Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru menemukan bahwa orang yang bekerja lebih lama memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami obesitas dibandingkan mereka yang memiliki jam kerja lebih singkat. Temuan ini kembali menyoroti dampak gaya hidup modern dan tekanan pekerjaan terhadap kesehatan tubuh.
Mengutip Independent, jam kerja yang panjang sering kali membuat seseorang kurang memiliki waktu untuk berolahraga, beristirahat cukup, hingga menyiapkan makanan sehat. Akibatnya, banyak pekerja memilih makanan cepat saji, ngemil berlebihan, dan menjalani pola hidup sedentari atau minim aktivitas fisik.
"Ketika orang memiliki kehidupan yang lebih seimbang, mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Mereka memiliki lebih sedikit stres, mereka dapat fokus pada makanan yang lebih bergizi dan terlibat dalam lebih banyak aktivitas fisik," kata Dr. Pradeepa Korale-Gedara dari Universitas Queensland, Australia, yang merupakan penulis utama studi ini.
Studi internasional yang dipresentasikan pada Kongres Obesitas Eropa (ECO 2026) tahun ini di Istanbul membandingkan pola kerja dan prevalensi obesitas untuk 33 negara OECD, termasuk Inggris, dari tahun 1990 hingga 2022. Studi tersebut menemukan bahwa negara-negara seperti AS, Meksiko, dan Kolombia, yang memiliki jam kerja tahunan lebih panjang, juga memiliki tingkat obesitas yang lebih tinggi. Namun, pengurangan jam kerja tahunan hanya sebesar 1 persen dikaitkan dengan penurunan angka obesitas sebesar 0,16 persen.
Namun, penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan dan tidak membuktikan bahwa jam kerja yang lebih panjang menyebabkan obesitas, karena tingkat pendapatan dari berbagai negara juga dapat menjadi faktor.
Tingkat pendapatan yang lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat obesitas yang lebih rendah, dengan peningkatan 1 persen dalam PDB per kapita dikaitkan dengan penurunan obesitas sebesar 0,112 persen.
Beberapa negara, termasuk Chili, Meksiko, dan Selandia Baru, juga menunjukkan tingkat obesitas yang tinggi, melebihi 30 persen, sedangkan beberapa negara Eropa, khususnya di Eropa Utara dan Barat, mempertahankan tingkat di bawah 20 persen. Namun, Inggris berada di antara kedua ekstrem tersebut dengan tingkat 26,8 persen.
Inggris memiliki salah satu tingkat obesitas terburuk di Eropa. Sekitar 3,8 juta anak berusia antara lima dan 19 tahun di Inggris memiliki BMI tinggi - itu sekitar dua kali lebih tinggi daripada jumlah anak yang kelebihan berat badan atau obesitas di Prancis dan Italia.
"Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara jam kerja dan obesitas itu kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial-ekonomi dan budaya," tulis para penulis studi tersebut.
Pola-pola ini menunjukkan mekanisme potensial seperti berkurangnya waktu untuk aktivitas fisik, meningkatnya stres terkait pekerjaan, dan ketergantungan yang lebih besar pada makanan siap saji yang padat energi.
"PDB per kapita yang lebih tinggi, urbanisasi yang lebih besar, dan harga makanan yang lebih tinggi berasosiasi negatif dengan prevalensi obesitas pada orang dewasa, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang lebih baik, lingkungan perkotaan yang lebih mendukung, dan biaya makanan relatif yang lebih tinggi dapat memfasilitasi pilihan diet yang lebih sehat," ungkap studi tersebut.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

5 hours ago
2

















































