Nasib Emiten Otomotif RI di Tengah Perang: Siapa Masih Melaju Kencang?

7 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

08 May 2026 10:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Musim rilis laporan keuangan tahunan 2025 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi daya tahan emiten otomotif dan komponen pendukungnya di Bursa Efek Indonesia.

Kinerja sektor ini sangat dipengaruhi oleh situasi makroekonomi yang dinamis, di mana eskalasi konflik geopolitik global memberikan tekanan pada industri manufaktur.

Gangguan rantai pasok internasional, khususnya kekhawatiran terhadap kelancaran jalur pelayaran strategis akibat tensi geopolitik, memicu volatilitas harga minyak bumi dan komoditas logam industri.

Kondisi ini secara langsung mendongkrak struktur beban pokok produksi. Pada saat yang sama, ketidakpastian global turut berdampak pada pelemahan daya beli domestik, memaksa emiten menerapkan strategi efisiensi ketat.

Menariknya, di tengah tantangan tersebut, emiten yang berfokus pada pasar suku cadang pengganti justru menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi.

Pencapaian Positif Laba Bersih Emiten Otomotif

Kelompok pertama ini diisi oleh lima emiten yang berhasil menentang arus pelemahan dengan mencetak pertumbuhan laba bersih secara tahunan. PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) memimpin secara persentase dengan lonjakan laba bersih 19,5% menjadi Rp 142,4 miliar.

Posisi selanjutnya diisi oleh PT Indospring Tbk (INDS) yang tumbuh 10,9% dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) dengan kenaikan 9,8%. Ketangguhan operasional juga ditunjukkan oleh emiten produsen komponen di bawah naungan grup Astra, yakni PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) yang labanya naik 8,4%, serta produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang tumbuh stabil di level 4,7%.

Rasio dan Valuasi Emiten Laba Positif

Dari sisi valuasi fundamental, pasar memberikan apresiasi beragam kepada emiten pencetak laba. SMSM tampil dengan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) paling impresif di level 26,11% dan margin laba bersih tertinggi di 21,1%, membuat sahamnya diperdagangkan pada valuasi premium dengan Price to Book Value (PBV) 2,49x.

Di sisi lain, GJTL dan AUTO menawarkan valuasi yang sangat murah bila dikomparasikan dengan kinerja solidnya. GJTL saat ini ditransaksikan dengan Price to Earnings Ratio (PER) hanya 3,35x, sementara AUTO berada di level PER 5,70x dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang sangat konservatif di 0,33x.

Kontraksi Laba Bersih Emiten Otomotif

Kelompok kedua merangkum delapan emiten yang mengalami kontraksi laba bersih akibat tekanan beban operasional dan pelemahan permintaan. PT Astra International Tbk (ASII) sebagai proksi utama industri otomotif nasional mencatatkan penurunan moderat sebesar 3,3%.

Penurunan yang lebih dalam dirasakan oleh PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dan PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS).

Kondisi terberat dialami oleh PT Indo Kordsa Tbk (BRAM) yang mencatatkan pembalikan arah dari posisi untung di tahun 2024 menjadi rugi bersih Rp 38,9 miliar pada tahun 2025. PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) juga masih tertahan di teritori negatif.

Rasio dan Valuasi Emiten Laba Tertekan

Penurunan performa ini berdampak langsung pada indikator valuasi. Walaupun mencatatkan penurunan laba, ASII masih menjaga posisi fundamental yang solid dengan ROE 11,27% dan diperdagangkan terdiskon pada PBV 0,81x.

PT Multi Prima Sejahtera Tbk (LPIN) juga menunjukkan stabilitas neraca dengan DER nyaris nihil di 0,07x. Di kubu yang berbeda, struktur utang menjadi faktor risiko utama bagi PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) yang memiliki DER tinggi mencapai 3,89x.

Hal senada juga terlihat pada HOPE yang memiliki DER 1,97x, membuat postur keuangannya rentan di tengah iklim suku bunga yang masih ketat. BRAM mencatatkan rasio PER negatif akibat posisinya yang mengalami kerugian pada tahun ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |