Jakarta CNBC Indonesia - Pabrikan ban yang memproduksi di dalam negeri mulai bersiap memasuki fase baru pengembangan produk, misalnya Bridgestone Indonesia yang bakal memulai produksi ban khusus kendaraan listrik di pabrik Karawang, Jabar. Langkah ini menjadi strategi perusahaan merespons pertumbuhan populasi mobil listrik yang kian terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Perusahaan akan mulai memproduksi ban dengan teknologi ENLITEN yang dirancang untuk karakteristik kendaraan listrik. Teknologi ini direncanakan meluncur pada paruh kedua tahun ini.
"Rencananya kira-kira Agustus-September," ujar Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno pada Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) di JiExpo Kemayoran 2026, Jumat (6/2/2026).
Kedaraan listrik memiliki kebutuhan teknis yang berbeda dibanding mobil bermesin bensin maupun hybrid. Perbedaan utama terletak pada bobot kendaraan yang lebih berat akibat baterai, sehingga ban membutuhkan kekuatan struktur yang lebih tinggi.
"Karena kan tentunya mobil listrik itu sebenarnya lebih berat kan ya karena baterainya," katanya.
Ia menjelaskan bahwa risiko kerusakan pada ban bisa meningkat jika spesifikasi tidak disesuaikan. Bagian sidewall menjadi salah satu fokus utama penguatan karena harus mampu menahan beban tambahan.
"Kalau secara khususnya sidewall-nya kurang kuat, itu ban itu bisa pecah sampingnya," ujar Mukiat.
Meski baru akan memproduksi ban EV secara khusus, Bridgestone sebenarnya telah memiliki produk yang dinilai siap digunakan pada kendaraan listrik.
"Semua ban Bridgestone dengan teknologi ENLITEN itu sudah khususnya T006 Turanza 6 itu sudah EV-ready sebenarnya.
Selain daya tahan, aspek kenyamanan juga menjadi perhatian dalam pengembangan ban EV. Teknologi ENLITEN diklaim mampu menekan tingkat kebisingan ban yang cenderung lebih terasa pada mobil listrik karena tidak adanya suara mesin konvensional.
Dari sisi potensi pasar, Bridgestone melihat tren kendaraan listrik di Indonesia terus bergerak naik. Saat ini penetrasi EV diperkirakan berada di kisaran belasan persen dan berpeluang meningkat dalam beberapa tahun mendatang, terutama jika didukung kebijakan insentif pemerintah. "Kita melihatnya tren itu sebenarnya bisa dalam berapa tahun ke depan menuju ke 20%," ujarnya.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
4
















































