Dirut PTBA Blak-blakan Kondisi Cadangan Batu Bara, Segini Jumlahnya

7 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Bambang Ismawan mengungkapkan cadangan batu bara yang dimiliki perusahaan masih relatif kecil, terutama apabila dibandingkan total cadangan batu bara nasional.

Bambang mengatakan bahwa PTBA saat ini memiliki sumber daya batu bara sebesar 5,71 miliar ton, sedangkan cadangannya mencapai 2,88 miliar ton.

"Izin melaporkan bahwa PT Bukit Asam saat ini memiliki sumber daya batu bara berjumlah 5,71 miliar ton dan cadangan 2,88 miliar ton," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, dibandingkan dengan cadangan nasional yang mencapai sekitar 97,96 miliar ton, porsi cadangan PTBA hanya sekitar 9,01%. Sementara itu, porsi sumber daya PTBA disebut hanya sekitar 5,83% dari sumber daya batu bara nasional.

"Kemudian, sumber dayanya lebih kecil lagi, hanya 5,83%. Di mana cadangan nasional mencapai 97,96 miliar ton, tetapi yang dimiliki oleh PT Bukit Asam hanya 5,71 miliar ton," kata dia.

Bambang menilai kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat PTBA merupakan satu-satunya perusahaan batu bara milik negara. Dari sisi produksi pun, posisi PTBA saat ini berada di peringkat kelima dibandingkan sejumlah perusahaan batu bara besar lainnya.

"Demikian juga produksi batu bara. PT Bukit Asam berada di posisi kelima dibandingkan perusahaan-perusahaan sejenis. Yang pertama dari PT Bumi Resources, kemudian Adaro Indonesia, Bayan Group, Sinar Mas Group, dan yang kelima PT Bukit Asam. Jadi kita posisinya kelima," paparnya.

Selain persoalan cadangan, ia juga menyoroti pelaksanaan penjualan batu bara untuk kepentingan domestik (DMO). Berdasarkan ketentuan, kewajiban DMO berada di angka 25% dari produksi.

Namun demikian, PTBA selama ini disebut selalu merealisasikan DMO jauh di atas ketentuan tersebut, bahkan mencapai lebih dari 54%.

"Pada tahun 2025 sebagai gambaran dari tahun 2021 sampai 2025 seperti ada yang di tabel, itu selalu 2 kali lipat lebih dari 25% yang diharuskan. Dan kita pernah mencoba berapa penurunan profit karena kita melebihi 25%," katanya.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |