Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga kapasitas 100 Giga Watt (GW) yang merupakan arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Target tersebut akan dicapai secara bertahap dalam 2 tahun.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang merinci pembangunan dalam jangka pendek. Dia menyebutkan prioritas kapasitas sebesar 17 GW akan dipenuhi terlebih dahulu sebelum berlanjut ke target total sesuai instruksi Presiden.
"Ini dilakukan prioritas itu kan 17 GW terlebih dulu jadi untuk 17 GW ya, kemudian secara bertahap ini akan dipenuhi sampai dengan 100 GW," ungkapnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Pembangunan infrastruktur tersebut akan diarahkan salah satunya dengan program dedieselisasi atau pengurangan porsi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pemerintah memprioritaskan wilayah-wilayah yang memiliki Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik tinggi agar segera beralih menggunakan PLTS.
"Jadi ini kan ya kita petakan untuk seluruh kebutuhan itu kan ada kebutuhan ini sebagai substitusi atau konversi dari ini dedieselisasi ya, kemudian itu kan juga ada gas kita menggunakan itu sekitar 20 GW untuk ini PLTG," paparnya.
Meskipun, target 100 GW tersebut melampaui target awal dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah memastikan bahwa RUPTL bersifat fleksibel. Penyesuaian regulasi akan terus dilakukan guna menyelaraskan rencana penyediaan tenaga listrik dengan kebutuhan energi nasional saat ini.
"Ya, ini RUPTL kan bisa diubah itu kan rencana sesuai kebutuhan," tandasnya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto ingin mempercepat langkah transisi ke energi hijau, salah satunya dengan target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas "raksasa".
Dia menargetkan, Indonesia bisa mencapai kapasitas terpasang hingga 100 Giga Watt (GW) setidaknya pada 2029 mendatang.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan memaksimalkan pemanfaatan listrik dari energi surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
"Kami ingin bergerak sangat cepat untuk menggunakan listrik dari energi surya. Kami memiliki rencana dan kami bertekad untuk berjalan secepat mungkin, dalam waktu tiga tahun, kami ingin mencapai 100 Giga Watt energi surya," ucap Prabowo dalam acara Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).
Rencana percepatan pembangunan PLTS tersebut dinilai mendesak untuk direalisasikan. Menurutnya, eskalasi konflik dan ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang, khususnya di kawasan Timur Tengah menjadi ancaman bagi stabilitas pasokan energi nasional.
"Bagi kami, hal ini lebih mendesak karena situasi geopolitik di Timur Tengah memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan energi kami," tegas Prabowo.
Sebagai antisipasi, pemerintah terus berupaya mengamankan pasokan melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Selain tenaga surya, Indonesia juga memiliki potensi besar di sektor panas bumi serta tengah menggenjot produksi bahan bakar nabati (biofuel) seperti biodiesel 50% (B50) dan bioetanol.
(wia)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































