Pelajaran dari Macet Parah di Gilimanuk, Ternyata Ini Letak Masalahnya

3 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemacetan panjang di pelabuhan Gilimanuk, Bali di lintasan penyeberangan ke Ketapang, Banyuwangi  saat mudik Lebaran 2026 pada pertengahan Maret lalu menuai sorotan tajam. Antrean kendaraan mengular hingga puluhan kilometer, bahkan pemudik dikabarkan harus menempuh belasan jam perjalanan dari Denpasar menuju Gilimanuk.

Di mana sebenarnya persoalan utamanya? Apa yang harus dilakukan untuk perbaikan ke depan?

Banyak pihak sempat menuding kedekatan waktu antara Hari Raya Nyepi dan Idulfitri sebagai pemicu utama. Namun, Peneliti Institut Studi Transportasi (Instran) Ki Darmaningtyas menilai anggapan itu tidak sepenuhnya tepat.

"Kalau hanya karena Nyepi dan Lebaran yang berdekatan, seharusnya tahun sebelumnya juga mengalami hal yang sama. Faktanya, tidak terjadi kemacetan separah sekarang," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).

Kemacetan ekstrem tahun ini lebih dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor struktural yang tidak terantisipasi dengan baik. Salah satu pemicunya adalah perubahan pola pergerakan masyarakat akibat bertambahnya ruas tol Trans Jawa yang beroperasi semakin ke timur.

"Pada 2025, jalan tol baru sampai Probolinggo, sementara 2026 sudah mendekati Banyuwangi. Ini membuat masyarakat lebih tertarik menggunakan kendaraan pribadi, baik menuju Bali maupun sebaliknya," jelasnya.

Lonjakan kendaraan pribadi tersebut, lanjut dia, tidak diimbangi kapasitas infrastruktur di pelabuhan. Pelabuhan Gilimanuk maupun Ketapang memiliki keterbatasan serius, mulai dari jumlah dermaga hingga area parkir.

"Dermaga hanya empat, lahan parkir juga terbatas. Tidak ada buffer zone untuk menampung kendaraan yang belum bertiket. Ini membuat kendaraan menumpuk hingga ke jalan raya," katanya.

Keberadaan zona penyangga sebenarnya bisa menjadi solusi untuk meredam kepadatan di area pelabuhan. Masalah lain yang tak kalah krusial adalah lemahnya tata kelola angkutan penyeberangan. Sistem tiket yang belum berjalan optimal membuat arus kedatangan kendaraan tidak terkendali.

"Semua orang datang bersamaan, baik yang sudah punya tiket maupun belum. Ini berbeda dengan transportasi seperti pesawat atau kereta yang penumpangnya datang sesuai jadwal," ungkapnya.

Ia juga menyoroti implementasi sistem tiket online Ferizy yang dinilai belum akurat antara data di aplikasi dan kondisi di lapangan.

"Di aplikasi sering tertulis tiket habis, tapi ketika datang langsung justru masih banyak tersedia. Ini membuat orang berspekulasi datang tanpa tiket," katanya.

Menurutnya, ketidaksinkronan tersebut menjadi preseden buruk karena mendorong perilaku pengguna yang tidak disiplin terhadap sistem.

Di luar faktor teknis transportasi, Darmaningtyas juga melihat adanya pengaruh psikologis masyarakat akibat isu global, khususnya konflik di Timur Tengah.

"Ada kekhawatiran soal kenaikan atau kelangkaan BBM akibat perang. Ini membuat sebagian masyarakat memilih mudik lebih awal secara bersamaan," ujarnya.

Kondisi tersebut pada akhirnya memperparah lonjakan kendaraan dalam waktu singkat. Untuk mengatasi persoalan ini ke depan, maka pentingnya pembenahan dari sisi infrastruktur hingga manajemen.

"Penambahan dermaga dan peningkatan kualitasnya mendesak dilakukan agar mampu mengimbangi lonjakan kendaraan," katanya.

Selain itu, ia mengusulkan pembangunan buffer zone beberapa kilometer sebelum pelabuhan guna menampung kendaraan yang belum memiliki jadwal keberangkatan. Dari sisi sistem, ia mendorong perbaikan total pada mekanisme tiket elektronik.

"ASDP perlu belajar dari maskapai dan KAI. Sistem tiket harus presisi antara yang tertera di aplikasi dan kondisi di lapangan," ujarnya.

Ia juga menilai sistem penjualan tiket sebaiknya tidak bergantung pada satu platform saja agar lebih fleksibel dan transparan. Tak kalah penting, integrasi antarmoda transportasi dinilai menjadi kunci jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

"Kalau pergerakan dari Jawa bisa lebih banyak menggunakan kereta api, meskipun hanya sampai Ketapang, itu sudah bisa mengurangi beban lalu lintas secara signifikan," tutupnya.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |