Cyrus the Great, Kekuatan Sistem Pertahanan Persia Kuno dan Negeri Pemilik Ulama Ahli Hadist Terbanyak

15 hours ago 11

Oleh Prof. Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diglee)

Berbagai fenomena yang tercermati dari peristiwa perang Amerika-Israel melawan Iran, banyak hal menarik yang bisa dijadikan renungan, terutama kecanggihan alat tempur dan strategi pertahanan militer Iran dalam menghadapi peralatan tempur dan strategi perang Amerika-Israel.

Iran yang telah diembargo secara ekonomi dan militer selama kurang lebih 47 tahun, ternyata mampu memiliki kecanggihan alat tempur yang luar biasa, baik berbentuk misil, rudal balistik dan jelajah, drone UAV, radar canggih, senjata laser, sistem pertahanan udara Bavar 373 dan S300 Rusia, bunker pertahanan dan persenjataan, kapal selam mini, dan lain-lainnya.

Namun semua kecanggihan militer Iran hari ini tersebut tentunya tidak terlepas begitu saja dari sejarah panjang masa lalu yang dimiliki oleh Iran sebagai sebuah bangsa besar dengan imperium besar Persia. Sebagaimana yang kita ketahui tentang bangsa Persia yang sekarang bernama Iran itu, dalam tulisan yang tercetak pada artefak Silender Tanah Liat yang ditemukan pada abad ke-19 Miladiah, yang ditulis dalam rangka mengabadikan penaklukkan Babilonia oleh Persia pada tahun 539 Sebelum Miladiah, tertulis kalimat, “Aku adalah Cyrus raja agung yang perkasa, Raja Babilonia, Raja Sumeria, dan Raja Akkadia, raja dari empat penjuru dunia..”

Tulisan pada artefak Silinder Tanah Liat itu adalah bukti kebesaran Cyirus The Great dari peradaban Persia Kuno yang monumental. Negeri Persia Kuno adalah sebuah kekaisaran besar yang berpusat di dataran tinggi Iran, terutama yang berada di wilayah Fars Modern sekarang. Negeri Persia Kuno ini didirikan dan mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak pertengahan abad ke-6 Sebelum Miladiah. Negeri Persia Kuno didirikan oleh Cyrus Agung yang membangun pusat kekuasaannya di wilayah Selatan Persia.

Cyrus Agung atau Koresh Agung atau Cyrus the Great/Koresh II adalah pendiri dari kekaisaran Persia Kuno yang bernama Akhemeniyah meneruskan kekuasaan Kaisar Astyges. Kekaisaran Akhemeniyah adalah negara adidaya pertama dalam sejarah peradaban bangsa bangsa di dunia. Kekaisaran ini tidak hanya luas dalam bentang kekuasaan secara wilayah geografis dari India sampai Eropa, juga dengan gemilang telah berhasil menyatukan pusat-pusat peradaban besar dunia di bawah satu atap kekuasaan yaitu imperium Akhemeniyah.

Kejayaan bangsa Asyur yang pernah dan lebih dahulu menguasai Mesopotamia habis tersapu bersih oleh kedigjayaan Akhemeniyah yang kelak lebih populer dengan kekaisaran Persia Kuno. Kekuasaan Akhemeniyah yang dikendalikan oleh kaisar Cyrus membentang luas dari daratan Eropa Timur sampai sungai Indus, yang dijaga dan dirawat secara baik oleh kaisar Cyrus dengan mengedepankan pola kehidupan moderat dan toleran.

Kaisar Cyrus membolehkan penduduk taklukkannya untuk tetap mempertahankan bahasa ibu mereka, tradisi, dan agama mereka, sehingga menciptakan akultrasi budaya dan peradaban yang kaya, sekaligus memperkaya peradaban baru bagi Persia Kuno.

