Ukuran Font
Kecil Besar
14px
Oleh: Edy Suhartono
“Ketika warga melihat sungai sebagai ruang yang indah dan bermanfaat untuk bersantai dan menyajikan pemandangan yang eksotis dan menarik, bukan sebagai belakang kota yang kumuh, rasa memiliki akan tumbuh” (Edy Suhartono)
Intro
Banjir yang melanda Kota Medan menjelang penghujung tahun 2025 bukan hanya sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah alarm keras, sebuah pengingat akan mata rantai panjang yang selama ini terabaikan: dari kebijakan tata ruang, kesadaran lingkungan, hingga respons kolektif kita sebagai masyarakat urban. Genangan air yang surut perlahan meninggalkan lebih dari sekadar lumpur; ia meninggalkan pertanyaan besar. Apa yang harus kita lakukan untuk memutus mata rantai ini agar peristiwa tidak terus berulang?
Belajar dari peristiwa 2025, upaya penanganan banjir di Medan tidak bisa lagi sekadar bersifat reaktif—memompa air saat banjir, membersihkan lumpur setelahnya. Kita harus beralih ke pendekatan yang holistik, integratif, dan berkelanjutan. Inilah beberapa mata rantai kunci yang harus diputus dan diubah menjadi solusi.
Mata Rantai Pertama: Kebijakan Tata Ruang yang Memihak Keberlanjutan
Penyebab banjir bersarang pada bagaimana Kota Medan tumbuh dan berkembang. Potret pembangunan perkotaan ditandai oleh berbagai perubahan yang tak selamanya kondusif dan menciptakan tata ruang kota yang demokratis dan berkeadilan. Sebagai contoh, konversi daerah resapan dan ruang hijau menjadi beton terjadi secara masif, seringkali mengabaikan daya dukung lingkungan.
Langkah pertama yang fundamental yang perlu dilakukan adalah mengoreksi tata ruang dengan keberanian politik. Pemerintah harus tegas menegakkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), menghentikan alih fungsi lahan di kawasan lindung dan sempadan sungai, serta memberikan sanksi tegas bagi pelanggarnya. Selain itu, insentif bagi pengembang yang menyertakan sumur resapan biopori dan ruang terbuka hijau wajib diperkuat. Kota harus “dihijaukan” kembali, bukan dengan jargon, tetapi dengan peta yang mengikat.
Mata Rantai Kedua: Hubungan Emosional dengan Sungai
Sungai Deli dan anak-anak sungainya adalah nadi kehidupan Kota Medan, namun sering diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah terpanjang. Perilaku membuang sampah di sungai perlu segera dihentikan baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan (kelembagaan). Mata rantai ini harus diputus dengan memperbaiki hubungan emosional dan fungsional warga dengan sungai.
Program “Sungai Sebagai Ruang Publik” bisa menjadi kunci untuk menata kembali hubungan emosional warga dengan sungai sebagai bagian penting dari eksosistem yang ada di perkotaan. Bersih-bersih sungai massal harus diikuti dengan pembangunan taman tematik di bantaran, jalur pedestrian, dan implementasi program wisata sungai.
Sanksi dan hukuman perlu diberikan bagi para pelanggar sekaligus memberikan penghargaan bagi mereka para pejuang penyelamat sungai. Ketika warga melihat sungai sebagai ruang yang indah dan bermanfaat untuk bersantai dan menyajikan pemandangan yang eksotis dan menarik, bukan sebagai belakang kota yang kumuh, rasa memiliki akan tumbuh. Perlawanan pada pembuang sampah akan menjadi gerakan sosial, bukan sekadar imbauan pemerintah.
Mata Rantai Ketiga: Sistem Drainase yang Cerdas dan Terintegrasi
Sistem drainase Kota Medan kerap dikeluhkan sebagai tidak memadai dan tersumbat. Pemutusan mata rantai ini memerlukan modernisasi berbasis teknologi dan partisipasi. Pemerintah perlu berinvestasi pada sistem pemantauan digital tinggi muka air dan cuaca secara real-time, serta membersihkan saluran dengan peralatan modern secara rutin.
Lebih penting lagi, partisipasi warga dalam menjaga saluran di depan rumah masing-masing perlu digerakkan melalui kampanye yang masif dan sistem penghargaan. Teknologi tinggi di pusat komando harus berjalan beriringan dengan kesadaran rendah di tingkat rumah tangga. Penerapan early warning system bencana banjir di perkotaan melalui penerapan teknologi yang ada menjadi penting untuk dihadirkan.
Mata Rantai Keempat: Sampah yang Terkelola, Bukan Terbuang
Sampah yang menyumbat saluran adalah simbol dari kegagalan sistem pengelolaan sampah terpadu. Kita perlu revolusi dalam mengelola sampah. Sistem pengumpulan sampah door-to-door harus menjangkau seluruh permukiman, termasuk yang padat dan informal. Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang modern dan ramah lingkungan menjadi keharusan.
Di sisi hulu, gerakan pemilahan sampah dari rumah dan bank sampah perlu didorong menjadi gaya hidup baru. Sampah harus dilihat sebagai sumber daya, bukan sebagai musuh yang hanya bisa dibuang ke sungai.
Mata Rantai Kelima: Respons Bencana yang Inklusif dan Cepat
Ketika banjir datang, respons yang cepat dan terkoordinasi menyelamatkan nyawa dan harta benda. Pembelajaran dari 2025 menunjukkan perlunya membangun sistem peringatan dini (early warning system) yang menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Posko bencana tingkat kelurahan harus diperkuat dengan pelatihan rutin dan peralatan standar. Posko bencana juga harus cukup responsive terhadap kondisi yang ada di lapangan dengan memberikan pelayan yang segera dan maksimal. Selain itu, skema asuransi banjir untuk masyarakat berpenghasilan rendah bisa dipertimbangkan untuk membantu pemulihan ekonomi yang lebih cepat pasca-bencana.
Kesimpulan
Banjir 2025 adalah guru yang mahal. Ia mengajarkan bahwa air yang menggenang adalah cermin dari segala keputusan kita di masa lalu. Memutus mata rantai bencana adalah pekerjaan besar yang membutuhkan sinergi tanpa cela: komitmen politik yang teguh dari pemerintah, inovasi dan kepatuhan dari dunia usaha, serta perubahan perilaku dan partisipasi aktif dari seluruh warga.
Mari kita jadikan tahun 2025 sebagai titik balik. Bukan lagi tentang bagaimana kita bertahan dari banjir, tetapi tentang bagaimana kita membangun Kota Medan yang tangguh, hijau, dan harmonis serta selaras dengan alam. Genangan banjir harus surut untuk selamanya, digantikan oleh genangan semangat gotong royong untuk menyelamatkan kota tercinta kita. Masa depan Medan yang kering dan berdaya ada di tangan kita, mulai dari memutus satu mata rantai kecil hari ini
Sudah saatnya kearifan lokal (local wisdom) warga kota diekspresikan dalam bentuk yang nyata sebagai sebuah potensi modal sosial (social capital) yang bisa digerakkan dan memberi jawaban atas bencana yang terjadi. Gotong royong dan inisiatif warga bantu warga serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana pada masa masa yang akan datang dapat diimplementasikan sebagai upaya memutus mata rantai bencana yang terjadi. Demikian. WASPADA.id
Penulis adalah Antropolog
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.




















































