Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena alam berupa peningkatan kejadian cuaca ekstrem, seperti curah hujan dengan intensitas tinggi hingga menyebabkan bencana hidrometeorologi merupakan dampak nyata perubahan iklim global.
Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Eddy Hermawan dalam acara Media Lounge Discussion (MELODI) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, baru-baru ini.
"Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer. Hal itu ditandai dengan kenaikan muka laut, peningkatan cuaca ekstrem, hingga munculnya ancaman baru seperti siklon tropis, ada Seroja, Cempaka, Dahlia seperti yang terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta dan pantai utara jawa saat ini," ungkap Eddy dalam keterangannya, dikutip Sabtu (7/2/2026).
Eddy menjelaskan, penyebab hujan ekstrem dengan durasi pendek dipicu gelombang atmosfer ekuatorial seperti Kelvin wave dan lainnya. Sebaliknya, hujan ekstrem berdurasi panjang yang terjadi harian bahkan mingguan biasanya dipicu oleh La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD), atau bukan sekadar gelombang atmosfer.
"Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer, tapi karena La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). Itu yang membuat hujan terus-menerus," terang dia.
Eddy juga memaparkan penyebab siklon masuk ke wilayah Indonesia. Menurutnya, kawasan Indonesia berada pada jalur Asian Monsoon. Uap air dari Asia bergerak masuk karena wilayah Jakarta dan sekitarnya berupa dataran aluvial, pantai landai, serta mengalami pemanasan hingga lebih dari 12 jam per hari, sehingga membentuk pusat tekanan rendah.
"Kondisi itu membuat Jakarta menjadi lokasi ideal terbentuknya pusaran atmosfer. Di lapisan sekitar 500 hektopascal, atau ketinggian 5,8 kilometer, terjadi pusaran angin yang sangat kuat," imbuh Eddy.
Pusaran tersebut merupakan hasil pertemuan angin baratan dan timuran yang memutar atmosfer di atas Jakarta selama berjam-jam. Dampaknya, hujan tidak hanya deras, melainkan juga terkonsentrasi lama di satu wilayah.
Dalam rangka upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, Eddy menekankan pentingnya transformasi sistem peringatan dini. Prediksi cuaca ekstrem ke depan tidak cukup lagi menggunakan pendekatan konvensional.
"Kita harus masuk ke AI, big data, machine learning, deep learning, agar prediksi lebih presisi, tepat waktu, dan terlokalisasi," tegasnya.
Selain itu, Eddy berharap hasil-hasil riset atmosfer BRIN dapat menjadi dasar mitigasi, pemetaan risiko, serta bahan pengambilan kebijakan agar pengelolaan bencana hidrometeorologi di Indonesia semakin berbasis sains.
Di luar faktor atmosfer, Eddy menyoroti lemahnya daya tahan lingkungan. Perubahan tutupan lahan dari hutan hijau menjadi "hutan beton" membuat air kehilangan ruang resapan.
Dengan begitu, Eddy menekankan banjir Jakarta tidak hanya soal hujan, tetapi juga soal ketidaksiapan lanskap perkotaan menghadapi beban hidrometeorologi ekstrem.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2
















































