Diam-Diam Iran Bentuk Pasukan Rahasia di Irak, Negara Ini Jadi Target

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) diduga membentuk sejumlah sel rahasia baru di Irak untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat (AS).  Informasi ini diungkap delapan sumber Irak kepada Reuters dan disebut sebagai bagian dari perubahan strategi Teheran untuk mempertahankan pengaruhnya di kawasan.

Menurut sumber tersebut, tiga hingga empat sel rahasia yang masing-masing beranggotakan sekitar 10 pasukan Syiah Irak elite telah melancarkan sedikitnya tujuh serangan drone dari wilayah gurun dekat Basra dan Samawa. Sasarannya antara lain adalah Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA), pada periode 20 April hingga 17 Mei.

"Kelompok-kelompok baru yang dibentuk oleh IRGC tampak lebih kecil, lebih keras secara ideologis, dan lebih terkontrol ketat, mencerminkan kebutuhan Iran untuk menghemat sumber daya di tengah tekanan ekonomi," ujar pensiunan jenderal Irak sekaligus pengamat kelompok bersenjata Syiah, Jasim al-Bahadli, dikutip Sabtu (20/6/2026).

Sejumlah anggota sel tersebut disebut berasal dari kelompok payung milisi Syiah garis keras Perlawanan Islam di Irak. Namun, mereka dilaporkan beroperasi di luar struktur komando organisasi tersebut dan melapor langsung kepada IRGC.

Langkah ini dinilai mencerminkan penyesuaian strategi Iran di tengah melemahnya jaringan proksi regional yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung pengaruh Teheran di Timur Tengah. Sejumlah kelompok yang selama ini dekat dengan Iran di Irak bahkan mulai menunjukkan keinginan untuk melepaskan senjata dan lebih fokus pada aktivitas politik domestik.

Dua kelompok bersenjata berpengaruh, Asaib Ahl al-Haq dan Brigade Imam Ali, bulan ini mengumumkan rencana menyerahkan persenjataan mereka kepada pemerintah Irak. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya tekanan berulang dari AS agar Baghdad membubarkan kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di luar kendali negara.

Di sisi lain, Presiden AS dan Iran baru saja menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Namun, pejabat Iran menegaskan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok yang mereka sebut sebagai "kelompok perlawanan" tidak termasuk dalam agenda pembahasan kesepakatan tersebut.

Departemen Luar Negeri AS kembali menegaskan harapannya agar pemerintah Irak segera mengambil langkah konkret untuk membongkar seluruh jaringan yang dianggap menjadi instrumen destabilisasi Iran di negara tersebut, termasuk IRGC dan milisi yang bersekutu dengannya.

Dalam pertemuan antara Perdana Menteri (PM) Irak Ali al-Zaidi dan utusan AS Tom Barrack awal pekan ini, kedua pihak membahas rencana pelucutan senjata dan pembubaran seluruh kelompok bersenjata yang berada di luar kendali negara. Pemerintah Irak juga berkomitmen memastikan wilayahnya tidak digunakan untuk mengancam keamanan kawasan.

Menurut sumber keamanan Irak, kelompok-kelompok baru tersebut setidaknya melakukan tiga serangan drone ke Kuwait, dua ke Arab Saudi, dan dua ke UEA. Salah satu target yang disebut adalah Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS. Namun Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen laporan tersebut.

Pejabat Irak menilai pembentukan sel-sel baru itu bertujuan memberikan ruang penyangkalan bagi Iran, sehingga serangan tidak langsung dikaitkan dengan milisi besar yang selama ini dikenal dekat dengan Teheran. Aparat keamanan Irak kini tengah menyelidiki rantai komando kelompok-kelompok tersebut guna mencegah serangan serupa di masa depan.

Perang yang melibatkan Iran sebelumnya telah mengguncang kawasan penghasil energi terbesar dunia. Gangguan pasokan energi dan lonjakan harga komoditas sempat meningkatkan tekanan inflasi global. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Teheran juga memicu kekhawatiran pasar karena jalur tersebut dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Munculnya sel-sel baru pro-Iran ini menjadi tantangan awal bagi pemerintahan Zaidi yang baru menjabat bulan lalu. Selain berpotensi memperumit hubungan Baghdad dengan Washington, aktivitas kelompok tersebut juga dapat mengganggu upaya Irak mempererat hubungan dengan negara-negara Teluk seperti Kuwait, Arab Saudi, dan UEA.

Ketiga negara Teluk itu bahkan telah memanggil perwakilan diplomatik Irak pada April lalu untuk menyampaikan protes atas serangan yang diduga berasal dari wilayah Irak. Pemerintah Irak kini juga menyelidiki kemungkinan keterkaitan kelompok baru tersebut dengan serangan drone pada 17 Mei yang memicu kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah di UEA serta serangan drone yang berhasil dicegat Arab Saudi pada hari yang sama.

(tfa/sef/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |