Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.360

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini dengan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Jumat (8/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp17.360/US$. Pelemahan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah dalam dua hari perdagangan beruntun sejak Rabu.

Sejak awal perdagangan, rupiah sebenarnya sudah bergerak di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah tipis 0,06% ke posisi Rp17.340/US$. Tekanan kemudian berlanjut hingga pelemahan rupiah semakin dalam pada penutupan perdagangan sore ini.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat tipis. Per pukul 15.00 WIB, DXY naik 0,05% ke level 98,112.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Kondisi tersebut menjadi penahan laju mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat seiring kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara kembali saling serang dan melontarkan pernyataan keras pada Kamis waktu setempat, sehingga menambah tekanan terhadap gencatan senjata yang sebelumnya sudah berjalan sekitar satu bulan.

Ketegangan terbaru itu membuat pelaku pasar kembali memburu dolar AS sebagai aset safe haven. Akibatnya, greenback menguat untuk hari kedua setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan pada awal pekan, ketika pasar sempat optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai.

Namun demikian, Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan, tetapi juga pola musiman pembayaran imbal hasil aset keuangan domestik kepada investor nonresiden.

"Pada Q2 2026 memang ada pola musiman pembayaran return aset keuangan domestik ke nonresiden yang mengakibatkan pelemahan rupiah," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (8/5/2026).

Di sisi lain, ketidakpastian global juga masih membayangi pergerakan rupiah karena membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.

Meski demikian, Faisal menilai tekanan depresiasi rupiah masih relatif terkendali. Menurutnya, peluang rupiah menembus level Rp18.000/US$ belum terlalu besar.

"Tekanan depresiasi kemungkinan besar akan berlanjut, tapi rasanya rupiah masih akan mampu bertahan di bawah Rp18.000," ujarnya.

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |