RI Impor Minyak US$15 Miliar dari AS, Penjelasan Lengkap Bahlil

20 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan terkait keputusan Indonesia yang akan mengimpor komoditas energi dari Amerika Serikat (AS) dengan nilai mencapai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 253,47 triliun (kurs Rp 16.898/US$).

Menurut Bahlil, langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan bilateral antara Indonesia dan AS untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara.

"Kita tahu bersama bahwa dalam perjanjian tersebut telah dimuat secara jelas bahwa untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar US$ 15 miliar," kata Bahlil dalam Konferensi Pers secara daring, dikutip Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan dari total nilai US$ 15 miliar tersebut, alokasi pembelian mencakup sejumlah komoditas seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG, serta minyak mentah.

"Sudah barang tentu ini adalah merupakan langkah sejarah baru kita membeli dalam jumlah yang besar. Dan nanti akan dijelaskan oleh Dirut Pertamina tentang teknis implementasinya," kata Bahlil.

Di sisi lain, ia menegaskan alokasi dana sebesar US$ 15 miliar untuk pembelian BBM dari Amerika Serikat bukan berarti pemerintah menambah volume impor. Langkah tersebut hanya merupakan pengalihan sebagian sumber impor dari negara lain ke Amerika Serikat.

Ia menyebut secara keseluruhan pembelian BBM Indonesia dari luar negeri tetap sama dan tidak mengalami peningkatan. Pemerintah, kata Bahlil, hanya melakukan penggeseran sumber pasokan dari negara lain ke Amerika Serikat.

Bahlil menyadari impor LPG Indonesia saat ini memang tergolong besar, yakni sekitar 7 juta ton per tahun. Selama ini sebagian pasokan LPG tersebut juga telah berasal dari Amerika Serikat, namun ke depan volumenya akan ditingkatkan

"Begitu kami mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo, begitu 90 hari ke depan sudah selesai, maka langsung kita mulai tahapan eksekusi. Jadi ini langsung bisa berjalan supaya tidak ada suatu persepsi yang berbeda dari teman-teman yang ada di sana," ujar Bahlil.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan dokumen Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), dari perjanjian impor energi US$ 15 miliar tersebut, terbesar berasal dari komoditas bensin, yakni mencapai US$ 7 miliar. Sementara impor minyak mentah US$ 4,5 miliar, dan impor LPG "hanya" US$ 3,5 miliar.

Perjanjian terkait pembelian atau impor komoditas energi dari AS ini terdapat pada Annex IV, khususnya bagian barang industri. Pada poin ke-2 perihal barang industri itu diatur bahwa Indonesia harus mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk mengimpor komoditas energi dari AS senilai US$ 15 miliar, terdiri dari:

a. Meningkatkan impor batu bara metalurgi AS untuk mendukung pembuatan baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, dan mengurangi ketergantungan pada impor dari pelaku manipulasi pasar;

b. Meningkatkan impor teknologi batu bara canggih AS dan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, dan komersialisasi teknologi tersebut, termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk menggunakan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk menghasilkan bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk bahan bakar pembangkit listrik dan proses industri lainnya:

c. Mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$ 3,5 miliar.

d. Mendukung dan memfasilitasi pembelian minyak mentah senilai US$ 4,5 miliar.

e. Mendukung dan memfasilitasi pembelian produk bensin senilai US$ 7 miliar.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |