Pelemahan Rupiah Dan Kenaikan Harga Plastik Picu Lonjakan Pakan Ternak, Pemerintah Diminta Waspada

3 days ago 11
Ekonomi

15 April 202615 April 2026

Pelemahan Rupiah Dan Kenaikan Harga Plastik Picu Lonjakan Pakan Ternak, Pemerintah Diminta Waspada Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id): Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini, ditambah dengan lonjakan harga plastik, mulai berdampak pada kenaikan harga pakan ternak di pasaran. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan berbasis protein.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa dari hasil pemantauan di lapangan, harga pakan ternak mengalami kenaikan sekitar Rp200 hingga Rp500 per kilogram di tingkat pedagang.

“Kenaikan harga pakan ini terjadi seiring pelemahan rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.130 per dolar AS, serta didorong oleh naiknya harga plastik sebagai salah satu komponen pendukung,” ujar Gunawan, Rabu (15/4).

Ia menjelaskan, salah satu komponen utama dalam pakan ternak yang terdampak pelemahan rupiah adalah bungkil kedelai yang masih bergantung pada impor. Kondisi ini membuat biaya produksi pakan semakin meningkat.

“Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga plastik mendorong kenaikan harga pokok produksi (HPP) pakan, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan harga komoditas seperti telur ayam, daging ayam, daging sapi, hingga daging bebek dan telur puyuh,” jelasnya.

Meski demikian, Gunawan menilai kenaikan harga di tingkat konsumen tidak akan terjadi secara instan. Hal ini disebabkan pelaku usaha masih menahan kenaikan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat.

Sebagai contoh, harga sapi bakalan saat ini telah naik sekitar 9% dibandingkan sebelum memanasnya konflik Iran–AS. Namun, harga daging sapi di tingkat konsumen masih relatif stabil di kisaran Rp135 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram, meskipun harga keekonomian di tingkat pedagang besar diperkirakan telah menyentuh Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

“Pedagang memahami risiko jika harga dinaikkan, yakni potensi penurunan omzet dan kehilangan pelanggan. Karena itu, banyak yang memilih menahan kenaikan harga meskipun margin tertekan,” katanya.

Menurut Gunawan, pelaku usaha saat ini cenderung menanggung beban sementara sambil menunggu kondisi pasar yang masih dinamis, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang turut memengaruhi nilai tukar dan harga bahan baku.

Ia pun mengingatkan pemerintah untuk segera melakukan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi kenaikan harga pangan berbasis protein di masa mendatang.

“Pemerintah perlu waspada dan mengambil langkah antisipatif sejak dini agar tekanan harga tidak semakin meluas dan membebani masyarakat,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |