Data Center Masuk Desa, Rakyat Menderita-Pengusaha Cuan Gede

5 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, raksasa teknologi berlomba-lomba membangun infrastruktur data center berskala besar sebagai penopang.

Investasi jumbo digelontorkan demi ambisi raksasa konglomerasi meraup untung sebesar-besarnya. Janjinya, AI akan membawa manfaat besar bagi perekonomian digital melalui peningkatan produktivitas, efisiensi, dan inovasi.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar untuk mendorong revolusi AI. Kelas pekerja dihantui kecemasan bahwa posisi mereka akan digantikan sistem AI canggih.

Buktinya sudah terjadi di mana-mana. Gelombang PHK terus berlanjut dan perusahaan mengerem perekrutan karyawan baru. Banyak yang terang-terangan menyebut adopsi AI telah memangkas biaya operasional, termasuk biaya untuk tenaga kerja manusia.

Hal ini membuktikan, efisiensi yang positif bagi pebisnis ternyata berdampak buruk bagi masyarakat pekerja kelas menengah-bawah. Banyak lulusan kuliah yang sulit mendapatkan pekerjaan dan terpaksa bekerja di sektor informal yang penuh ketidakpastian.

Belum lagi dampak lain dari AI yang tak kalah merusak, seperti modus penipuan yang kian canggih dan menimbulkan kerugian keuangan dalam jumlah besar, hingga disinformasi yang makin sering ditemui di internet melalui video deepfake.

Petaka Data Center di AS

Kerusakan lainnya berasal dari pembangunan data center AI menjamur di mana-mana. Bagi negara-negara berkembang di wilayah Asia Tenggara, masuknya investasi asing untuk membangun data center kerap dibingkai sebagai hal positif untuk menambah pemasukan negara.

Namun, lagi-lagi ada harga mahal yang harus dibayar, dan sayangnya masyarakat umum yang harus menanggungnya.

Para aktivis lingkungan sudah lama menggaungkan risiko krisis air dan listrik akibat pembangunan data center. Pasalnya, data center membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menjaga server tetap dingin, serta pasokan listrik jumbo untuk menjalankan sistem selama 24 jam penuh.

Dalam periode 2023-2025, jumlah megawatt penyimpanan energi yang sedang dibangun di pasar utama di AS, termasuk Texas, California, dan Virginia, meningkat lebih dari dua kali lipat.

Proyeksi menunjukkan konsumsi energi data center dapat meningkat dari 4% menjadi 12% dari total penggunaan listrik AS pada 2028 mendatang. Di balik statistik ini terdapat kisah-kisah nyata manusia yang menjadi korban.

Salah satunya menimpa pasangan Beverly dan Jeff Morris. Perfect Union, media yang berfokus isu-isu kelas pekerja, mengunjungi langsung kediaman pasangan tersebut di Mansfield, Georgia, AS.

Sebagai informasi, Georgia menjadi wilayah dengan pertumbuhan data center paling tajam. Saat ini sudah ada 105 data center yang berdiri di negara bagian tersebut.

Ada dua alasan yang membuat Georgia ramai diserbu untuk pembangunan data center. Pertama, tarif listrik untuk penggunaan industri di negara bagian tersebut 42% di bawah rata-rata nasional. Kedua, Georgia memberikan keringanan pajak besar-besaran kepada operator data center.

Namun, masyarakat setempat harus menanggung konsekuensi hidup dengan suara berisik tanpa henti, lampu yang terus-terusan menyorot sampai tengah malam, polusi lingkungan, serta kenaikan tagihan listrik gila-gilaan.

'Surga' Jadi 'Neraka' Polusi

Beverly dan Jeff membeli rumah mereka di Mansfield pada 2016 lalu. Mereka memilih hunian di wilayah pinggiran untuk melarikan diri dari kesibukan di Atlanta.

Bagi mereka, sebidang tanah ini bukan sekadar rumah hunian, tetapi juga tempat perlindungan dan fondasi bagi mata pencaharian pertanian mereka.

"Ketika kami menemukan tempat ini, kami memutuskan bahwa inilah tempatnya. Ini sempurna," jelas Beverly dalam sebuah wawancara dengan Ben Lieberman yang dipublikasikan di Perfect Union, dikutip dari Platocom, Jumat (22/5/2026).

[Gambas:Instagram]

Namun, surga pedesaan mereka terganggu ketika Meta Platforms milik Mark Zuckerberg mulai membangun data center raksasa pada tahun 2018 seluas 2 juta kaki persegi atau sekitar 18,5 hektar.

Jaraknya hanya 365 meter dari rumah Beverly dan Jeff. Dampaknya tak main-main. Beverly menunjukkan tekanan air pada keran di wastafel dapurnya yang seperti 'hidup segan mati tak mau'.

Kontaminasi parah membuat Beverly tak bisa mengakses air bersih. Ia dan Jeff harus mengumpulkan air ke dalam botol persediaan untuk penggunaan sehari-hari, seperti menyiram kotoran di toilet.

"Kondisi ini membuat kami frustasi, karena rasanya seperti melawan dinding super tinggi yang tak bisa ditembus. Tak ada yang bisa dilakukan, dan mereka [Meta] tidak peduli," kata Beverly kepada Ben Lieberman, dikutip dari unggahan video di akun Instagram Perfect Union.

Saat masyarakat menanggung penderitaan besar, Meta malah membukukan pemasukan bersih yang tumbuh signifikan hingga US$62,4 miliar pada 2023, atau naik 60% dari tahun sebelumnya.

Untuk membangun data center raksasa yang bertetangga dengan hunian Beverly dan Jeff, Meta harus menebang pohon-pohon pinus dan menggantinya dengan bangunan sumber polusi. Ekosistem lokal rusak dan lanskap wilayah pedesaan berubah drastis.

Bukan cuma polusi udara, polusi cahaya juga terus-terusan mengganggu kehidupan Beverly dan Jeff di malam hari. Hal ini menjadi disrupsi terhadap siklus natural siang dan malam. "Cahayanya terang sekali," ujar Beverly.

Ia juga memperlihatkan video yang diambil saat konstruksi data center raksasa itu berlangsung. Tampak dari jendela rumahnya deburan debu yang tebal dan membuat area tempat tinggalnya penuh kabut. "Ini semua gara-gara Meta," ujarnya.

Gara-gara Meta, konsumsi listrik di Mansfield meningkat 34%, mencapai 14,975,435 MWh pada 2023. Konsumsi air meningkat hingga 200 juta galon setiap tahunnya.

Kemunculan data center raksasa Meta menimbulkan tekanan signifikan pada infrastruktur lokal di pedesaan, yang memang tidak pernah dirancang untuk mengakomodasi industri besar.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |