Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
21 March 2026 08:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketupat sudah menjadi hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan saat Lebaran. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda ini menyimpan makna filosofis yang dalam dalam tradisi Lebaran masyarakat Indonesia.
Banyak sumber menyebut bahwa tradisi makan ketupat diperkenalkan oleh salah satu Wali Songo, Sunan Kalijaga, sebagai cara menyampaikan nilai-nilai Islam melalui budaya lokal yang mudah diterima masyarakat.
Sejarah Ketupat
Ketupat merupakan jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam janur (anyaman daun kelapa). Ketupat ini bisa berbentuk kantong, prisma, lonjong dan lain sebagainya kemudian dimasak.
Sejarah Lebaran Ketupat diperkenalkan pertama kali oleh salah satu Walisongo, yakni Sunan Kalijaga. Kala itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah ba'da atau bakda Lebaran dan Bakda Kupat yang artinya sesudah Lebaran atau sesudah Kupat.
Kemudian tradisi ketupat pada saat perayaan Lebaran tersebut diawali dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.
Bakda Lebaran merupakan prosesi pelaksanaan sholat Id mulai dari 1 Syawal dengan berkunjung untuk saling silaturahmi. Tradisi ini biasanya saling bermaaf-maafan antra keluarga, dan sanak saudara.
Adapun, Bakda Kupat diperingati seminggu setelah lebaran. Masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat untuk dimakan bersama-sama.
Kemudian terciptalah tradisi membuat ketupat dan diantarkan ke kerabat dekat atau orang yang lebih tua. Umumnya, tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa yang selalu digelar setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri sebagai harapan agar dapat saling memaafkan.
Ketupat sebagai simbol saling memaafkan
Dalam tradisi Jawa, kata "kupat" sering dimaknai sebagai singkatan dari "ngaku lepat", yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan esensi Idul Fitri, yakni saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh.
Prosesi "Ngaku Lepat" biasanya dilakukan dengan tradisi "sungkeman", yaitu seorang anak bersimpuh memohon maaf di hadapan orang tuanya. Berkaitan dengan hal ini, Imam al-Nawawi mengatakan:
وَلا يُكْرَهُ تَقْبِيلُ الْيَدِ لِزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَكِبَرِ سِنٍّ
Wa lā yukrahu taqbīlul-yadi li-zuhdin wa 'ilmin wa kibari sinnin.
"Tidak makruh mencium tangan karena kezuhudan, keilmuan dan faktor usia yang lebih tua." (al-Imam al-Nawawi, Raudlah al-Thalibin, juz 10, halaman 233)
Sungkeman biasanya dilakukan setelah pulang shalat Id, sebelum menyantap hidangan Idul Fitri. Dalam tradisi ini, memakan ketupat bersama turut dimaknai sebagai simbol bahwa pintu maaf telah terbuka dan kesalahan di antara satu sama lain telah dihapuskan.
Filosofi "laku papat" dalam ketupat
Selain bermakna "ngaku lepat" atau mengaku salah, ketupat juga sering dikaitkan dengan konsep "laku papat" atau empat tindakan dalam tradisi Lebaran. Sunan Kalijaga menjelaskan empat makna ini sebagai nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui perayaan Idul Fitri:
Maksud dari empat tindakan tersebut antara lain:
- Lebaran: Menandakan berakhirnya ibadah puasa Ramadan sekaligus terbukanya pintu ampunan.
- Luberan: Melambangkan rezeki yang melimpah dan ajakan untuk berbagi dengan sesama.
- Leburan: Menggambarkan dosa dan kesalahan yang melebur melalui saling memaafkan.
- Laburan: Bermakna penyucian diri, kembali bersih lahir dan batin setelah Ramadan.
Filosofi janur dan bentuk ketupat
Makna filosofis ketupat juga terlihat dari bahan dan bentuknya. Ketupat dibungkus dengan janur, yakni daun kelapa muda.
Dalam tradisi Jawa, kata janur sering dikaitkan dengan istilah Arab "Ja'a Nur" yang berarti telah datang cahaya. Makna ini dimaknai sebagai datangnya cahaya petunjuk setelah manusia menjalani proses spiritual selama Ramadan.
Foto: Pedagang menyelesaikan pembuatan kulit ketupat di Pasar Palmerah, Jakarta, Jumat (28/3/2025). Menjelang lebaran, sejumlah pedagang kulit ketupat musiman mulai menjajakan kulit ketupat dengan harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per ikat tergantung ukuran. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pedagang menyelesaikan pembuatan kulit ketupat di Pasar Palmerah, Jakarta, Jumat (28/3/2025). Menjelang lebaran, sejumlah pedagang kulit ketupat musiman mulai menjajakan kulit ketupat dengan harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per ikat tergantung ukuran. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Selain itu, bentuk ketupat yang menyerupai segi empat juga sering diibaratkan sebagai hati manusia. Ketika ketupat dibelah, bagian dalamnya tampak putih bersih, yang melambangkan hati yang telah kembali suci setelah seseorang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Hati yang bersih ini diharapkan bebas dari iri, dengki, maupun kotoran batin lainnya, sebagaimana ketupat yang terbungkus janur sebagai simbol datangnya cahaya.
Tradisi Lebaran Ketupat di Berbagai Daerah di Indonesia
Tradisi Lebaran Ketupat di Kudus, Jawa Tengah dimeriahkan dengan prosesi Kirab Gunungan Seribu Ketupat. Terdapat seribu ketupat dan ratusan lepet yang membentuk gunungan dan diarak oleh orang-orang dari desa menuju Masjid Sunan Muria. Tradisi ini bermakna sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran puasa Ramadhan.
Lebaran Ketupat juga dirayakan di Magelang dengan Festival Balon Syawalan. Tradisi tersebut diketahui sudah ada sejak tahun 1980-an dan melibatkan banyak orang untuk menerbangkan sekitar 150 balon udara tradisional. Lokasi yang digunakan dalam Festival Balon Syawalan adalah Masjid Agung Kauman dan lapangan dusun setempat.
Foto: Pedagang Ketupat di Kebayoran Lama (CNBC Indonesa/Tri Susilo)
Pedagang Ketupat di Kebayoran Lama (CNBC Indonesa/Tri Susilo)
Salah satu daerah di Pulau Jawa yang merayakan Lebaran Ketupat adalah Kota Batu, Jawa Timur. Warga di Kota Batu menyiapkan ketupat dengan ukuran mencapai lebar 50 centimeter (cm) serta panjang 60 cm dan tebalnya 30 cm.
Masyarakat Manado juga merayakan Lebaran Ketupat dengan saling bermaaf-maafan.
Hingga masyarakat di Lombok, NTB juga merayakan Lebaran Ketupat dengan nama Lebaran Topat yang sudah ada sejak zaman dahulu. Acara ini digelar dengan mengadakan 'nyangkar' dan melibatkan banyak orang. Dimana masyarakat lokal akan melakukan arak-arakan dengan cidomo hias berisi ketupat ke pusat acara yakni di makam Loang Baloq. Cidomo merupakan angkutan tradisional yang mirip dengan andong atau delman dari Lombok.
(mae/mae)
Addsource on Google

12 hours ago
5
















































