Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan udara mematikan kembali mengguncang Sudan dan menghancurkan fasilitas kesehatan hingga menelan puluhan korban jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan pada Sabtu, (23/03/2026), sebuah serangan terhadap fasilitas layanan kesehatan di Sudan telah menewaskan 64 orang dan melukai 89 orang lainnya.
Kantor Kemanusiaan PBB di Sudan sebelumnya menyatakan sangat terkejut atas serangan terhadap sebuah RS di Darfur Timur kemarin, yang dilaporkan menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak, dan melukai lebih banyak lagi.
Kelompok Hak Asasi Manusia Sudan, Emergency Lawyers, yang mendokumentasikan kekejaman dalam perang antara tentara Sudan dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF), melaporkan serangan pesawat tak berawak milik tentaralah yang menghantam RS pendidikan El-Daein tersebut.
Saat ini RSF mendominasi wilayah Darfur barat yang luas, sementara pihak tentara mengendalikan wilayah timur, tengah, dan utara Sudan. Sistem pengawasan WHO untuk serangan menandai insiden pada hari Jumat tersebut sebagai kejadian yang terkonfirmasi, namun lembaga tersebut tidak memberikan lokasi perincian secara persis.
Catatan lembaga itu menunjukkan serangan tersebut melibatkan kekerasan dengan senjata berat dan berdampak pada fasilitas layanan kesehatan sekunder, personel medis, pasien, persediaan, hingga penyimpanan. Meskipun WHO menghitung dan memverifikasi serangan terhadap layanan kesehatan, lembaga ini tidak memberikan atribusi kesalahan kepada pihak mana pun karena WHO bukan merupakan badan investigasi.
Kota El-Daein yang merupakan ibu kota negara bagian Darfur Timur yang dikuasai RSF, memang telah diserang secara rutin oleh tentara. Pihak militer berupaya mendorong mundur pasukan paramiliter tersebut kembali ke benteng pertahanan mereka di Darfur dan menjauh dari koridor pusat Sudan. Serangan terbaru militer di pasar kota tersebut pada awal bulan ini bahkan sempat membakar tong-tong minyak yang terus berkobar selama berjam-jam.
Serangan pesawat tak berawak atau drone yang terjadi hampir setiap hari kini menjadi ciri khas perang saudara Sudan yang brutal, di mana puluhan orang tewas dalam satu waktu, terutama di wilayah Kordofan selatan.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Türk, pada bulan ini mengaku merasa ngeri setelah lebih dari 200 warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan pesawat tak berawak dalam kurun waktu delapan hari.
"Pihak-pihak yang berkonflik di Sudan terus menggunakan drone yang semakin kuat untuk mengerahkan senjata peledak dengan dampak area luas di daerah berpenduduk padat," kata Türk dikutip Guardian.
Meski PBB telah berulang kali melontarkan kecaman, rumah sakit tetap menjadi target rutin sepanjang peperangan ini berlangsung. Hingga Desember lalu, lebih dari 1.800 orang tewas dalam serangan terhadap fasilitas kesehatan sejak awal perang, termasuk 173 petugas kesehatan, menurut data PBB.
Tahun ini, sebanyak 12 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Sudan telah tercatat, yang menyebabkan 178 kematian dan 237 cedera. Di seluruh negeri, perang tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa lebih dari 11 juta orang meninggalkan rumah mereka.
Konflik ini telah memicu apa yang digambarkan oleh PBB sebagai krisis perpindahan penduduk dan kelaparan terbesar di dunia. Saat ini, lebih dari 33 juta orang di Sudan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
(miq/miq)
Addsource on Google

3 hours ago
3
















