Dalam hal ini, Kaisar Cyirus telah berhasil dengan gemilang menciptakan entitas multikultural baru yang mempesona. Sehingga dalam hal ini, seorang sejarawan Yunani yang bernama Xenophon menyebut bahwa Kaisar Cyrus sebagai penguasa yang melampaui semua raja-raja lain, baik di era sebelumnya. Di era itu, maupun di era setelahnya. Sebelum Cyrus Agung atau Kores II menjadi kaisar Persia Kuno pada tahun 559 Sebelum Miladiah, Cyrus Agung adalah pemimpin suku Parsua yang mendiami wilayah Selatan Persia atau Iran Modern sekarang ini.

Pada saat itu suku Parsua masih berada di bawah bayang-bayang kekuasaan kerajaan Media yang terletak di belahan Utara Persia atau Iran sekarang. Kerajaan Media dengan kekuatannya, telah terlebih dahulu menguasai kota Asyur – Niniveh pada tahun 612 Sebelum Miladiah.

Di samping itu mereka juga menguasai Mesopotamia. Dalam upaya memperluas kekuasannya, raja kerajaan Media yang bernama Astyages menikahkan putrinya yang bernama Mandane dengan raja Persia yang bernama Cambyses I. Dari pernikahan inilah lahir Cyrus II atau Cyrus Agung, tokoh yang kelak menguasai kerajaan Media dan membangun kekaisaran besar Akhemeniyah atau Persia pada zaman itu.

Sebagai kekaisaran besar lebih dari satu milenium, secara umum Kekaisaran Persia dapat dibagi menjadi empat fase kekaisaran, yaitu Akhemeniyah atau Akhemenid, Seleukid, Parthia, dan Sasanian atau Sasanid. Dari empat fase masa kekuasaan kekaisaran Persia tersebut, maka strategi dan sistem pertahanan militer yang paling jitu adalah yang dimiliki oleh kekaisaran Akhemeniyah di era Cyrus The Great atau Cyrus Agung (550 – 330 SM).

Kekuatan strategi pertahanan militer kekaisaran Akhemeniyah terletak pada kombinasi struktur organisasi yang ramping dan rapi, jenis pasukan yang beragam dengan pola yang bervariasi, Unit Elit dan Profesional. Jika dicermati dengan seksama, maka dapat diketahui bahwa struktur organisasi militer Persia Kuno di era kekaisaran Akhemeniyah, dapat disimpulkan memiliki Pola Desimal atau Sistem Bilangan Berbasis 10.

Strategi organisasi militer berbasis Desimal ini, untuk mempermudah koordinasi dan mengendalikan pasukan militer dalam jumlah besar. Sehingga satuan militer di era kekaisaran Akhemeniyah membentuk pola 10 prajurit (Kompi) sebagai unit terkecil, 100 prajurit (Batalion), 1000 prajurit (Divisi), 10.000 prajurit (Korps Sistem).

Kaisar Cyrus The Great membentuk sistem pertahanan militer pada kekaisaran Akhemeniyah dengan membentuk The Immortals (Pasukan Elit Abadi). The Immortals atau pasukan elit abadi ini adalah pasukan ahli yang sangat profesional yang berjumlah 10.000 prajurit. Disebut Elit Abadi, karena jumlahnya wajib tetap 10.000 prajurit, jika ada yang gugur di antara mereka, langsung digantikan oleh prajurit elit lain, sehingga jumlahnya tidak pernah kurang dari 10.000 prajurit.

Anggota Pasukan Elit Abadi pada kekaisaran Akhemeniyah Persia Kuno ini, direkrut dan dilatih sejak mereka masih kanak-kanak berusia 5 tahun. Pasukan Elit Abadi ini, sudah mahir dalam hal memanah, memainkan tombak, keterampilan berkuda, seni bela diri dan keterampilan khusus militer lainnya. Pada sisi yang lain, Pasukan Elit Abadi selalu siaga membawa perlengkapan militer yang dibutuhkan pada zaman itu, seperti zirah atau baju besi yang seragam, busur dan anak panah, tombak pendek, pedang, kapak perang, tali dan lain-lain.

