Warga RI Ngirit Servis Motor di Bengkel, Nasib Montir Bikin Sedih

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan daya beli masyarakat ternyata tidak hanya dirasakan konsumen dan pemilik usaha. Para montir bengkel motor kini ikut merasakan dampaknya, mulai dari berkurangnya pelanggan hingga hilangnya uang tip yang selama ini menjadi tambahan penghasilan harian.

Pemandangan itu terlihat di salah satu bengkel motor di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Saat ditemui CNBC Indonesia, Roni, seorang montir bengkel, tampak duduk termenung di depan tempatnya bekerja sambil menghisap rokok. Di sekelilingnya, tidak terlihat antrean motor yang biasanya datang untuk servis maupun ganti oli.

Roni mengakui jumlah pelanggan yang datang ke bengkel memang mulai berkurang dalam beberapa waktu terakhir.

"Kalau pengunjung iya ada penurunan. Ada sih hari-hari yang masuk, tapi akhir-akhir ini memang karena ekonomi lagi kayak gini kan, memang daya belinya berkurang," kata Roni kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di lokasi, Jumat (5/6/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut mulai terasa sekitar sebulan terakhir seiring kenaikan harga oli dan sparepart kendaraan.

Bengkel motor di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Bengkel motor di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Bengkel motor di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Sebulan terakhir ini. Karena harga barang yang naik semua. Dan yang biasanya kita jual oli sudah sama jasa pasang Rp65 ribu, sekarang ya jadi Rp75 ribu ibaratnya," ujarnya.

Kenaikan harga itu, kata Roni, membuat sebagian pelanggan mulai mengurangi pengeluaran untuk perawatan kendaraan. Dampaknya tidak hanya terasa pada jumlah pelanggan yang datang, tetapi juga pada kebiasaan pelanggan memberikan uang tip kepada montir.

"Ya sekarang sudah jarang dapat tip. Dulu saya masih bisa dapat Rp10 ribu ya tip gitu, sekarang yang Rp10 ribu itu akhirnya mereka (pelanggan) pakai buat bayar kenaikan tadi," tutur dia.

Menurutnya, uang yang sebelumnya biasa diberikan kepada montir kini habis untuk menutup kenaikan biaya servis.

"Jadi ya sudahlah akhirnya yang montirnya tuh nggak dikasih apa-apa lagi, paling mereka beliin kopi saja kalau prosesnya agak lama gitu," ujarnya.

Roni pun mengatakan, banyak pelanggan kini mulai menunda penggantian oli demi menghemat pengeluaran.

"Mungkin mereka ngirit jadi lebih jarang dipakai motornya, mereka jadi naik busway (Trans Jakarta) apa gimana motor kan jarang dipakai. Jadi 2 bulan sekali baru ganti oli, itu pun belum tentu," kata Roni

"Kalau enggak pas dia gajian nih nanti ganti, atau dua bulan lagi baru ganti, gitu aja terus," lanjutnya.

Fenomena serupa juga terlihat di bengkel lain yang masih berada di kawasan Mampang. Saat CNBC Indonesia mendatangi bengkel tempat Ilyas bekerja, montir tersebut tampak tertidur di balik sebuah kabinet. Tak lama kemudian, ia terbangun setelah mendengar panggilan seorang pelanggan yang datang untuk mengisi angin ban motor.

Menurut Ilyas, suasana bengkel memang jauh lebih sepi dibandingkan beberapa bulan lalu.

"Iya lumayan sepi belakangan ini. Kayaknya jalan dua bulan bengkel makin sepi," kata Ilyas, ditemui terpisah.

Ia menduga masyarakat mulai menahan pengeluaran di tengah kenaikan berbagai harga kebutuhan.

"Mungkin orang mulai ngerem pengeluaran ya, karena kan kita tahu sekarang ekonomi kacau, ditambah harga barang pada naik, paling terasa di oli, naiknya lumayan," ujarnya.

Ilyas mengatakan, kenaikan harga oli membuat biaya servis ikut naik. Jika beberapa bulan lalu pelanggan masih bisa mengganti oli beserta jasa pemasangan dengan biaya sekitar Rp60 ribu, kini tarif tersebut sudah naik menjadi Rp75 ribu.

"Biasanya ya kayak 3-4 bulan lalu sudah sama jasa, itu cuma Rp60 ribu. Sekarang Rp60 ribu cuma harga beli oli dari tokonya, masa saya beli Rp60 ribu saya jual segitu juga, kan ada biaya jasanya. Jadi sekarang saya patokkan Rp75 ribu," ucap dia.

Ia pun menuturkan, tidak sedikit pelanggan yang mempertanyakan kenaikan harga tersebut.

"Wah banyak kalau protes, (mereka nanya) 'kok naik?', 'kok jadi mahal?', gitu-gitu, saya bilang aja dari sananya memang naik, mau atau nggak ganti oli, wong dia cek ke bengkel lain pun harganya bakal sama kok," ujarnya.

Meski demikian, Ilyas mengaku tidak bisa berbuat banyak karena kenaikan harga berasal dari pemasok.

"Ya ada yang terima, ada yang nggak jadi. Tapi saya nggak bisa paksa, mungkin memang duitnya dia kurang kan. Silakan saja kalau mau cek ke bengkel lain, saya yakin harganya rata-rata segitu," kata Ilyas.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |