Jakarta, CNBC Indonesia - Utang global kembali mencetak rekor baru dan kini mendekati US$353 triliun atau setara sekitar Rp6.125 kuadriliun (asumsi kurs Rp17.355/US$). Di tengah lonjakan tersebut, investor global mulai menunjukkan tanda-tanda mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Hal itu terungkap dalam laporan triwulanan Global Debt Monitor yang dirilis Institut Keuangan Internasional atau Institute of International Finance (IIF), Rabu waktu setempat.
IIF mencatat meningkatnya minat investor internasional terhadap obligasi pemerintah Jepang dan Eropa. Sebaliknya, permintaan terhadap surat utang pemerintah AS cenderung stagnan sejak awal tahun.
"Tren ini sebagian mencerminkan perbedaan lintasan utang, yang semakin memengaruhi keputusan alokasi investor," kata Direktur Pasar dan Kebijakan Global IIF, Emre Tiftik, seperti dikutip Reuters, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, arah kebijakan fiskal AS menjadi perhatian utama pasar. Berdasarkan kebijakan saat ini, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) AS diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
"Proyeksi terbaru dari Kantor Anggaran Kongres menunjukkan memburuknya prospek fiskal jangka panjang," ujar Tiftik.
Kondisi tersebut berbeda dengan zona euro dan Jepang yang dinilai memiliki jalur rasio utang lebih moderat, meskipun tetap menjalankan ekspansi fiskal.
Meski begitu, pasar obligasi korporasi AS masih tumbuh kuat. IIF menyebut penerbitan surat utang yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta derasnya arus modal asing masih menopang pasar tersebut.
Laporan itu juga mengungkapkan lonjakan utang global lebih dari US$4,4 triliun atau sekitar Rp76.362 triliun pada kuartal I-2026. Kenaikan ini menjadi yang tercepat sejak pertengahan 2025 sekaligus menandai kenaikan kuartalan kelima berturut-turut.
IIF menilai lonjakan pinjaman pemerintah AS menjadi salah satu motor utama kenaikan utang global. Selain AS, peningkatan tajam juga terjadi di China.
Namun, Tiftik menyoroti bahwa lonjakan utang Negeri Tirai Bambu lebih banyak berasal dari korporasi non-keuangan, terutama perusahaan milik negara, dan melampaui penambahan utang pemerintah pusat.
Di luar dua ekonomi terbesar dunia tersebut, utang di negara maju justru sedikit menurun. Sementara itu, pasar negara berkembang selain China mengalami kenaikan moderat hingga mencapai rekor US$36,8 triliun atau sekitar Rp638.664 triliun, terutama didorong pinjaman pemerintah.
Secara keseluruhan, rasio utang global kini mencapai 305% terhadap output ekonomi dunia. Angka itu relatif stabil sejak 2023, namun pola pergerakannya berbeda antara negara maju dan berkembang.
IIF mencatat kenaikan rasio utang terbesar terjadi di Norwegia, Kuwait, China, Bahrain, dan Arab Saudi. Kelima negara tersebut mengalami peningkatan lebih dari 30 poin persentase terhadap PDB.
Ke depan, IIF memperkirakan tekanan struktural akan membuat utang pemerintah maupun korporasi terus meningkat dalam jangka menengah hingga panjang. Faktor pendorongnya mulai dari penuaan populasi, kenaikan belanja pertahanan, diversifikasi energi, keamanan siber, hingga investasi besar di sektor AI.
"Konflik baru-baru ini di Timur Tengah diperkirakan akan semakin memperparah beberapa tekanan ini," kata Tiftik.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

13 hours ago
2

















































