Bos Motor Listrik Akui Subsidi Dicabut Sempat Bikin 'Goyang' Penjualan

2 hours ago 1

Tak Ada Insentif Motor Listrik Rp7 Juta di 2026, Ini Strategi Alva

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri sepeda motor listrik Indonesia memasuki babak baru setelah pemerintah menghentikan program insentif pembelian kendaraan listrik roda dua. Kondisi ini sempat memicu perlambatan penjualan pada periode transisi.

Chief Executive Officer Alva, Purbaja Pantja, menilai dinamika tersebut justru jadi kesempatan terkait perubahan pola pikir konsumen yang semakin rasional dalam memilih kendaraan listrik. Menurutnya, pasar kini bergerak dari tahap pengenalan menuju tahap pertimbangan kualitas dan performa.

"Kalau kita lihat perjalanan industri motor listrik di Indonesia, sebenarnya edukasi dan awareness itu terus meningkat. Dulu pertanyaannya sangat basic, seperti 'kalau hujan kesetrum enggak?'. Sekarang sudah berubah, orang lebih banyak bertanya soal performa. Itu menurut saya sinyal yang sangat baik," ujar Purbaja di sela-sela Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2026, Jumat (6/2/2026).

Ia mengakui, penghentian subsidi pembelian motor listrik yang sebelumnya mencapai Rp7 juta per unit memang berdampak pada penjualan, terutama pada akhir 2024 hingga awal 2025. Namun situasi tersebut dianggap sebagai fase penyesuaian pasar setelah sebelumnya sangat ditopang stimulus pemerintah.

"Penurunan memang terjadi di awal masa transisi. Tapi menjelang akhir tahun suasananya sudah jauh lebih baik. Kami optimistis 2026 hasilnya akan lebih baik dibanding 2025," katanya.

Dalam menghadapi kondisi tanpa insentif, Alva tidak mengandalkan strategi pasar secara umum, melainkan fokus pada strategi internal perusahaan. Produsen motor listrik lokal ini sejak awal memilih pendekatan bertahap dengan memperkenalkan produk di segmen premium lebih dulu sebelum masuk ke segmen yang lebih luas.

Purbaja menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan membangun persepsi publik mengenai kemampuan motor listrik yang selama ini dianggap kalah dari kendaraan berbahan bakar bensin.

"Kita memulai perjalanan dengan motor premium di atas Rp30 juta. Tujuannya untuk menunjukkan capability motor listrik itu seperti apa. Banyak yang dulu menganggap performanya tidak bisa sebaik motor konvensional," jelasnya.

Strategi tersebut diwujudkan lewat peluncuran Alva One pada 2022, disusul Alva Cervo pada 2023 yang diklaim memiliki kecepatan puncak di atas 100 km/jam. Setelah citra performa mulai terbentuk, perusahaan kemudian memperluas pasar melalui model dengan harga lebih terjangkau.

"Di 2024 kami masuk ke mid-segment dengan harga 20 jutaan. Kami ingin menunjukkan bahwa motor listrik itu sepadan dari segi harga dan bisa dipakai sebagai transportasi utama, bukan sekadar kendaraan jarak dekat," ujarnya.

Selain lini produk, Alva juga menaruh perhatian pada penguatan ekosistem pengisian daya. Perusahaan mengembangkan jaringan charging station untuk menunjang mobilitas pengguna, sekaligus mengurangi kekhawatiran soal jarak tempuh.

Dengan pendekatan bertahap dari premium ke segmen menengah, ditambah pembangunan infrastruktur pengisian daya, Alva menilai pasar motor listrik Indonesia tetap memiliki prospek positif meski tanpa subsidi. Perusahaan melihat perubahan fokus konsumen dari sekadar harga menuju kualitas dan fungsi sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang industri kendaraan listrik roda dua di Tanah Air.

"Motor kami sekarang jarak tempuhnya bisa sampai 140 kilometer. Ditambah kemampuan fast charging, 30 menit bisa 50%. Itu penting supaya konsumen merasa aman saat berkendara," kata Purbaja.

(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |