Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
23 May 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Inggris boleh saja sedang menghadapi banyak persoalan di dalam negeri. Namun, untuk urusan sepak bola, negara ini masih punya produk yang sangat kuat dan laku keras di seluruh dunia.
Produk itu adalah English Premier League atau Liga Inggris. Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris ini bukan hanya ditonton oleh warga Inggris, tetapi juga menjadi tontonan jutaan orang di seluruh dunia.
Bahkan, bagi sebagian orang, liga Inggris sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Orang tidak hanya menonton pertandingannya, tetapi juga memakai jersey klubnya, mengikuti berita tentang pemainnya, hingga menjadikan klub Inggris sebagai identitas mereka.
Mengutip The Economist, pengaruh liga inggris bisa ditemukan di banyak tempat yang jauh dari Inggris. Di Nigeria, kondektur bus banyak yang menjadi penggemar Chelsea. Di Goma, kota yang berada di bawah kendali kelompok pemberontak yang menentang pemerintah Kongo, banyak jersey palsu Newcastle United dijual bebas.
Newcastle punya penyerang bernama Yoane Wissa, pemain yang juga memperkuat tim nasional Kongo. Popularitas klub itu ikut terbawa ke negara asal sang pemain.
Di desa-desa kecil sekitar Danau Victoria, Kenya, kondisinya bahkan lebih menarik. Banyak desa di sana belum tentu memiliki listrik dan jalan yang layak. Namun, biasanya tetap ada pub kecil berupa gubuk sederhana dengan panel surya di atapnya, kulkas untuk mendinginkan bir, dan televisi kecil untuk menonton pertandingan Liga Inggris.
Fenomena yang sama juga terlihat di Amerika Serikat. Pub FancyFree di Brooklyn bisa penuh oleh pendukung Arsenal setiap kali klub London itu bertanding.
Pada Selasa (19/5/2026) lalu, Arsenal baru saja memastikan gelar juara Liga Inggris. Presiden Kenya dan Rwanda langsung menyampaikan ucapan selamat melalui media sosial. Di Botswana, pemerintah bahkan sampai harus membantah kabar palsu yang menyebut akan ada hari libur nasional untuk para penggemar Arsenal.
Liga Inggris Bukan Cuma Liga Bola Biasa
Liga Inggris kini bukan lagi sekadar kompetisi sepak bola. Liga ini sudah berubah menjadi kekuatan budaya global.
Pertandingan Liga Inggris disiarkan ke 191 dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Untuk satu laga besar antara klub papan atas, jumlah penontonnya bisa mencapai lebih dari 700 juta orang.
Sebagai perbandingan, Super Bowl di Amerika Serikat hanya menarik sekitar sepertiga dari jumlah tersebut.
Besarnya pengaruh Liga Inggris juga terlihat dari data pencarian Google di seluruh dunia. Tahun lalu, pencarian untuk Manchester United lebih banyak dibandingkan gabungan pencarian Taylor Swift dan seri buku Harry Potter.
Pada 2024, ketika Amerika Serikat menggelar pemilihan presiden dan terjadi percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump, Liga Inggris tetap menjadi topik pencarian yang lebih populer dibandingkan Trump. Dalam satu tahun terakhir saja, pencarian soal Liga Inggris bahkan mengalahkan pencarian soal Alkitab.
Pengaruh liga Inggris ini juga masuk ke bahasa dan politik. Di Korea Selatan, ada istilah "Leeds days" yang dipakai untuk menggambarkan masa kejayaan seseorang. Istilah itu merujuk pada Leeds United.
Di parlemen Swedia, seorang mantan menteri keuangan pernah memakai kata "Spursy". Istilah itu merujuk pada Tottenham Hotspur dan digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang atau sebuah pihak gagal menang meski sudah berada dalam posisi bagus.
Di Ghana, seorang anggota parlemen pada 2022 pernah menyindir wakil presiden negaranya sebagai "economic Maguire". Sindiran itu merujuk pada Harry Maguire bek asal Inggris yang bermain untuk Manchester United, yang digambarkan sering membuat "blunder" dalam urusan ekonomi.
Bukan yang Paling Kaya, Tapi Paling Mendunia
Meski sangat populer, liga Inggris bukan bisnis liga olahraga terbesar di dunia.
National Football League (NFL) di Amerika Serikat masih jauh lebih besar. Liga basket dan bisbol utama di AS juga lebih besar dari sisi bisnis.
Manchester City berhasil merebut tiga poin dari Arsenal di laga pekan ke-38 Liga Inggris 2025-2026. Bertanding di Etihad Stadium, Minggu (19/4/2026) malam WIB, hasil Man City vs Arsenal selesai dengan skor 2-1. (Action Images via Reuters/Lee Smith) Foto: Manchester City berhasil merebut tiga poin dari Arsenal di laga pekan ke-38 Liga Inggris 2025-2026. Bertanding di Etihad Stadium, Minggu (19/4/2026) malam WIB, hasil Man City vs Arsenal selesai dengan skor 2-1. (Action Images via Reuters/Lee Smith)
Klub-klub Premier League juga tidak selalu mudah mencetak keuntungan. Berbeda dengan klub olahraga Amerika yang berbentuk waralaba, klub Inggris menghadapi risiko degradasi. Jika performa buruk, klub bisa turun kasta dan kehilangan pendapatan besar.
