Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah detektor bawah tanah raksasa yang dibangun di China baru saja merilis temuan besar pertamanya terkait neutrino, partikel kosmik yang dijuluki "partikel hantu" karena sifatnya yang sulit dideteksi dan hampir tidak memiliki massa.
Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Nature menyatakan peneliti China mengumpulkan data sejak Agustus lalu di Observatorium Neutrino Bawah Tanah Jiangmen (JUNO) yang berlokasi di Kaiping, Provinsi Guangdong.
Setelah dua bulan observasi, tim peneliti mengungkapkan hasil pengukuran paling akurat ini mengenai cara neutrino berubah di antara tiga bentuk, saat bergerak melintasi ruang angkasa.
Neutrino adalah partikel yang muncul sejak peristiwa Big Bang. Triliunan partikel ini melewati tubuh manusia setiap detik tanpa meninggalkan jejak apa pun. Karena massanya yang hampir nol dan hampir tidak berinteraksi dengan materi lain, menangkap serta mempelajari partikel ini menjadi tantangan besar bagi fisikawan dunia.
Untuk mendeteksi neutrino, JUNO menggunakan mesin berbentuk bola raksasa yang ditempatkan sedalam 700 meter di bawah permukaan tanah untuk menghindari gangguan radiasi dari luar. Di dalamnya terdapat 20 kiloton cairan pemancar cahaya yang berfungsi menangkap antineutrino, pasangan neutrino yang memiliki sifat serupa, dari dua pembangkit listrik tenaga nuklir di sekitar lokasi.
Ketika antineutrino bertemu partikel di dalam cairan tersebut, interaksi yang terjadi akan menghasilkan kilatan cahaya yang kemudian dicatat oleh ribuan sensor di sekitarnya. Salah satu tujuan utama penelitian ini adalah memecahkan misteri berat massa setiap jenis neutrino. Para ilmuwan menduga dua di antaranya memiliki massa yang mirip, sedangkan satu jenis lainnya berbeda secara signifikan.
Namun, hingga kini belum diketahui apakah dua jenis tersebut lebih berat dan satu lebih ringan, atau sebaliknya.
"Hasil awal ini belum menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, tetapi sudah membuktikan kemampuan detektor ini. Ke depannya, JUNO akan mampu menguji perbedaan halus yang memisahkan jenis-jenis neutrino dan massa masing-masing," ujar Liangjian Wen, peneliti yang tergabung dalam kolaborasi JUNO.
Kate Scholberg, fisikawan dari Universitas Duke yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai temuan awal ini sangat menjanjikan. "Hasil ini membuat saya makin menantikan temuan-temuan menarik lainnya yang akan datang dari proyek ini," katanya.
Proyek milik China adalah detektor neutrion yang pertama beroperasi. Fasilitas serupa sedang dibangun di dua negara yaitu Hyper-Kamiokande di Jepang dan Deep Underground Neutrino Experiment di Amerika Serikat, akan beroperasi dalam waktu dekat.
Keduanya akan melakukan pengamatan dengan pendekatan berbeda, sehingga nantinya dapat digunakan untuk memverifikasi hasil yang didapatkan oleh tim peneliti China.
Penelitian ini menjadi langkah penting dalam memahami partikel yang paling melimpah tetapi paling sulit dipahami di alam semesta, yang pada gilirannya dapat membantu manusia mengungkap rahasia terbentuknya bintang, galaksi, serta sejarah alam semesta itu sendiri.
(dem/dem)
Addsource on Google

4 hours ago
4
















































