Jakarta, CNBC Indonesia - Nvidia menawarkan "pancingan" baru buat merekrut talenta terbaik ke perusahaan pembuat chip AI tersebut. Selain ditawarkan gaji tinggi, para programmer diberikan token penggunaan AI.
CEO Nvidia Jensen Huang mengungkapkan rencana memberikan token sebagai upah tambahan adalah upaya meningkatkan produktivitas karyawan. Token adalah istilah yang digunakan untuk "kuota" pemanfaatan sistem atau perangkat teknologi berbasis cloud.
Ia menyatakan skema upah beserta token adalah skema baru di Silicon Valley. Nilai token yang ditawarkan Nvidia, bahkan bisa mencapai setengah dari gaji pokok para engineer.
Huang ingin agar para engineer di Nvidia nantinya bisa bekerja dibantu ratusan ribu agen AI untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Saat ini, Nvidia mempekerjakan sekitar 42.000 karyawan.
Nvidia adalah perusahaan yang paling menikmati popularitas AI yang muncul bersamaan dengan peluncuran ChatGPT beberapa tahun lalu. Chip GPU buatan Nvidia adalah perangkat utama dalam proses pelatihan model AI dan operasionalnya.
Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, dan Meta kini bertarung dengan perusahaan baru seperti Anthropic dan OpenAI untuk mengamankan suplai GPU dari Nvdia. Dampaknya, harga saham Nvidia meroket dan menjadikan Huang salah satu orang terkaya di dunia dengan harta mencapai Rp 2.700 triliun.
Gagasan kompensasi dalam bentuk token muncul di saat berbagai pihak mencemaskan dampak AI terhadap ketersediaan lapangan kerja "kerah putih."
Laporan Goldman Sach memperkirakan 25 persen dari jam kerja di AS bisa diotomatisasi oleh AI. Produktivitasnya pun bisa naik hingga 15 persen.
Namun, pemanfaatan AI diproyeksikan menyebabkan hingga 7 persen pekerjaan yang biasanya diisi oleh manusia, lenyap.
Ekonom senior Goldman Sachs Joseph Briggs menyebut bahwa risiko penggantian tenaga kerja bisa lebih massif jika disrupsi AI terbukti lebih besar dibanding teknologi baru yang lahir pada masa sebelumnya.
Di sisi lain, Huang justru melihat perkembangan agen AI sebagai pendorong permintaan atas software. Makin banyak agen AI yang digunakan, kebutuhan akan infrastruktur, program dan sumber daya komputasi akan meningkat pesat.
Presiden perusahaan teknologi CI&T Bruno Guicardi menyebut perubahan ini sebagai pergeseran paradigma dalam industri software. Ia mengatakan para insinyur kini dapat memberi instruksi kepada komputer menggunakan bahasa sehari-hari, sehingga pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari.
Konsultan Mercer Lewis Garrad menyebut sekitar 98% eksekutif memperkirakan AI akan mengurangi tenaga kerja dalam dua tahun ke depan, sementara 54% masih menghadapi kelangkaan talenta.
Peran entry-level dinilai paling rentan tergantikan karena banyak tugas dasar kini dapat diotomatisasi oleh AI. Pendiri Intelligence Briefing Andreas Welsch menambahkan bahwa pekerjaan seperti analisis data, pemrosesan dokumen, dan penyusunan laporan awal menjadi yang paling berisiko terdampak.
(dem/dem)
Addsource on Google

4 hours ago
1
















