Tahun lalu, hanya empat dari 20 klub liga Inggris yang mencatat laba sebelum pajak.
Banyak klub juga masih ditopang investor asing. Manchester City dimiliki Abu Dhabi, sementara Newcastle United dimiliki Saudi. Bagi sebagian pemilik, klub sepak bola bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga soal gengsi, pengaruh, dan citra global.
Lebih dari separuh klub Premier League kini dimiliki atau sebagian dimiliki investor asal Amerika Serikat. Motif mereka biasanya lebih langsung, yakni mencari keuntungan finansial.
Dari sisi prestasi Eropa, klub-klub Inggris juga bukan yang paling dominan. Klub-klub Spanyol masih jauh lebih banyak memenangkan Liga Champions, kompetisi paling bergengsi di Eropa.
Namun, musim ini klub-klub Inggris tampil sangat kuat. Mereka berhasil mencapai final di tiga kompetisi besar Eropa.
Aston Villa menjuarai Liga Europa musim ini. Crystal Palace akan bertanding di final Conference League. Sementara Arsenal akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions pada 30 Mei mendatang.
Foto: The Economist
Dari sisi pendapatan, Liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir jauh mengungguli liga-liga besar Eropa lainnya, berdasarkan data Deloitte.
Konsultan EY menghitung Liga Inggris menghasilkan nilai tambah bruto sekitar 10 miliar pound sterling atau setara US$13 miliar per tahun bagi ekonomi Inggris.
Artinya, di tengah banyaknya persoalan domestik Inggris, Liga Inggris masih menjadi salah satu produk negara itu yang benar-benar kuat di panggung dunia.
Dulu Sempat Suram
Kesuksesan Premier League sebenarnya tidak terjadi begitu saja.
Sepak bola modern memang lahir di Inggris pada abad ke-19, lalu menyebar ke seluruh dunia. Namun, pada 1980-an, wajah sepak bola Inggris sangat buruk. Kekerasan, kerusuhan, dan penurunan kualitas menjadi masalah besar.
Klub-klub Inggris bahkan pernah dilarang tampil di kompetisi Eropa selama lima tahun setelah pendukung Liverpool menyebabkan insiden kerumunan yang menewaskan 39 orang.
Pada masa itu, liga-liga Eropa lain seperti Serie A Italia dan La Liga Spanyol terlihat lebih glamor. Mereka memiliki lebih banyak bintang besar dan lebih menarik perhatian dunia.
Para pemain Inter Milan melakukan selebrasi usai laga sepak bola Serie A antara AC Milan dan Inter Milan di stadion San Siro di Milan, Italia, Senin, 22 April 2024. (AP Photo/Luca Bruno) Foto: Para pemain Inter Milan melakukan selebrasi usai laga sepak bola Serie A antara AC Milan dan Inter Milan di stadion San Siro di Milan, Italia, Senin, 22 April 2024. (AP/Luca Bruno)
Perubahan mulai terjadi pada 1990-an. Sepak bola Inggris mulai berbenah. Minuman alkohol dilarang di tribun, tindakan rasisme ditekan lebih keras, dan stadion-stadion diperbaiki.
Sejak saat itu, popularitas sepak bola Inggris terus naik, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Banyak stadion baru dibangun atau direnovasi. Hampir setiap pekan, stadion Premier League penuh oleh penonton.
Tiga Kunci Sukses Liga Inggris
Ada tiga faktor utama yang membuat Liga Inggris bisa sebesar sekarang, yakni ekspor, impor, dan persaingan.
Dari sisi ekspor, Premier League menikmati keuntungan karena bergerak lebih awal. Pada delapan tahun pertama sejak berdiri pada 1992, liga ini tidak terlalu mengejar keuntungan besar dari hak siar global.
Sebaliknya, Premier League membangun basis penggemar di banyak negara lebih dulu. Ketika liga-liga Eropa lain baru menyadari besarnya pasar luar negeri untuk siaran sepak bola langsung, Premier League sudah lebih dulu menjadi pemain dominan.
Kieran Maguire, pakar keuangan sepak bola dari University of Liverpool, mengatakan pendapatan hak siar bisa menjadi gambaran seberapa besar pengikut sebuah liga. Menurutnya, Premier League menghasilkan pendapatan hak siar dua kali lebih besar dibandingkan La Liga, Bundesliga, dan Serie A.
Sekitar separuh pendapatan Premier League berasal dari hak siar televisi. Mayoritas pendapatan hak siar itu berasal dari luar negeri, menurut data Ampere Analytics.
Foto: The Economist
Sebagai perbandingan, NFL memperoleh 98% pendapatan hak medianya dari pasar domestik Amerika Serikat.
