Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
13 June 2026 19:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang pertemuan Timnas Brasil melawan Maroko di Piala Dunia 2026, kedua negara ternyata tidak hanya menarik dilihat dari sisi sepak bola. Di luar lapangan, Brasil dan Maroko sama-sama punya kekuatan besar di pasar komoditas dunia.
Brasil selama ini dikenal sebagai negara sepak bola. Banyak bintang dunia lahir dari Negeri Samba, dari Pele, Ronaldo, Ronaldinho, Neymar, hingga Vinicius Junior. Namun, Brasil juga punya wajah lain sebagai raksasa pertanian global. Negara ini menjadi salah satu produsen dan eksportir utama dunia untuk kedelai, gula, hingga kopi.
Sementara itu, Maroko datang dengan kekuatan berbeda. Negara Afrika Utara ini bukan hanya dikenal karena performa sepak bolanya yang terus menanjak, tetapi juga karena posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok pupuk dunia, terutama pupuk berbasis fosfat.
USDA Economic Research Service menjelaskan bahwa pupuk fosfat mencakup antara lain diammonium phosphate atau DAP, monoammonium phosphate atau MAP, phosphate rock, phosphoric acid, dan triple superphosphate.
Laga Brasil melawan Maroko dalam lanjutan Grup C Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada Minggu (14/6/2026) pukul 05.00 WIB di New Jersey Stadium.
Brasil masih menjadi salah satu kekuatan paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia dan datang dengan ambisi besar untuk mengakhiri paceklik gelar sejak 2002.
Di sisi lain, Maroko kini bukan lagi tim yang bisa dipandang sebelah mata setelah mencetak sejarah dengan menembus semifinal Piala Dunia 2022.
Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi menyebut timnya tak lagi melihat diri mereka sebagai underdog, sementara Vinicius Junior menegaskan fokusnya adalah membantu Brasil mengejar gelar Piala Dunia keenam, bukan sekadar mengejar pencapaian individu.
Namun, sebelum melihat siapa yang lebih tajam di lapangan, duel Brasil melawan Maroko juga menarik dilihat dari sisi komoditas. Brasil dikenal sebagai raksasa pangan dan pertanian dunia, sementara Maroko punya posisi kuat sebagai pemain besar fosfat dan pupuk global.
Brasil: Dari Kedelai Hingga Kopi
Brasil merupakan salah satu raksasa pertanian dunia. Data terbaru USDA Foreign Agricultural Service menunjukkan Brasil masih sangat kuat dalam tiga komoditas utama, yakni kedelai, gula, dan kopi.
Untuk produk kedelai, USDA FAS memperkirakan produksi Brasil pada periode 2026/2027 mencapai 184 juta metrik ton.
Angka ini menjadi rekor baru dan naik dari estimasi tahun sebelumnya sebesar 178 juta metrik ton. Kenaikan tersebut ditopang oleh perluasan area tanam, perbaikan praktik budidaya, serta penggunaan teknologi pertanian yang semakin baik.
Dari sisi ekspor, posisi Brasil juga sangat dominan. Ekspor kedelai Brasil pada periode 2026/2027 diperkirakan mencapai 117,5 juta metrik ton, naik 3,9% dari estimasi sebelumnya sebesar 113 juta metrik ton.
Pada 2025, Brasil bahkan mencapai rekor ekspor kedelai sebesar 108,1 juta metrik ton, dengan 85,4 juta metrik ton atau 78,9% di antaranya dikirim ke China.
Kekuatan Brasil juga terlihat di komoditas gula. USDA menyebut Brasil tetap menjadi produsen tebu dan gula terbesar dunia. Produksi tebu Brasil pada 2026/2027 diperkirakan mencapai 675 juta metrik ton, naik dari 660 juta ton pada periode sebelumnya.
Namun, produksi gula Brasil justru diperkirakan turun karena lebih banyak tebu diarahkan untuk produksi etanol.
