Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global.
Melansir data Refinitiv, rupiah harus mengawali perdagangan pagi ini di zona merah dengan tertekan 0,62% atau berada di level Rp17.840/US$.
Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (17/6/2026), rupiah juga ditutup terdepresiasi 0,23% ke posisi Rp17.730/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau masih menguat 0,18% ke posisi 100,273.
Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif DXY pada perdagangan sebelumnya, ketika indeks dolar AS naik tajam 0,55% setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mengumumkan keputusan suku bunganya bulan ini.
Menguatnya indeks dolar AS menunjukkan pelaku pasar kembali memburu aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya dapat menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Dolar AS menguat setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi pernyataan bank sentral menunjukkan para pembuat kebijakan masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, proyeksi kuartalan terbaru menunjukkan sembilan pejabat The Fed kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Pernyataan kebijakan terbaru The Fed juga menghapus bahasa yang sebelumnya digunakan untuk memberi sinyal peluang penurunan suku bunga lanjutan pada 2026. Perubahan ini menjadi perhatian pasar karena menunjukkan sikap The Fed yang lebih berhati-hati, bahkan cenderung lebih ketat dalam merespons risiko inflasi.
Dalam tanda awal pengaruh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, pernyataan kebijakan juga tidak lagi memberikan panduan arah suku bunga ke depan. Format terbaru hanya menyampaikan keputusan suku bunga dan menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk menjaga cadangan yang memadai dalam sistem perbankan.
The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi akhir 2026 dari sebelumnya 2,7% menjadi 3,6%. Hal ini membuat pelaku pasar semakin mencermati peluang kenaikan suku bunga AS dalam beberapa bulan mendatang.
Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek AS kini memperkirakan peluang yang lebih besar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, dibandingkan mempertahankannya di level saat ini.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan pengumuman hasil akhir Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada RDG kali ini, meski selisih proyeksinya semakin tipis.
Dari 14 institusi yang berpartisipasi dalam polling CNBC Indonesia, delapan memperkirakan BI Rate akan naik 25 basis poin menjadi 5,75%. Sementara enam institusi lainnya memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di level 5,50%.
Dengan hasil tersebut, median proyeksi dalam polling CNBC Indonesia berada di level 5,75%. Keputusan BI hari ini akan menjadi perhatian utama pasar, terutama karena rupiah kembali berada dalam tekanan setelah dolar AS menguat pasca keputusan The Fed.
(evw/evw)
Addsource on Google

1 hour ago
3
















