Pelatih dan Pemain Asing Jadi Magnet
Faktor kedua adalah impor. Premier League tidak hanya mendatangkan pemilik asing, tetapi juga pelatih dan pemain asing.
Dari 20 klub Premier League, 14 di antaranya dilatih pelatih asing. Beberapa yang paling sukses adalah Pep Guardiola di Manchester City dan Mikel Arteta di Arsenal.
Menariknya, belum pernah ada pelatih asal Inggris yang memenangkan Premier League.
Pemain asing juga menjadi bagian penting dari liga ini. Sekitar 75% menit bermain di Premier League musim ini dicatat oleh pemain kelahiran luar Inggris.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan Jerman yang sebesar 62% dan Spanyol 44%.
Secara total, pemain dari 128 negara pernah tampil di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Negara-negara itu mencakup Islandia, Togo, Suriname, hingga Venezuela.
Dalam pertandingan kompetitif terakhir tim nasional Belanda, sembilan pemain inti mereka bermain untuk klub Inggris.
Memang, kapten Inggris Harry Kane kini bermain di Bayern Munich dan sudah mencetak 58 gol musim ini. Jude Bellingham, yang disebut sebagai calon penerusnya, juga bermain untuk Real Madrid.
Namun, banyaknya bintang asing di Inggris tetap menjadi keuntungan besar. Para pemain itu membawa penggemar dari negara asal masing-masing untuk ikut menonton Premier League.
Masalahnya, pemain-pemain ini sangat mahal. Itu pula yang membuat keuangan klub Premier League sering rapuh.
Sebagian besar uang klub mengalir ke gaji pemain. Mantan chairman Tottenham Hotspur, Sir Alan Sugar, pernah menyebut fenomena ini sebagai "prune-juice effect", yakni uang masuk dari satu sisi dan langsung keluar dari sisi lain.
Musim lalu, klub-klub Premier League rata-rata menghabiskan 65% pendapatan mereka untuk membayar gaji. Di luar kelompok "big six", porsi itu naik menjadi 76%.
Persaingan Lebih Merata
Faktor ketiga adalah persaingan.
Seperti liga lain, Premier League tetap didominasi sejumlah klub besar. Namun, dominasi itu tidak terlalu monoton. Uang dan talenta tersebar lebih merata dibandingkan banyak liga Eropa lain.
Salah satu penyebabnya adalah pembagian uang hak siar yang lebih adil.
Di Spanyol, porsi terbesar uang hak siar sejak lama lebih banyak mengalir ke dua atau tiga klub terbesar. Di Inggris, nilai total kuenya lebih besar, tetapi klub-klub kecil juga mendapatkan bagian yang lebih besar.
Pada musim 2024-2025, setiap klub Premier League menerima lebih dari 100 juta pound sterling dari hak siar.
Hal ini membuat klub promosi sekalipun bisa belanja besar. Sunderland, yang baru naik kasta, menghabiskan lebih dari 170 juta pound sterling atau sekitar US$230 juta, setara 200 juta euro. Kini, klub tersebut aman di papan tengah klasemen.
Sebaliknya di Spanyol, tiga klub promosi musim lalu yakni Elche, Levante, dan Real Oviedo hanya menghabiskan total 17 juta euro pada bursa transfer musim panas lalu, menurut Transfermarkt.
Liga Bawah Masih Bertahan
Kesuksesan Premier League sempat menimbulkan kekhawatiran. Uang besar yang mengalir ke 20 klub teratas dikhawatirkan akan merusak ekosistem liga bawah Inggris.
Namun sejauh ini, kekhawatiran itu belum benar-benar terjadi. Sistem liga bawah Inggris yang sangat luas masih bertahan.
Meski begitu, bukan berarti Premier League bebas risiko.
Ancaman klub-klub besar memisahkan diri untuk membentuk European Super League sesekali masih muncul. Namun, ancaman itu biasanya kembali mereda.
Risiko lain datang dari skandal pelanggaran aturan belanja. Hal ini bisa merusak reputasi liga. Kontroversi soal sumber dana pemilik klub dan sponsor judi olahraga juga bisa menjadi masalah besar.
Kasus semacam ini pernah terlihat ketika oligarki Rusia Roman Abramovich dipaksa menjual Chelsea pada 2022.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintahan Partai Buruh di Inggris membentuk Independent Football Regulator (IFR).
Regulator ini sedang menyiapkan sistem lisensi untuk klub. Targetnya, aturan tersebut mulai berlaku pada musim 2027-2028.
IFR menyebut kebijakan ini sebagai perubahan terbesar dalam tata kelola sepak bola klub Inggris sejak Premier League dibentuk pada 1992.
Dampaknya masih harus dilihat. Jika regulator terlalu keras, Premier League bisa kehilangan sebagian daya tarik dan kelincahannya.
Namun untuk saat ini, dari bus-bus di Lagos hingga bar-bar di Brooklyn, Premier League masih memegang pengaruh yang luar biasa besar di dunia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

6 hours ago
6

















