Produksi gula Brasil pada 2026/2027 diperkirakan sebesar 42,5 juta metrik ton, turun dari 43,8 juta metrik ton pada periode sebelumnya. Ekspor gula Brasil juga diperkirakan turun menjadi 33,6 juta metrik ton, dari sebelumnya 34,1 juta metrik ton.
Meski ekspor gula diperkirakan turun, posisi Brasil tetap sangat kuat. USDA mencatat Brasil merupakan eksportir gula terbesar dunia dengan pangsa sekitar 59% dari ekspor gula global pada 2025. Thailand berada di posisi kedua dengan 10%, disusul India sebesar 7%.
Sementara itu, di kopi, Brasil juga masih menjadi pemain utama. Dalam laporan Coffee Annual 2026 USDA memperkirakan produksi kopi Brasil pada 2026/2027 mencapai 71,9 juta kantong ukuran 60 kilogram. Angka ini naik 14% dari estimasi sebelumnya sebesar 63 juta kantong.
Kenaikan produksi kopi tersebut terutama ditopang oleh prospek panen arabika yang membaik setelah beberapa tahun mengalami gangguan akibat cuaca. Ekspor kopi Brasil juga diperkirakan melonjak menjadi 49,07 juta kantong, naik dari 37,87 juta kantong pada periode sebelumnya.
Maroko: Raja Pupuk Fosfat
Jika Brasil kuat di pertanian, Maroko punya peran besar di hulu pertanian dunia, yakni pupuk. Lebih tepatnya, Maroko merupakan salah satu pemain utama dunia dalam pupuk berbasis fosfat.
Fosfat menjadi bahan penting untuk pupuk karena mengandung fosfor, salah satu unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman.
Pupuk fosfor dibuat dari phosphate rock atau batuan fosfat yang diolah dengan asam sulfat untuk menghasilkan phosphoric acid. Dari bahan ini kemudian dibuat pupuk seperti MAP dan DAP yang lebih mudah diserap tanaman.
Posisi Maroko sangat kuat karena negara ini memiliki cadangan batuan fosfat terbesar di dunia. Data USGS 2026 menunjukkan produksi batuan fosfat Maroko pada 2025 diperkirakan mencapai 36 juta metrik ton, naik dari 35,3 juta ton pada 2024.
Cadangan fosfat Maroko juga sangat besar, yakni mencapai 50 miliar ton. Angka ini jauh di atas negara lain. Sebagai perbandingan, total cadangan fosfat dunia diperkirakan sekitar 73 miliar ton.
Dari sisi pasar, Maroko juga menjadi bagian penting dalam perdagangan pupuk fosfat global. USDA FAS mencatat ekspor pupuk fosfor dunia sangat terkonsentrasi. Lima negara atau kawasan, termasuk Maroko, menguasai lebih dari 75% ekspor pupuk fosfor global.
Peran Maroko semakin penting karena pupuk fosfat menjadi salah satu komponen kunci dalam produksi pangan dunia. Tanpa fosfor, produktivitas tanaman bisa terganggu. Karena itu, ketika harga pupuk naik atau pasokan terganggu, dampaknya bisa menjalar ke biaya produksi pangan.
Data perdagangan terbaru Maroko juga menunjukkan besarnya kontribusi fosfat dan turunannya. Ekspor mineral fosfat dan turunannya, termasuk pupuk, mencapai 27,1 miliar dirham pada Januari-April 2026, meski turun 1,5% secara tahunan.
Sementara itu, OCP, perusahaan negara Maroko yang menjadi pemain besar dalam fosfat dan pupuk, terus memperkuat kapasitas produksinya. Kapasitas produksi pupuk berbasis fosfat OCP mencapai 16 juta metrik ton pada 2025, naik jauh dari 3 juta metrik ton pada 2008.
OCP juga meningkatkan produksi triple superphosphate atau TSP, salah satu jenis pupuk fosfat yang banyak digunakan dalam pertanian. Produksi TSP ditargetkan mencapai lebih dari 50% volume produksi perusahaan pada 2026.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

6 hours ago
4

















