Sistem pertahanan militer kekaisaran Akhemeniyah di era Cyirus The Great, tidak mengandalkan prajurit murni dari Persia semata, melainkan membentuk keragaman prajurit yang direkrut dari prajurit-prajurit taklukkan dari berbagai wilayah, sehingga kemampuan teknik tempurnya sulit diimbangi oleh kekuatan musuh, dikarenakan ada improvisasi gaya tempur dari masing-masing prajurit yang direkrut dari berbagai daerah taklukkan.

Kekuatan pertahanan militer Persia Kuno juga didukung oleh pasukan Kaveleri (berkuda) dan pemanah yang kuat. Taktik pertempuran yang digunakan oleh pasukan Persia Kuno adalah Serangan Terkoordinasi, model serangan cepat dengan pasukan berkuda dan serangan jarak jauh oleh pasukan pemanah. Di samping itu, kekaisaran Persia Kuno juga menggunakan sistem pertahanan berlapis garis depan, tengah, belakang, dan pertahanan garis melingkar. Sistem pertahanan militer seperti itulah yang membuat kekaisaran Akhemeniyah Persia pernah menguasai tiga benua (Eropa, Asia, dan Afrika) pada zamannya.

Kejayaan kekaisaran Persia Kuno masih meninggalkan jejak bangunan sejarah sampai sekarang, seperti gedung Persepolis yang disebut mahkota kekaisaran Achaemenid yang dibangun oleh Darius Agung pada tahun 518 SM, Ziggurat Choqa Zanbil yang masyhur sebagai piramida suci Elam yang terletak di provinsi Khuzestan, Bendungan Sistem Hidrolik Shushtar sebagai bukti kejeniusan teknik sipil Persia Kuno, Naqash-e Rustam yang terkenal sebagai makam para raja di dinding batu, Pasargadae makan Cyrus The Great sang penakluk, Arg-e Bam atau Benteng Bam yang merupakan kota batu bata terbesar di dunia, Dakhma yang populer dengan sebutan Menara Keheningan yang terletak di pinggiran kota Yazid, dan lain-lainnya.

Pada sisi yang lain, negeri Persia juga merupakan tempat lahirnya banyak para ulama Islam, terutama ulama ahli hadist, di antaranya seperti Imam al Bukhari lahir di Bukhara 21 Juli 810 Miladiah, Imam Muslim lahir di Naisabur tahun 822 M, Imam Abu Daud lahir di Sijistan tahun 817 M, Imam al Tirmidzi lahir di Tirmidz tahun 824 M, Imam al Nasa’i lahir di Nasa’ – Khurasan tahun 830 M, Imam Ibnu Majah lahir di Qazwin tahun 824 M, Imam al Darimi lahir di Samarkand tahun 797 M, Imam al Baihaqi lahir di Khasraujird – Baihaq tahun 994 M, Imam al Hakim lahir di Naisabur tahun 933 M, dan lain-lainnya.

Di samping itu ada juga ulama lainnya yang berdarah Persia seperti Imam al Ghazali lahir tahun 1058 M, Imam Ibnu Jarir al Thabari lahir tahun 839 M, Imam Al Sibawaih lahir tahun 760 M, Imam Fakhruddin al Razi lahir tahun1150 M, Syekh Abdul Qadir al Jilani lahir tahun1077 M, Ibnu Sina lahir tahun 980 M, dan lain-lainnya. Dengan demikian, tentunya dapat dipahami, bahwa jika Iran hari ini memiliki kecanggihan teknologi tempur, hal itu tentunya tidak terlepas dari semangat masa lalu Persia sebagai sebuah imperium besar.

Secara historis dan etimologis, Iran adalah “Tanah Bangsa Arya” atau Land of The Aryans. Istilah Iran berasal dari bahasa persia Eran. Dan yang juga menarik, Iran adalah negara yang menduduki peringkat pemilik Intelligence Quotient (IQ) tertinggi ke-4 di dunia, dengan Skor IQ 104,8 setelah Jepang dengan Skor IQ 106,3, China Skor IQ 106,48, dan Korea Selatan dengan Skor IQ 106,97 sebagai skor IQ tertinggi di dunia. Wallahu’alam.

Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |