Bikin Melongo! Bursa Saham 5 Negara Ini Ngacir Lebih dari 50% di 2026

2 hours ago 3

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

04 June 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar modal global sepanjang tahun berjalan memperlihatkan tren divergensi yang sangat mencolok di berbagai kawasan investasi dunia.

Arus modal asing dan sentimen pelaku pasar terpecah secara signifikan akibat perbedaan kondisi fundamental makroekonomi, penyesuaian kebijakan moneter bank sentral, serta pergeseran fokus industri strategis.

Di saat mayoritas bursa utama bermanuver dalam rentang pertumbuhan yang terbatas dan rasional, terdapat anomali pergerakan di mana beberapa indeks saham tertentu mencatatkan lonjakan imbal hasil yang ekstrem.

Sementara itu, pada sisi spektrum yang berlawanan, sejumlah bursa di negara berkembang justru harus meredam tekanan koreksi yang sangat dalam akibat pergeseran likuiditas.

Tinjauan Indeks Berkinerja Ekstrem

Empat indeks saham dunia berhasil mencatatkan kinerja YTD di atas 50%, dipimpin oleh bursa Venezuela sebesar 169.84%, kemudian Korea Selatan mencapai 105.01%, diikuti Ghana dengan 63.96%, Taiwan pada 57.71%, dan Nigeria sebesar 56.24%.

Lonjakan nilai pada bursa Venezuela, Ghana, dan Nigeria pada dasarnya tidak merepresentasikan fundamental ekonomi yang kuat, melainkan berfungsi sebagai instrumen lindung nilai bagi para investor domestik di tengah krisis inflasi tinggi dan pelemahan mata uang lokal.

Sebaliknya, pertumbuhan bursa Taiwan ditopang oleh fundamental riil, didorong oleh tingginya permintaan global terhadap sektor teknologi, khususnya produsen semikonduktor utama.

Dinamika Ekuitas Global

Secara umum, mayoritas bursa utama di negara maju bergerak secara fluktuatif dengan kecenderungan pertumbuhan yang moderat. Dinamika ini sejalan dengan respons pasar terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia serta arah kebijakan suku bunga acuan.

Rata-rata pergerakan bursa global berada pada rentang pertumbuhan satu hingga dua digit, yang mencerminkan sikap kehati-hatian para pelaku pasar dalam merespons volatilitas dan ketidakpastian kondisi geopolitik yang masih berlangsung.

Tekanan Berat pada IHSG

Berbanding terbalik dengan sebagian bursa global yang mampu mencetak pertumbuhan tinggi, pasar saham di sejumlah kawasan berkembang justru menghadapi tekanan masif. Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan dengan koreksi YTD mencapai -32.46%.

Penurunan tajam yang menghantam IHSG mengindikasikan adanya tantangan likuiditas serta perpindahan alokasi portofolio investasi.

Hal tersebut memicu aliran modal keluar dari pasar saham domestik menuju instrumen negara lain yang dinilai lebih aman, mengonfirmasi bahwa sentimen makroekonomi menjadi faktor penentu arah investasi.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |