Pedih! Surga di Jantung Arab Terseret Neraka Perang Timur Tengah

8 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mengguncang fondasi ekonomi salah satu negara paling kaya dan paling stabil di kawasan Teluk, yakni Uni Emirat Arab. Negara yang selama puluhan tahun memasarkan diri sebagai pusat bisnis global yang aman di tengah kawasan penuh konflik itu kini justru ikut terseret langsung ke pusaran perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Melansir The Associated Press, Rabu (20/5/2026), selama perang berlangsung, UEA disebut menjadi negara yang paling banyak menerima serangan rudal dan drone Iran dibanding negara lain di kawasan. Serangan tersebut, ditambah kendali Iran atas Selat Hormuz, membuat ekspor minyak mentah dan gas alam UEA anjlok lebih dari separuh.

Sektor pariwisata dan konferensi internasional yang menjadi andalan Dubai juga mulai terpukul keras.

UEA yang terletak tepat di seberang Teluk Persia dari Iran berusaha menampilkan diri tetap tenang menghadapi situasi tersebut. Namun di balik itu, pemerintah mulai mengambil langkah besar, termasuk mengumumkan rencana pembangunan jalur pipa baru untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Selain itu, negara tersebut juga memutuskan keluar dari kartel minyak OPEC agar dapat meningkatkan produksi energi dalam jangka panjang, sesuatu yang sebenarnya sudah dipertimbangkan bahkan sebelum perang pecah.

Meski perang dimulai oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, posisi UEA kini disebut semakin terjerat dalam konflik. Sebuah serangan drone terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah pada Minggu lalu memperlihatkan bahwa risiko keamanan masih sangat tinggi meskipun gencatan senjata rapuh tengah berlangsung.

Pemerintah UEA menegaskan tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman tersebut. Dalam pernyataannya pada Minggu malam, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan negara itu "tidak akan mentoleransi ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatannya dalam keadaan apapun."

UEA juga menegaskan pihaknya "memiliki hak penuh, sah, berdaulat, diplomatik, dan militer untuk merespons setiap ancaman, tuduhan, atau tindakan permusuhan."

Kebijakan Agresif

UEA merupakan federasi tujuh kerajaan kecil atau emirat yang dipimpin secara monarki, termasuk Dubai dan Abu Dhabi. Dewan Tertinggi Federal memang menjadi lembaga tertinggi negara, namun pengambilan keputusan sangat didominasi oleh penguasa Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, dan keluarganya.

Para analis menyebut keluarga penguasa Abu Dhabi dalam beberapa dekade terakhir menjalankan kebijakan luar negeri yang jauh lebih agresif. UEA pernah terlibat dalam perang Yaman melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Negara itu juga membantu membawa Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi berkuasa pada 2013, serta dituduh mengirim senjata kepada pihak-pihak yang bertikai di Sudan dan Libya, tuduhan yang selalu dibantah UEA.

Sheikh Mohammed sendiri jarang berbicara di depan publik. Namun saat mengunjungi korban serangan Iran di sebuah rumah sakit pada Maret lalu, ia memberikan pernyataan singkat yang kini kembali ramai dikutip.

"UEA itu menarik, UEA itu indah, UEA adalah sebuah model. Tetapi saya katakan kepada mereka: jangan tertipu oleh penampilan UEA," ujar Sheikh Mohammed.

"UEA memiliki kulit yang tebal dan daging yang pahit; kami bukan mangsa yang mudah."

Bara di Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat kemampuan UEA mengekspor minyak dan gas terganggu besar. Meski beberapa kapal tanker masih berhasil keluar, kapasitas ekspor menjadi jauh lebih terbatas.

Saat ini, UEA hanya mampu mengekspor sekitar 1,8 juta barel minyak per hari melalui jalur pipa menuju Fujairah, kota pelabuhan di Teluk Oman yang berada di luar Selat Hormuz. Pemerintah kini berupaya mempercepat pembangunan pipa kedua untuk menggandakan kapasitas tersebut.

Dampak perang juga menghantam sektor pariwisata dan konferensi internasional UEA yang diperkirakan menyumbang lebih dari 12% total ekonomi negara.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari 70 acara internasional di UEA ditunda, dibatalkan, atau terganggu, menurut Northbourne Advisory, perusahaan komunikasi berbasis di Qatar yang memantau dampak perang.

Pemerintah UEA memang tidak mengeluarkan larangan resmi terhadap acara publik, namun banyak penyelenggara disebut mengubah rencana akibat persoalan asuransi dan tingginya risiko keamanan.

Pada 4 Mei lalu, maskapai nasional Emirates mengumumkan hampir seluruh jadwal penerbangan dari Bandara Internasional Dubai kembali normal. Namun pada hari yang sama, Iran kembali meluncurkan serangan rudal dan drone yang memicu alarm di ponsel warga dan memunculkan kecemasan di komunitas bisnis UEA.

Bandara Dubai sendiri dilaporkan mulai membangun struktur pelindung di sekitar tangki bahan bakar pesawat, meski pihak bandara menolak memberikan komentar.

Hotel Kosong, Bisnis Mulai Tertekan

Sejumlah hotel mewah di Dubai, termasuk hotel ikonik berbentuk layar kapal Burj Al Arab, kini ditutup sementara untuk renovasi di tengah merosotnya tingkat okupansi.

Tingkat hunian hotel disebut turun hingga sekitar 20%. Moody's Analytics memperkirakan angka itu bahkan bisa jatuh menjadi hanya 10% pada kuartal Juni, dibanding sekitar 80% sebelum perang pecah.

Moody's juga memperingatkan tingkat okupansi kemungkinan tetap rendah hingga sepanjang 2026 karena wisatawan internasional masih akan ragu datang meskipun konflik mereda.

Dalam analisis yang diterbitkan Senin lalu, Institute of International Finance menyebut: "Keterbukaan Dubai membuatnya rentan terhadap guncangan dalam perjalanan, logistik, dan kepercayaan, sementara neraca Abu Dhabi dan aset energinya memberi federasi kapasitas untuk menyerap pukulan."

Dunia Seni dalam Bayang-Bayang Perang

Dubai tetap berupaya menunjukkan bahwa kota itu masih terbuka bagi dunia internasional. Akhir pekan lalu, kota tersebut tetap menggelar pameran seni tahunan Art Dubai, meski dalam versi yang lebih kecil.

Nuansa perang terasa kuat di acara itu, terutama karena pembukaan pameran berlangsung di hari yang sama ketika Iran menyita sebuah kapal di dekat Fujairah.

Salah satu karya seni yang dipamerkan adalah jet tempur hitam berbentuk permainan koin yang dipenuhi sepatu tenis Nike hitam.

Seniman asal Spanyol, Solimán López, membawa karya mengenai asteroid kaya logam yang menjadi target misi NASA, sebagai refleksi terhadap perebutan sumber daya seperti minyak dan komoditas.

"Namun saya bilang saya harus melakukan yang terbaik, karena saya percaya ini adalah konteks yang sempurna untuk membicarakan hal ini di kawasan," katanya.

Seniman lain asal Beirut, Alfred Tarazi, mengingat bagaimana keluarganya hidup melewati dua perang dunia.

"Kehidupan tidak berhenti dalam perang dunia," ujarnya. "Kita hanya bisa melawan narasi kekerasan dengan budaya."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |