Resmi! AS Cabut Sanksi Minyak Iran, tapi...

13 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah lonjakan harga energi global akibat perang di Timur Tengah, Amerika Serikat mengambil langkah mengejutkan dengan membuka keran pasokan minyak yang sebelumnya dibatasi sanksi terhadap Iran.

Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Jumat (20/3/2026) waktu setempat memutuskan untuk sementara mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang sudah dimuat di kapal tanker. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya terbaru Washington untuk meredam krisis pasokan energi global yang kian memburuk.

Dalam pernyataan resminya, otoritas tersebut menjelaskan bahwa izin ini berlaku untuk pengiriman dan penjualan minyak mentah Iran serta produk minyak lainnya yang telah dimuat ke kapal sebelum 20 Maret. Kebijakan ini bersifat sementara dan akan berlaku hingga 19 April.

Langkah ini diambil oleh Office of Foreign Assets Control (OFAC), lembaga di bawah Departemen Keuangan AS, setelah sebelumnya Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa opsi tersebut tengah dipertimbangkan. Kebijakan ini juga mengikuti langkah serupa yang sebelumnya diberikan terhadap minyak Rusia yang berada di laut.

Kebijakan darurat ini muncul di tengah tekanan besar terhadap pasar energi global. Blokade de facto Iran terhadap Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, serta berbagai serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan telah mendorong harga minyak melonjak tajam.

Dalam pernyataannya, Bessent menyebut langkah ini sebagai kebijakan yang bersifat terbatas dan jangka pendek, sejalan dengan arahan Presiden Donald Trump untuk "memaksimalkan aliran energi ke dunia" dan menjaga stabilitas pasar.

"Pada saat ini, minyak Iran yang dikenai sanksi sedang ditimbun oleh China dengan harga murah," kata Bessent, dilansir AFP.

"Dengan sementara membuka pasokan yang sudah ada ini untuk dunia, Amerika Serikat akan dengan cepat menghadirkan sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global, memperluas jumlah energi dunia dan membantu meredakan tekanan sementara terhadap pasokan yang disebabkan oleh Iran."

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Pemerintah di Teheran menyatakan tidak memiliki kelebihan pasokan minyak mentah untuk dijual ke pasar internasional.

"Untuk saat ini, Iran pada dasarnya tidak memiliki kelebihan minyak mentah baik yang berada di laut maupun untuk dipasok ke pasar internasional lainnya, dan pernyataan Menteri Keuangan AS semata-mata bertujuan memberikan harapan kepada para pembeli," tulis juru bicara Kementerian Perminyakan Iran, Saman Ghoddoosi, melalui platform X.

Meski demikian, kebijakan pelonggaran sanksi ini tidak berlaku untuk pengiriman minyak ke negara atau wilayah tertentu, termasuk Kuba, Korea Utara, serta wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Di pasar energi, harga minyak tetap menunjukkan tren kenaikan pada akhir perdagangan Jumat, meskipun belum menembus ambang US$120 per barel yang sempat beberapa kali didekati sejak konflik pecah tiga pekan lalu.

Minyak mentah Brent naik 3,26% menjadi US$112,19 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan AS menguat 2,27% ke level US$98,32 per barel.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |