Warga Gelisah, Ancaman Pengangguran Massal Bikin Ketar-Ketir

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Demam kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memang kian menjamur di kehidupan sehari-hari. Namun di balik kecanggihannya, bayang-bayang kekhawatiran berupa PHK massal hingga meningkatnya pengangguran masih menghantui mayoritas pekerja global.

Kepanikan ini diperparah oleh sikap jajaran bos korporasi yang kerap asal adopsi teknologi tanpa strategi komunikasi yang jernih. Imbasnya, hubungan antara manajemen dan karyawan renggang, menciptakan krisis kepercayaan yang makin sulit diatasi.

Survei menunjukkan, meski banyak korporasi mulai membatalkan keputusan PHK massal akibat efisiensi AI dalam setahun terakhir, sekitar 53% masyarakat Amerika Serikat (AS) masih dibayang-bayangi ketakutan bahwa AI bakal menggusur mata pencaharian anggota keluarga mereka.

Gelombang penolakan AI bahkan telah merembet ke panggung politik pemilu sela (midterm elections) hingga menggoyang dokumen prospektus penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sejumlah calon emiten.

Managing Partner Gartner, Jackie Swanson, menilai korporasi global kerap melakukan kesalahan fatal dalam membangun kepercayaan (trust) di era adopsi AI.

"Setiap organisasi punya peta jalan (roadmap) adopsi AI. Namun, hampir tidak ada yang memiliki rencana jujur mengenai dampaknya terhadap SDM, ritme kerja, dan jaringan calon pemimpin masa depan mereka," tegas Swanson, dikutip dari CNBC International, Senin (24/8/2026).

Mengubah Narasi: Bukan Efisiensi, tapi Akselerasi

Sejumlah raksasa teknologi dan manufaktur global mulai memutar otak guna meredam kepanikan karyawan melalui pendekatan komunikasi yang jauh lebih humanis:

  • Ironclad (Startup Software): Perusahaan merombak narasi adopsi AI dari sekadar efisiensi biaya (cost-cutting) menjadi akselerasi bisnis. "Dalam strategi efisiensi, pencapaian terbaik Anda hanya menekan biaya ke angka nol. Sementara dalam akselerasi, potensinya tanpa batas," ungkap CTO Ironclad, Sunita Verma. Karyawan dibekali pelatihan (upskilling) alih-alih diancam perumahan.
  • Superhuman (Dahulu Grammarly): Mengabaikan perintah kaku dari atas ke bawah (top-down mandate). Chief People Officer Superhuman, Kenny Mendes, menyerahkan wewenang penuh kepada tim operasional di lapangan untuk memilih dan menjajal alat AI yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
  • Torani (Produsen Sirup 103 Tahun): Memegang rekor fantastis zero PHK selama satu abad lebih. CEO Torani, Melanie Dulbecco, menghapus kata 'efisiensi' dan 'akselerasi' dari kamus komunikasi perusahaan. "Istilah itu tak menarik bagi karyawan. Kami ubah narasinya: bagaimana membuat pekerjaan Anda lebih menarik dan mengurangi proses manual?" jelas Dulbecco. Torani bahkan berkomitmen tidak akan menghapus posisi kerja akibat teknologi.

Riset Software Finder mencatat sebanyak 53% pekerja khawatir kehadiran alat AI akan memangkas relevansi peran mereka di kantor. Di tengah badai perubahan teknologi ini, mengomunikasikan alur kerja secara transparan dan jujur kini menjadi sama strategisnya dengan integrasi sistem itu sendiri.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |