
"Saya baru saja menginstruksikan untuk memperluas lebih lanjut zona penyangga keamanan yang ada. Kami bertekad untuk secara fundamental mengubah situasi di utara Israel," ujar Netanyahu, dilansir Al Jazeera.
Pengumuman Netanyahu ini muncul saat pasukan Israel terpantau bergerak maju di beberapa titik di Lebanon Selatan. Serangan terkonsentrasi tersebut mengarah ke Sungai Litani dengan tujuan untuk mengusir kelompok Hezbollah yang telah terlibat dalam perang sejak awal Maret lalu.
Al Jazeera melaporkan bahwa pertempuran antara Hizbullah dan Israel telah meningkat secara drastis dalam beberapa jam terakhir. Pasukan darat Israel dilaporkan telah mencapai anak sungai Litani di sebelah selatan kota Qantara, di front timur dekat al-Muhaysibat.
"Anak sungai yang mereka capai di selatan Qantara hanya berjarak beberapa kilometer, dan di beberapa titik hanya berjarak beberapa ratus meter dari Sungai Litani yang sebenarnya. Jadi ini akan berubah menjadi pertempuran besar, berdasarkan apa yang kami dengar dari Hezbollah," kata Hitto.
Kekerasan yang meningkat ini juga memakan korban dari pihak penjaga perdamaian internasional. Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan bahwa seorang anggotanya tewas dan satu lainnya luka kritis setelah sebuah proyektil meledak di dekat Adchit Al Qusayr.
"Kami tidak tahu asal proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan semua keadaan yang ada," tulis pernyataan resmi UNIFIL.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, setidaknya 1.238 orang telah tewas sejak Lebanon terseret ke dalam pusaran perang pada 2 Maret. Jumlah korban tersebut mencakup 124 anak-anak, sementara lebih dari 3.500 orang lainnya mengalami luka-luka.
Khusus pada hari Sabtu dan Minggu saja, terdapat 49 orang yang tewas, termasuk 10 pekerja penyelamat dan tiga orang jurnalis. Al Jazeera melaporkan bahwa situasi di lapangan masih sangat mencekam akibat serangan udara yang terus terjadi.
"Tidak ada tanda-tanda serangan Israel akan mereda," tulis Al Jazeera.
Di tengah gempuran tersebut, ratusan pelayat berkumpul pada hari Minggu di Choueifat, selatan Beirut, untuk menghadiri pemakaman tiga jurnalis yang tewas akibat serangan udara Israel. Ketiganya adalah Ali Shoeib dari TV Al-Manar, serta Fatima Ftouni dan juru kamera Mohammad Ftouni dari saluran Al Mayadeen.
Militer Israel berdalih bahwa serangan terhadap Ali Shoeib adalah serangan yang ditargetkan dan melabeli sang jurnalis sebagai teroris. Pihak militer menuduh tanpa bukti bahwa Shoeib adalah agen intelijen Hezbollah yang melaporkan lokasi tentara Israel, meski mereka tidak mengomentari pembunuhan Fatima dan saudaranya.
"Fatima dan Ali adalah pahlawan," kata seorang kerabat Ftouni yang hanya menyebutkan nama depannya sebagai Qassem kepada kantor berita AFP.
Merespons tragedi tersebut, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan bahwa jurnalis yang bekerja di zona perang tidak boleh menjadi sasaran, meskipun mereka memiliki kaitan dengan pihak-pihak yang berkonflik. Ia memperingatkan konsekuensi hukum internasional bagi Israel jika terbukti sengaja mengincar awak media.
"Jika memang terkonfirmasi bahwa jurnalis yang bersangkutan sengaja dijadikan sasaran oleh tentara Israel, maka ini sangat serius dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional," tegas Barrot.
Hingga saat ini, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat setidaknya 11 jurnalis Lebanon telah tewas oleh serangan Israel sejak 2023. Angka ini menambah daftar panjang korban media, di mana 210 jurnalis Palestina juga telah tewas di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
(tps/luc)
Addsource on Google

5 hours ago
7















































