Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mulai menyusun langkah konkret untuk menekan ketergantungan impor kedelai melalui peningkatan produksi dalam negeri secara bertahap hingga 2029. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai intervensi dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan lahan, benih unggul, hingga jaminan pasar bagi petani.
Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementan, Dyah Susilokarti mengatakan, peningkatan produksi sudah mulai didorong pada tahun ini, meski kontribusinya masih terbatas terhadap kebutuhan nasional.
"Untuk mendukung peningkatan produksi kedelai tahun 2026, dialokasikan bantuan benih seluas 37.500 hektare (ha), dengan target produksi 60.000 ton. Hasil tersebut tentunya masih jauh dari kebutuhan," kata Dyah kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).
Dyah menjelaskan, faktor yang paling mendasar untuk percepatan peningkatan produksi kedelai adalah adanya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) seperti yang sudah berlaku untuk padi dan jagung.
"Selain itu juga tata niaga kedelai harus dikelola oleh BUMN sebagai yang berkompeten sebagai stabilisator, baik importasi dan untuk kedelai dalam negeri. Dalam strategi mencapai swasembada kedelai, ada 10 syarat yang harus dipenuhi," ujarnya.
Sepuluh syarat utama untuk mencapai swasembada kedelai, kata Dyah, mulai dari ketersediaan lahan hingga 1,8 juta hektare, penggunaan benih unggul sekitar 90 ribu ton, hingga dukungan sarana produksi seperti pupuk, pestisida, alat mesin pertanian, dan irigasi.
Selain itu, faktor pembiayaan, pendampingan SDM, hilirisasi, kepastian pasar, serta perlindungan dari kedelai impor juga menjadi prasyarat utama. Dyah menegaskan, seluruh desain program tersebut disusun untuk secara bertahap mengurangi impor dan memperkuat produksi domestik.
Foto: Kedelai asal Amerika Serikat tiba di Indonesia dan bakal melewati serangkaian tes oleh Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (19/11/2024). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Kedelai asal Amerika Serikat tiba di Indonesia dan bakal melewati serangkaian tes oleh Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (19/11/2024). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
"Untuk rancangan swasembada kedelai, kami merancang pengembangan kedelai berdasarkan kebutuhan nasional dengan mengurangi impor," ucap dia.
Ia menambahkan, target swasembada hingga 2029 masih berupa rancangan yang sangat bergantung pada dukungan anggaran dan ekosistem usaha tani.
"Untuk tahapan mencapai swasembada sampai 2029 itu rancangan, tinggal didukung anggaran Saprodi paket lengkap, serta jaminan pasar dan harga di tingkat petani, sehingga petani semangat menanam," lanjutnya.
Secara bertahap, produksi kedelai nasional ditargetkan meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan. Pada 2025, produksi baru mencapai sekitar 79 ribu ton dengan ketergantungan impor hingga 97% dari konsumsi. Angka ini ditargetkan naik menjadi 425 ribu ton pada 2026, lalu melonjak ke 1,53 juta ton pada 2027 dan 2,52 juta ton pada 2028. Puncaknya pada 2029, produksi diproyeksikan mencapai 3,12 juta ton, mendekati kebutuhan konsumsi nasional sekitar 3 juta ton, sehingga impor diharapkan bisa ditekan hingga nol.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nur Cahyo, mendukung program Kementan yang mulai kembali fokus untuk meningkatkan produksi kedelai.
"Berkaitan dengan pasokan kedelai dalam negeri, saat ini pemerintah sedang berupaya mempersiapkan untuk proses tersebut. Tentunya ini dimulai dari awal lagi, karena 2 tahun berturut-turut, 2024 dan 2025 tidak ada program kedelai, dan baru ada program kedelai ini di tahun 2026, dengan target luasannya adalah 37.500 hektare," kata Wibowo dihubungi terpisah.
Sejalan dengan itu, Wibowo menyoroti harga kedelai, terutama impor, yang masih menjadi tantangan tersendiri bagi perajin tahu dan tempe.
Perlu diketahui, harga kedelai di Indonesia mengalami kenaikan di tingkat perajin tempe dan tahu. Per 18 Maret 2026, berdasarkan data yang dikelola Gakoptindo, harga kedelai di tingkat koperasi perajin tercatat berada di kisaran Rp9.700 hingga Rp12.000 per kg, dengan mayoritas di rentang Rp10.000-Rp10.800 per kg .
Sebagai gambaran, di Jawa Barat harga kedelai berkisar Rp10.100-Rp10.400 per kg, sementara di Jakarta mencapai Rp10.400-Rp10.700 per kg. Adapun di beberapa wilayah seperti Sumatra Barat bahkan menyentuh Rp12.000 per kg.
"Nah, tentunya, secara kenaikan harga kedelai impor, bahwasannya itu memang sudah terjadi peningkatan ya. Kemungkinan peningkatan harga lagi ya bisa saja terjadi. Bisa saja terjadi," ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik, mulai dari harga di Chicago Board of Trade (CBOT), nilai tukar dolar, hingga kondisi geopolitik dan keseimbangan pasokan-permintaan.
"Melihat situasinya ya, melihat situasi yang terjadi saat ini, baik itu geopolitik, secara ekonomi nasional kita, dan juga kondisi kedelainya. Kemungkinan kalau secara kenaikan, ada kenaikan, itu yang akan terjadi," terang dia.
Meski demikian, perajin tahu dan tempe disebut sudah terbiasa menghadapi fluktuasi harga dengan berbagai penyesuaian di lapangan.
"Tapi kami sudah terbiasa menyiasati, perajin kami terbiasa menyiasati dengan hal-hal tersebut," kata Wibowo.
Upaya pemerintah mendorong produksi dalam negeri dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi tekanan dari volatilitas harga global. Namun, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan, dukungan anggaran, serta jaminan harga dan pasar bagi petani.
(wur)
Addsource on Google

3 hours ago
7
















































